Hi Manusia Single..

Diskusi, orasi, puisi, status di Facebook, cuitan di Twitter, caption di Instagram, lirik lagu dalam sebuah lagu dan sebagainya merupakan sarana manusia untuk menuangkan suasana hatinya.

Ada banyak ragam suasana hati yang terwakili oleh hal-hal tersebut di atas. Salah satu hal yang kerap terwakili adalah kegelisahan yang dialami oleh manusia.

Kegelisahan atau keresahan itu, kadang tak mampu dipendam dan dibiarkan menghilang. Oleh karena itu, mereka yang tak mampu meredam keresahannya itu berkarya dalam beragam bentuk.

Hingga karya yang sudah tertuang itu akhirnya diketahui, dicerna, dipahami orang lain hingga akhirnya menuntun pada ragam pilihan respon. Pilihan respon pun beragam, mulai caci maki, pujian, kritik membangun, like, share, dan sebagainya.

Dulu saya pernah menulis perihal pembelaan terhadap manusia single. Karena dokumentasi artikel yang kurang bagus, artikel itu hilang entah kemana huehuehuheu.

Akhirnya ada juga yang menuangkan keresahannya atas ragam pertanyaan kepada manusia single. Seperti tulisan di bawah ini. Tulisan salah seorang teman yang mungkin sudah jengah terhadap beragam pertanyaan yang menyudutkan manusia single.

Baiklah, berikut ini guest post pertama di blog awuwwuwuw ini. Nama penulis sengaja meminta dianonimkan. Dia seorang pemalu.

Nah melalu tulisan ini pula saya membuka kesempatan kepada teman-teman yang ingin menulis guest post secara anomnim guna menuangkan keresahannya, bisa menghubungi saya via dm Twitter atau Instagram.


Hello, Apa Kabar? Sudah Laku?

Sapaan di atas jika digunakan untuk menanyakan suatu produk, sudah jelas maksudnya apa. Biasa dong ya, kalimat seperti ini kita dengar dalam obrolan antar pengusaha, pedagang, sales, makelar atau yang berkaitan dengan dunia jual beli.

Tokopediaman : Hello, apa kabar? Sudah laku?

Shopeeman : Sudah donk. Rumah yang aku tawarkan kemarin itu kan? Udah laku dibeli konglomerat kota sebelah. Harga 2 M terjual bersih.

Tokopediaman : Mantaaaaps.

Tapi apa yang terjadi bila kalimat tanya “Hello, apa kabar? Sudah laku?” terucap dari seseorang dengan maksud menanyakan status pernikahan orang lain?

Kalau sapaan itu terjadi antara dua orang yang bersahabat karib, biasa bercanda dan biasa saling misuh-misuh satu sama lain, paling berlanjut dengan saling bully secara verbal hingga ngakak dengan biadab. Tapi biasanya yang bisa ngobrol macam ini adalah makhluk berjenis kelamin kambing jantan.

Selebgram : Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Sobat Misquen : Wah belum, masih jomblo nih. Lah kamu sendiri emangnya udah laku?

Selebgram : Belum juga sih, masih perlu dipromosiin habis-habisan kayaknya 😀

Sobat Misquen : Sabar ya mblo… huehehehe….

kemudian mereka berdua melipir di pasar loak mencari hape bekas yang bisa jadi barang curian

Sekarang bayangkan jika sapaan itu terjadi antara dua orang wanita, yang sudah lama tidak berjumpa, lalu salah satunya memulai percakapan melalui Whatsapp dengan sapaan pertama

Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Eh sebelumnya kamu sudah tahu kan kalau ada tiga pertanyaan yang mudah memicu mood buruk bagi seorang wanita, yaitu berat badan, status pernikahan dan usia. Beda dengan lelaki yang lebih cuek pada pertanyaan semacam itu.

Kalau mau tahu seperti apa efeknya, coba deh saat bertemu seorang wanita, kamu sapa dia dengan kalimat

“Hai… Apa kabar? Kok kamu gendutan sih?”

Lalu siap-siap saja lah kamu temukan ekspresi super bete atau kalau lagi sial, langsung kena semprotan kata-kata pedas menusuk jantung.

Atau coba deh kamu sapa seorang wanita dengan kalimat

“Kamu apa kabar? Eh sudah nikah apa belum? Ingat umur lho”.

Bisa jadi kamu langsung kena jurus tikaman tak terlihat yang meluncur dari pandangan mata cewek itu.

Pola komunikasi yang terjadi di Indonesia sering kali masih mengedepankan sapaan bernada kepo. Basa-basi busuk yang beraroma mau tahu aja urusan hidup orang lain. Ya meskipun nggak bisa disamaratakan, karena bergantung pada lingkungan orang yang bertanya itu tumbuh dan berkembang.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana sebaiknya bertanya pada orang lain. Karena apapun pertanyaan dari orang lain, keputusan untuk cuek, bete, santai atau marah kan tergantung pada yang pilihan kita. Emosi itu pilihan kok…

Tapi saya ingin memberi alternatif jawaban kalau pertanyaan itu muncul dari wanita dan anda juga seorang wanita.

Kalau yang bertanya juga single,

Markonah : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Kokomun : Kabar baik. Owh kamu udah laku ya? Dikasi harga berapa kemarin?

Kalau yang nanya sudah menikah,

Surtini : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Bu Dendhy : Baik donk. Kan tinggal nunggu kamu siap punya madu.

Kalau yang nanya nenek-nenek,

Mak Bongky : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Mantili : Baik, Nek. Nenek udah dapat panggilan?
Mak Bongky : Lho panggilan dari siapa?
Mantili : Panggilan untuk pulang ke rahmatullah.

Kamu punya ide jawaban lain yang lebih awuwuwu?

Anyway, dialog diatas itu hanya ide aja sih… Lumayanlah buat bikin jera si penanya. Karena ada sebagian orang yang nggak sadar kalau pertanyaan pembuka percakapannya membuat suasana menjadi awkward dan memberi pukulan telak pada benteng pertahanan bendungan air mata.

Apalagi kalau setelah itu dengan polosnya dia bilang,

“Wooii nyet, aku butuh bantuanmu nih”.

Ngoaaahahahahaha mending yang nanya disuru mbecak hijrah ke planet Mars.


Okay sekian saja guest post ini tersaji. Moga ada manfaat yang bisa dipetik. Sebelum mengakhiri ada sedikit titipan quote dari ingatan saya perihal pernikahan ini,

Pernikahan bukanlah perlombaan, tak perlu gusar balapan mencapai garis finis pelaminan. Jika saat ini sudah bisa merasai kebahagiaan tanpa menjalani pernikahan, lantas buat apa mati-matian mengikuti perlombaan?

Quote di atas bukan hendak mengutarakan bahwa pernikahan itu tidak penting. Namun sebuah pesan untuk menyuntikkan kesadaran diri saat ini sudah mencapai tahap apak kebutuhan terhadap pernikahan, wajib, sunnah, mubah, makruh atau bahkan haram.

Hmmm giamana mau menikah mimpi basah saja belum.

Salam,

Kepala KUA wilayah Atlantis

Hi Celcius

Baru saja beberapa teman mengabarkan temperatur udara di wilayahnya berada di bawah 20° celcius. Sedangkan di Malang mencapai suhu 14° celcius.

Pantas saja tak seperti biasanya ketika saya pulang ke Malang. Kali ini temperatur boleh dibilang cukup ekstrim.

Tidur di kamar lantai dua. Terbangun menjelang shubuh. Kaki serasa dibalur air es. Dingin menyusruk hingga ke tulang. Rupanya saya sudah tak terlalu kuat menanggung temperatur dingin.

Temperatur di bawah 20° celcius ini sukses membuat hidung saya bersin-bersin. Perlu waktu lebih lama lagi untuk beradaptasi dengan cuaca kota Malang.

Airnya jangan ditanya lagi. Tinggal dicampur serutan daging degan sudah jadi es degan. Tak berani mandi dipagi hari. Mending kruntelan selimut dan guling di kamar.

Untunglah saya dilahirkan dalam bentuk makhluk mamalia. Seandainya saja hadir di dunia melalui mekanisme pecahnya cangkang telur kura-kura, tentu saya sudah berhibernasi guna mengurangi pemborosan energi.

Kabarnya suhu dingin yang dialami di beberapa wilayah di Bumi ini terkait fenomena Bumi berada pada lintasan terjauh dari Matahari. Kemudian imajinasi saya berkhayal hingga jaman es. Bisa jadi kebekuan yang diderita bumi waktu itu karena radius perputaran Bumi mengelilingi Matahari begitu jauh.

Hmm rupanya khayalan saya itu sebatas khayalan saja. Ternyata Bumi mengalami jaman es karena proses pendinginan aerosol yang sering terjadi di Bumi.

Tahun 2007 disimpulkan pemicu dimulainya zaman es akibat meletusnya gunung Toba 75 ribu tahun yang lalu yang menyebabkan atmosfer dipenuhi debu sulfur vulkanik dalam jumlah besar, dan bumi mengalami penurunan suhu yang ekstrem.

-wikipedia-

Nah, ternyata Bumi mengalami jaman es karena atmosfer Bumi terselubungi oleh awan akibat letusan gunung berapi. Hal ini menyebabkan sinar Matahari tak bisa mencapai permukaan Bumi.

Bumi mengalami penurunan temperatur. Dataran dan lautan tertutup oleh es. Kemudian atlet ski mulai beraksi. Baskin Robin dan Es Kepal Milo mendadak tak laku di jaman es.

Seru juga kali yaa kalo jaman es terulang lagi. Heueheu…

Oke deh mari kita tonton video pendek dari film Ice Age. Selamat menonton..

Salam,

Monster Gunung Krakatau

Hi SJ-250..

SJ-250 dengan kode booking HNAUVQ. Penerbangan jam 7 pagi dari Jakarta menuju Malang.

Ditulis sambil nunggu waktu boarding. Masih 30 menit lagi. Kali ini ngambil bangku 32D. Nomor dua dari belakang.

Heleh kakehan gaya mau numpak pesawat ae pake update postingan segala. Lhoo yaa ben tho, ini kan semacam insta Story anak IG itu lho. Tapi dalam bentuk postingan WordPress. Tsaaaah.

Owh iyaa SJ itu kode penerbangan maskapai Sriwijaya. Kalo QG itu kodenya Citilink. JT itu untuk Lion Air. Nah kalo SQ itu Singapore Airlines. Kalo EEK itu yaa mending di toliet, bukan wastafel.

Pas nulis ini saya jadi keingetan kali pertama naik pesawat. Tahun 2004 dari Surabaya menuju Jambi. Dengan rute transit dulu di Soekarno Hatta, Jakarta.

Maskapainya kalo gak salah Batavia Air. Yhaa sekarang Batavia Air sudah pailit. Pengalaman pertama naik pesawat itu bikin deg-degan. Tapi masih kalah deg-degannya kalo dibandingin dengan malam pertama setelah ijab qobul, awuwuwuuw.

Lho iyaa ini kok udah dipanggil untuk masuk pesawat, padahal belum puas nulisnya heueue.

Yhaa wes saya tak masuk pesawat dulu. Saya enggak tega membuat mbak-mbak pramugarinya menunggu terlalu lama.

Sip, doakan selamat sampai tujuan dan nanti orang yang duduk di sebelah saya mirip dengan Sara Underwood, 👩‍🚀👩‍🚀


Oke update dikit karena udah sampe bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Jadi tadi pas udah masuk pesawat, ternyata antri untuk penggunaan landasan pacu.

Saya sampe ketiduran. Kebangun, kirain udah sampe di tempat tujuan. Hyaaaah ternyata malah belom take off. Mayan lama juga waktu antrenya. Hampir setengah jam.

Baru keinget kalo guncangan pesawat di bagian belakang tuh terasa banget. Pas take off dan landing terasa bangeeet goyangannya.

Tapi nih Alhamdulillah sampe di Malang selamat aman sentausa. Begitu sampe di Malang, saya disambut dengan tusukan hawa dingin di kulit. Nampaknya Malang mulai menunjukkan wajah aslinya sebagi kota yang dingin, hmmm enak buat kelonan niiih 😚😚.

Harapan saya sebelum naik pesawat tak terjadi. Sebelah saya di kursi 32E seorang pemuda tanggung tipikal anak gaul Jakarte, bukan cewek cantik macam Sara Underwood. Ketika melihat saya asyique membaca artikel offline di Medium, si anak gaul itu bertanya, “bro password wifi pesawatnya apa yaa? Lu pake airplane mode kok masih bisa browsing.”

Haeesss, maskapai Sriwijaya Air sekarang sudah melengkapi armadanya dengan fasilitas hiburan WiFi. Sriwijaya Air menggandeng Airfi untuk sarana hiburan penumpang selema di pesawat menggunakan smartphone masing-masing.

Tapi yaa gitu pas saya coba melihat menu hiburan yang disediakan, saya merasa lebih baik nonton film, ebook, artikel yang sudah saya download sebelumya. Meskipun begitu, usaha dari pihak Sriwijaya Air untuk memberikan fasilitas lebih kepada pelanggannya perlu diapresiasi.

Salam,

Pilot pesawat telepon

Hi, 12287..

Segera buka program Microsoft Excel di komputer Anda, Kemudian ketikkan formula di bawah ini pada cell B3,

=DATEDIF(B1,B2,”d”)

Pada cell B1 masukkan tanggal lahir Anda. Sedangkan pada cell B2 masukkan tanggal hari ini. Maka formula Excel di atas akan memberi tahu Anda jumlah hari yang sudah Anda lalui hingga detik ini. Owh iya untuk format penulisan tanggalnya mohon disesuaikan dengan settingan komputer masing-masing yaaa.

Dan sesuai dengan judul tulisan ini, maka hingga hari ini sudah 12287 yang sudah saya lalui. Banyak juga yaa, atau boleh dibilang sudah cukup berumur yaa.

Belakangan ini, dalam menulis jurnal, saya menuliskan nomor hari di bagian awal. Sebenarnya sih lebih mudah dan praktis menggunakan tanggal, bulan dan tahun. Tapi dengan menuliskan jumlah hari yang sedang dilalui seperti memberikan optimisme tersendiri dalam melalui hari. Bilangan hari itu seperti berbicara kepada saya bahwa ada kesempatan baru untuk dilalui dengan penuh rasa syukur.

Saya nulis ini sebenarnya untuk catatan pribadi mengenai fungsi Excel yang jumlahnya buaaanyaaak itu. Dan kurang kejaan banget kalo dihafalin semuanya, yaaa kan yaa kan? Sebelum tahu kalo ada formula penghitungan jumlah hari di Excel saya menggunakan layanan dari web daysold untuk menghitung jumlah hari.

Mengingat di tahun-tahun awal kerja saya begitu intens berinteraksi dengan formula-formula Excel, maka tadi pagi saya iseng kepikiran ada gak sih yaa kira-kira formula Excel untuk menghitung hari. Lhhooo yaa ternyata ada.

Gara-gara dulu teknik memanipulasi formula Excel lumayan jago sampe ke ranah Macro, maka saya suka menyebut diri saya sebagai Excel engineer. Tapi sekarang kemampuan bermain formula Excel itu memudar karena jarang dipakai.

Ternyata dalam dunia kerja kantoran tuh yaa, tools yang paling sering digunakan dan begitu powerful adalah Microsoft Excel, bukan Microsoft Word. Microsoft Word powerful kalo kita berprofesi sebagai penulis.

Jadi, kalo dirimu saat ini masih berada pada rentang masa studi dan kelak ingin menjajaki dunia kerja, sedikit saran dari saya pelajarilah Microsoft Excel. Enggak ada ruginya kok belajar tools ajaib ini huehuehue.

Yhaaa misalnya di dunia kerjamu ntar ndak butuh Excel, paling enggak kamu bisa melakukan budgetting dan planning biaya pernikahan menggunakan Microsoft Excel.

Tapi yaa gitu, sebelum membuat budgetting dan planning biaya pernikahan, mohon dipastikan dahulu calonnya sudah siap. Yhaa yhaa saya ndak membully lhoo yaa, hanya memaparkan opini.

Salam,
Wakil Kepala Kantor KUA Cabang Kutub Selatan

 

Hi, One Piece..

Hari ini saya mengalami anomali. Kepagian sampe kantor. Biasanya telat satu sampai dua jam. Karena datangnya kepagian, jadilah sebelum jam pulang goal pekerjaan hari ini sudah selesai. Marvelous.

Mau pulang tapi males. Haqqul yaqin deh sampe di kosan nanti bakal bengong, mati gaya. Paling banter ngupil sambil baca buku Kaweruh Jiwa. Ngehehehe ini aslinya saya mau pamer kalo lagi baca buku berat. Padahal yaa enggak mudheng.

Nah kan jarang-jarang lho ini saya melakukan hal-hal yang berfaedah seperti menulis di waktu luang. Biasanya liat-liat Youtube Channel Unboxing Hape yang ga bakal kebeli karena mahal ndak masuk akal. Channel yang lain yaa channel tentang One Piece Theory.

Asli lah liat predikisi, analisa, kengawuran, khayalan Youtuber yang tentang One Piece itu seperti mendapatkan pencerahan. Bagi saya yang punya struktur syaraf otak sederhana, jalinan cerita One Piece itu sungguh ruwet. Kadang saya sampe ndak paham ini ceritanya bakal mengarah ke mana. Yaah paling banter saya cuman paham pas bagian Luffy, Zorro, atau Sanji lagi berantem.

Gedebak-gedebug, tusuk, tendang, pukul, sundul, dan segala macam jurus tokoh One Piece ketika bertarung itu mencerahkan. Hoo yhaa kan, pencerahan itu tak selalu datang melalui ceramah dan ocehan para motivator atau dukun. Pencerahan ultimate yang didapat dari petarungan di anime adalah ketika jurus dilesakkan dengan mengucapkan.

Seperti sesi pertarungan Luffy vs Bellamy yang selesai dengan sekali pukul. Nih link yutubenye sekalian saya emmbeded kan. Sip tonton yaa, jangan lupa pencet tombol play.

Atau seperti saat Luffy melesakkan jurus Gomu-gomu no Gattling Gun ke tubuh Crocodile. Ini pertarungan pertama paling epic dalam sejarah serial One Piece, silahkan disimak video pertempurannya di bawah ini.

Lho yaa saya sampe salah ngasi link video Youtube. Video di atas tuh pertarungan Luffy vs Rob Thomas Lucci. Pertarungan ini juga menarik karena Oda Sensei kali pertama memperkanalkan konsep Gear Luffy. Saat itu jurus Haki masih belom ada.

Bulan Agustus ini One Piece sudah memasuki arc paling epic dalam sejarah One Piece. Arc Wano digadang-gadang oleh Oda Sensei bakal menjadi arc paling megah dalam serial One Piece. Oda Sensei dalam mengarang One Piece konyol juga, hingga saat ini plot akhir One Piece belum jelas akan bagaimana. Banyak peluang twist alur.

Seperti rencana awal One Piece yang sebenarnya berakhir di arc Alabasta. Ternyata rencana itu malah mbleber sampai sekarang. Sudah dua puluh tahun serial One Piece ini mengudara.

Kepada emak-emak yang tanpa sengaja membaca tulisan tentang One Piece ini, pasti enggak paham saya lagi bahas apaan kan? Tapi begini yaa mak emak, jika suamimu atau anakmu menggemari kisah One Piece maka biarkan saja mereka menikmati keseruannya. Perihal Nami, Nico Robin, Shirahoshi, Boa Hancock yang digambarkan over seksi itu tak akan ada di dunia nyata. Karena jika dilihat sekilas, siluet tokoh-tokoh wanita seksi itu mirip sepasang sumpit menggapit pentol kembar.

Haess nampaknya paragraf di atas terlalu sensitif yang membuka peluang diserang oleh sahabat-sahabat feminis garis keras, garis lunak, garis lengkung, garis zigzag, gari lucu, ahh kamu gak lucu mas.

Yak, waktu Indonesia bagian Jakarta sudah memasuki waktu maghrib. Ini artinya sesi tarung derajat menulis brutal ini harus saya akhiri.

Anyway, karena lagi adzan (duuh ini tak layak dicontoh, udah adzan kok lanjut nulis terus) saya jadi ingat ketika tahun 2008 atau 2009 ada kegemparan yang dihadirkan oleh sebuah buku. Intinya buku itu membahas bahwa dunia akan kiamat pada tahun 2012.

Saat itu saya memberi tahu adik saya yang komikus terkenal itu lho, tapi dia enggak mau terkenal, kalau dunia akan berakhir di tahun 2012. Dengan enteng dia menjawab, “Gak opo-opo wis bumi kiamat tahun 2012, sing penting One Piece kudu wes tamat.

Oke saatnya sholat maghrib.

Salam,
Marshall d. Teach

Hi, August..

Pagi tadi, sekonyong-konyong ada suara dalam kepala saya berbisik, “Bulan Agustus ini ente harus mulai nulis lagi…”

Ente sudah terlalu lama hiatus tanpa tulisan,” imbuhnya di sela-sela saya menyelesaikan pekerjaan kantor.

Iya juga ya, jika ditelusuri dalam kuantitas waktu, rasanya sudah hampir satu tahun saya berhenti menulis. Maksudnya rutin menulis di blog. Nah kategori rutin itu sendiri perlu didefinisikan lagi. Nanti lah lain kali kita definisikan term rutin itu aturan mainnya seperti apa.

Beberapa hal menjadi jelas ketika saya mulai menulis lagi di kali ini. Pertama, rasanya jemari ini kaku sekali untuk mulai mengetik dan menumpahkan isi pikiran.

Kedua, selama periode vakum menulis, ada saja sebenarnya opini, pemikiran, pendapat, kejadian, pengalaman dan sebagainya yang cukup menarik untuk diceritakan dalam bentuk tulisan. Namun, saya merasa pikiran kelu untuk menuliskan hal-hal itu.

Ketiga, otak atau pikiran serasa tumpul. Maksudnya begini, selama vakum menulis saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Dari artikel receh sampai buku dengan genre yang lumayan berat. Nah, salah satu metode untuk menajamkan pikiran adalah dengan menuliskan lagi bangunan pemahaman dari berbagai hal yang menjadi input pikiran.

Keempat, mengikis sifat perfeksionis. Yuhuuu ini dia salah satu penhambat untuk menulis. Dulu sejak memiliki blog dengan domain sendiri, saya inginnya tulisan yang terbit di blog itu harus sempurna tanpa cela. Ternyata menggapai kesempurnaan adalah sebentuk kemustahilan.

Kelima, membekukan percikan ruh. Pendapat ini semacam terlalu filosofis. Namun, saya memiliki pendapat bahwa pancaran ruh dalam diri manusia itu berkorelasi terhadap waktu. Percikan-percikan ruh itu bisa diabadikan salah satunya dalam bentuk tulisan. Saya percaya ruh itu abadi karena berasal dari-Nya.


Oke lah yaa lima hal yang saya alami selama berhenti menulis rasanya cukup sebagai pemanasan kembali menulis di bulan Agustus ini. Anggap saja ini sebagai come back nya saya di dunia wordpress.

eheeum, Hi bulan Agustus tak usah malu-malu menyapa, kami akan menerima dirimu apa adanya.

Salam,

DiPtra.

Ketika Dingin Menyapamu, Berlagaklah Sebagai Abang Ojeg

Kamu tahu, jika hipotermia tak segera ditangani, maka perlahan-lahan akan menghantarkan penderitanya pada gerbang kematian. Aku sendiri sudah lama tahu akan hal ini, khususnya ketika menonton film Vertical Limit.

Tapi memang aku sendiri sedang merasa kurang kerjaan menulis hal-hal semacam ini, walau sebenarnya pekerjaan sedang menumpuk di sudut meja. Biarlah, biarakan mereka -tumpukan pekerjaan itu- merasa diabaikan sejenak. Aku tahu mereka itu layaknya perempuan puber, jinak-jinak tahi ayam. Ketika dicuekin malah semakin meminta perhatian, menjadi semakin ganjen.

Bersyukur sekali aku tak sampai mengalami hipotermia dalam ruangan. Rupanya bertahun-tahun hidup di Jakarta yang terkenal sangar akan suasana gerahnya telah merubah presepsi ujung syaraf Rufini dan Krause di permukaan kulitku.

Ujung syaraf Krause menjadi lebih sensitif terhadap dingin. Sedangkan ujung syaraf Rufini menjadi lebih kebas terhadap panas. Ketika pulang ke Malang, aku merasa begitu kedinginan. Padahal dulu sebelum hijrah ke Jakarta, aku merasa nyaman-nyaman saja terhadap kondisi temperatur kota tercinta itu. Tapi asal kamu tahu saja, nilai pelajaran Biologiku pas-pasan.

Hipotermia? hmmm yaa tepat di atas kepalaku semanjak hari Senin lalu, menyembur udara yang sudah mengalami proses perpindahan kalor melalui kondesor. Udara itu menjadi terlalu dingin menerpa pori-pori kulit kepalaku.

Coba perhatikan foto di bawah ini, suram sekali rasanya ketika melihat muara pendingin ruangan sampai mengembun. Ditambah dengan dislokasi perilaku ujung syaraf Rufini dan Krause di sekujur permukaan kulitku, maka menggigillah tubuh berusia tiga puluh tahunan ini. hmmm yaa aku tak lagi muda-muda banget, sudah mulai memasuki area usia Oom-Oom. Lebih tepatnya Oom-Oom rasa Mas-Mas. Mohon hentikan niatanmu untuk berunjuk rasa atas statement nggaphleki ini.

Ketika keluar ruangan demi menyerap hangat mentari, aku merasakan tubuh ini menghangat. Bahkan cenderung panas. Jadi tak salah rasanya jika istriku menyebutku hot Oom-Oom of the year. Damn, satu rahasia kampretku terkuak lagi.

WhatsApp Image 2017-08-22 at 18.39.01
Udara mengembun di sekitar muara pendingin ruangan

Kenyamanan kerja tentu berbanding lurus dengan kondisi badan. Ini memang tampak manja sekali, tapi beginilah kenyataannya.

Coba saja kamu ingat-ingat ketika tubuhmu sedang menderita influenza, kemudian dipaksa oleh Ibu Guru Cantik pengajar Matematika di SMA mengerjakan persoalan kalkulus integral pangkat tiga pada angka-angka imajiner.

Yaaak belum selesai mengerjakan kerja rodi kalkulus itu, pasti kamu pingsan dan digotong kawan-kawan sekelasmu ke UKS. Kamu pingsan bukan karena tak bisa mengerjakan soal itu, tapi lebih karena kamu nervous berada di dekat Ibu Guru Cantik yang diam-diam kamu taksir itu. Lagu lama anak SMA.

Sama halnya dengan dunia kerja, tempat kerja yang membuat badan meriang tentu akan menghadirkan ketidaknyamanan saat berkarya. Temperatur dingin yang berlebihan bagiku cukup menyiksa.

Apalah daya, jaket bertudung warna kelabu yang kumiliki sedang berteduh di laundry langganan. Sudah lebih dari tiga hari, harusnya sudah selesai. Hanya saja aku malas untuk mengambilnya.

Aku kedinginan. Mau berpelukan dengan teman sekantor rasanya kok aneh. Kami bukan sekumpulan Teletubbies. Minum kopi pahit ternyata tak bisa menghangatkan badan. Mamang penjual bandrek tidak beroperasi di sekitar tempat kerjaku.

Tak kurang akal, aku bertanya kepada Ronaldo, rekan kerjaku yang ginjur-ginjur itu. Seingatku dia punya spare helm yang ia taruh di dalam lemarinya di kantor. Lemari itu tepat di belakangnya.

“Do, pinjem helm lu dong. Masih ada di sini gak..?” tanyaku tanpa pikir panjang kepada Ronaldo. Aku kedinginan, harus berpikir tan bertindak cepat sebelum kutu-kutu dirambutku hijrah ke hutan tropis yang lebih hangat di lapangan depan kantor.

“Ada bang, nih pake aja,” sahut Ronaldo sambil menyerahkan helm hijau full face mirip helm yang biasanya dibawa oleh abang-abang ojeg online. There you goo beginilah kira-kira penampakanku ketika tak kuat menahan dingin di dalam ruangan kerja. Aku berlagak seperti abang ojeg

Abaikan tempat kerjaku yang semrawut. Fokuslah pada kakiku yang tanpa alas kaki

Semoga tulisan singkat ini sedikit menghibur hatimu. Beginilah diriku, ketika sedang butuh hiburan, aku malah berindak sedikit absurd.

Salam,
DiPtra


Featured Image by Noah Silliman on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Follower Banyak Itu Mengerikan

Hal yang patut digarisbawahi adalah follower banyak tak selalu menguntungkan. Memang sih pada era segala hal bisa dikapitalisasi, memiliki jumlah follower banyak merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Kita tengok saja selebgram yang banyak bermunculan belakangan ini. Dengan mengambil sampel secara random, saya dapati akun-akun selebgram memiliki pengikut puluhan hingga ratusan ribu. Pada level artis beken yang sering muncul di acara tivi, film atau pun video klip maka jumlah follower bisa mencapai angka fantastis, jutaan.

Maka jangan heran bila online shop berdatangan untuk menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Lantas, apakah hal ini salah? Entahlah, jika pertanyaan ini dilontarkan kepada peserta acara cerdas cermat yang dipandu oleh Helmy Yahya pun saya yakin mereka akan menjawab secara normatif, yaitu relatif.

Hubungan online shop dengan selebgram ini boleh lah dikategorikan sebagai hubungan simbiosis mutualisme. Online shop-nya untung karena produknya dipromosikan, dengan harapan omset penjualan produk atau jasa meningkat. Sedangkan bagi selebgram sendiri, keuntungan materi yang cukup lumayan bisa diraih.

Bukan hanya selebgram ya, selebtwit pun dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu menjadi endorser beberapa produk. Namun belakangan ini saya melihat di Twitter jasa endorser mulai tergantikan oleh buzzer. Buzzer ini secara beramai-ramai melakukan promosi atas suatu produk yang ingin diperkenalkan.


Promosi Produk, Jasa, Kelakuan dan Pemikiran di Media Sosial

Di lain sisi, saya melihat jika produk yang dipromosikan oleh seorang selebgram, selebtwit, ataupun buzzer bertentangan dengan kenyataan, maka sejatinya terjadi semacam ke-tak-elokan moral di dalamnya. Maksudnya suatu produk A dipromosikan secara positif, padahal di dapurnya dirasani kalau produk A itu jelek.

Ambil contoh sederhana, ketika launching suatu produk kuliner XYZ, maka mau tak mau si selebgram, selebtwit, dan buzzer tentu akan bilang produk kuliner XYZ itu enak gak kalah dengan produk sejenis. Bahkan kadang sedikit lebay. Semacam kehilangan obyektifitas atas produk yang sedang dipromosikan. Mana ada kecap nomer dua.

Itu baru dari segi produk yang sedang dipasarkan atau dipromosikan. Bagaimana jika suatu pendapat, tindakan, pemikiran, narasi yang sedang disampaikan oleh selebgram, selebtwit, dan buzzer? Menurut saya, nilai pertanggungjawabannya lebih berat daripada mempromosikan suatu produk.

Jika selebgram atau selebtwit dengan ratusan ribu follower setia bahkan fanatik melakukan suatu tindakan tidak terpuji kemudian disebarkan di media sosialnya, bisa jadi follower setianya akan mengikuti apa yang dilakukan. Contohnya? hmm buanyaaaak. Karena follower setia dan fanatik itu menganggap apa yang dilakukan oleh idolanya itu keren. Benar atau salah, bermoral atau tidak itu urusan nanti, yang penting keren dulu.

Suatu tindakan buruk yang kemudian ditiru oleh orang lain, maka karma akibat keburukannya akan kembali kepada si pelaku mula. Lebih kurang seperti itu alur sebab akibat yang saya pahami.

Kehidupan bermedia sosial memiliki potensi interaksi dengan manusia-manusia lain yang tidak bisa kita prediksi persebarannya. Maka dari itu adalah bijaksana jika kita menebarkan kebaikan-kebaikan saja di akun-akun media sosial yang kita miliki. Ini menurut saya bukan sebuah pencitraan. Menjadi pencitraan jika kebaikan atau inspirasi yang disampaikan bertentangan dengan keseharian.


Mawas Diri Dalam Berkelakuan di Media Sosial

Lantas apakah tulisan ini semacam wujud keirian saya karena gagal menjadi selebgram? Hmmm bisa jadi iya, namun justru karena saya menyadari benih-benih yang tidak baik bersemi dalam hati maka secepat mungkin saya harus bisa meredamnya. Maka menuliskan tentang keresahan hati ini merupakan cara paling sederhana untuk meredamnya. Menetralkannya.

Bahkan semenjak saya dirasuki oleh pemikiran bahwa memiliki follower banyak itu mengerikan, jadinya semakin tidak tertarik menjadi seleb media sosial. Walaupun menjadi seleb media sosial ataupun tidak sama-sama memiliki potensi penyebaran kebaikan dan keburukan, menjadi sosok yang berada pada spotlight banyak orang itu untuk saya tidak mengenakkan. Semacam ada kebebasan yang terenggut.

Tapi entahlah, ini hanya perasaan saya saja. Pada titik tertentu, saya malah ingin menghilang dari peredaran media sosial kebanyakan yang kerap saya gunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path.

Bersepi-sepi saja menulis, menuangkan pemikiran. Seperti halnya menulis dan membaca konten-konten menarik dan bergizi di Medium ini, merupakan sebentuk pelarian dari kejenuhan media sosial kebanyakan.

Paling tidak saya ingin menyeleksi apa-apa yang akan dikonsumsi oleh pikiran saya. Bukan hal-hal random tak terkendali yang memenuhi beranda media sosial.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Salam,
DiPtra


Photo by Camila Damásio on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Kerjakan yang Di Depan Mata, Lupakan Keinginan

Sebelum tulisan bagus ini menguap dan terlupakan, maka saya harus iseng untuk mengabadikannya di dalam blog ini. Memang ini terasa tidak orisinal. Paling tidak saya masih orisinal dalam memberikan kata pengantar walau hanya beberapa kalimat.

Jadi, inti hikmah yang bisa saya tangkap dari tulisan berikut ini adalah ketika punya impian atau keinginan, jangan ambisius banget laah yaa. Selow ajah. Begitu yang saya tangkap dari cerita Gus Banan ini.

Selama membacanya saya manggut-manggut menyetujui dan merefleksikannya terhadap kehidupan yang sudah saya lalui. Yaa memang leres sekali apa yang beliau sampaikan.

Ruh tulisan ini, terangkum dalam quote yang beberapa kali di ulang oleh Gus Banan seperti di bawah ini:

Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini


SEBAIK-BAIK IKHTIYAR USAHA ADALAH YANG PEROLEH KESADARAN

#SebuahCerpen

“Sesudah memasuki usia balig, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, di mana ia juga jatuh cinta padaku. Ia cinta pertamaku, bahkan ihtilām (mimpi basah) pertamaku juga dirinya yang ada dalam mimpi. Kami sama-sama jatuh cinta ja”laran seka kulina” (karena terbiasa bersama).”

“Sejak SD kami berdua bersaing ketat dalam prestasi, kompak dan sinergi. Setelah di SMP di mana usia kami mulai pubertas, kami jadi saling jatuh cinta. Waktu sekolah SMP baru 3 bulan, aku disuruh orang tua pindah sekolah, orang tua ingin sekolahku sambil mondok. Karena aku enggan pisah dengan cinta pertamaku, aku tidak mau pindah sekolah. Orang tuaku akhirnya mengalah. Ternyata di belakang hari, walau kami berdua tau sama-sama cinta, tapi kami tidak bisa menyatu. Cinta kami masih ukuran cinta monyet, miss komunikasi terjadi, sehingga kami bertahan dengan ego kami masing-masing. Kami seperti Tom and Jarry. Tujuanku bertahan satu sekolah untuk bisa dekat dengannya, justru aku malah jadi jauh.”

“Baru setelah kami tidak lagi satu sekolah, kami saling mencari, karena kami saling mencintai sangat mendalam. Namun tetap tidak bisa pacaran, entah mengapa setelah jarak kami jauh, kami sangat sulit berkomunikasi. Dan hingga kami dewasa, kami berdua tidak bisa pacaran. Apalagi waktu itu belum zaman handphone, komunikasi kami sangat terbatas. Setelah handphone ramai, aku terhubung dengan ia, ternyata ia sudah menikah. Cinta pun hingga saat ini hanya menjadi rasa yang perlahan terlepas tanpa bisa memiliki.”

“Sisi lain dari hidupku, setelah SMA dan perguruan tinggi, aku di pondok pesantren. Aku anak yang gemilang di urusan leader dan akademis, karena dari SD pun aku sudah menonjol. Ambisiku besar, jika aku tidak bisa punya pengaruh di publik, aku kesal dan tidak tahan menahan rasa terpinggirkan. Tapi aku malah mengalami keadaan sebaliknya, semua ambisi-ambisiku sangat susah aku capai. Ingin jadi ketua OSIS gagal, hingga di kampus aku ingin jadi presiden BEM juga gagal total.”

“Di SMA dan kampus kuliah, aku kebetulan bareng seorang pesaing, bahkan di pondok pesantren kami juga bareng, leader dan kecerdasannya seimbang denganku, tapi semua karir publik ia yang dapatkan. Ia jadi selebritis, pacar pun berdatangan melamarnya. Baik ketua OSIS, presiden BEM, hingga jabatan bergengsi di pesantren, termasuk menjadi Lurah Pondok, ia yang meraih. Aku cuma jadi kutu mati. Potensiku hancur, aku yang leader-nya kuat di organisasi publik paling di posisi departemen kebersihan, paling banter departemen pendidikan. Entah apa jalan yang dikehendaki Tuhan sehingga menyiksaku seperti ini.”
“Seperti apa rasa hatiku hidup seperti itu? Semua yang aku hasrati justru dijauhkan dariku? Mulai dari wanita yang kucintai sampai karir publik yang kuminati dijauhkan sejauh-jauhnya dariku. Tentu nangis batin yang kuperoleh. Yang ingin kupegang malah lepas.”

“Akhirnya aku hanya dapat mengerjakan apa yang ada di depan mata. Yang kupegang tidak pernah lepas hanya buku dan kitab pelajaran. Itu yang akhirnya menjadi pelampiasan emosi terpendamku. Siang malam aku hanya fokus di pelajaran, hingga bertahun-tahun. Hingga aku lupa sendiri dengan kegiatan BEM dan organisasi publik di pesantren. Dan ternyata, aku lulus dengan IP tertinggi, aku menjadi satu-satunya santri dan mahasiswa yang dapat bea siswa S2 ke Universitas Al-Azhār Mesir.”

“Mulai saat itu namaku meroket di kampus dan pesantren. Sana-sini mengenalku. Aku jadi paham kalau pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini.” Karena dari urusan cinta sampai karir, semua yang kuingini malah kabur.”

“Aku peminat bujang tua, karena memang minat besarku pada akademis dan ilmu. Minat di dunia publik sudah musnah terkubur. Ketika sudah di Mesir, ketika aku yang sudah kenyang dijejali gagal memperoleh jabatan publik, di sana pun aku langsung konsentrasi pada pelajaran, namun kali ini di Mesir aku sambil kerja, karena biaya kuliah dari pemerintah, tapi biaya hidup aku harus nanggung sendiri. Dan ketika aku telah lupa dengan jabatan publik mahasiswa, kini di Mesir justru jabatan itu mengejar diriku. Tapi aku sudah tidak minat. Cuma karena ditarik-tarik jadi mau tidak mau harus kumakan.”

“Pulang ke Indonesia pun, aku yang vokal ceramah tidak laku-laku ceramah. Santri juga waktu itu belum punya. Aku yang lulusan S2 A-Al-Azhār fakultas sastra Arab boro-boro jadi penceramah kondang dan kyai besar. Aku melamar jadi dosen kesana-kemari, akhirnya diterima jadi dosen di perguruan tinggi swasta. Di kampung aku yang punya ambisi jadi penceramah tidak laku-laku. Paham dengan pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini,” aku mulai ngajar ngaji anak-anak kampung. Dan aku tekuni benar. Rasa ingin jadi kyai besar aku endapkan. Terus aku tekuni, dan 2 tahun kemudian mulai ada santri minta jadi santriku. Lagi-lagi, aku sudah nikmat ngajar di internal pesantrenku dan di kampus, undangan ceramah berdatangan padaku.”

“Dan sebenarnya, selama aku digerus-gerus tidak pernah ketemu dengan yang kuingini, di sana egoku hancur dan buram, yang akhirnya lamat-lamat kutemukan Tuhan. Dan saat sekarang ketika orang-orang menyaksikanku mapan dan sukses, aku sendiri sudah hanya di dalam Tuhan. Dunia-dunia gemilang di sekitarku hanya tinja pupuk hidupku. Tinja tapi kumanfaatkan untuk pupuk.”

“Dan ternyata, informasi yang kuterima, temanku yang dulu di kampus dan pesantren jadi leader hebat, kini malah ia terpuruk, hidup jadi orang biasa, tidak punya pengaruh apa-apa, aku dengar ia sekarang di Arab Saudi jadi TKI karena harus menanggung sulitnya penghidupan. Padahal ia dulu aku kira akan jadi tokoh hebat di antero Indonesia. Alhasil, hidup itu hanya Tuhan yang bisa eksis, ditemukannya Tuhan bila ego keinginan remuk. Ketika keinginan ego kita dituruti oleh Tuhan, hakikatnya kita digelapkan dari Zat-Nya. Karena itu sebaik-baik ikhtiyar usaha ialah yang peroleh kesadaran atau hikmah, peroleh hasil bukanlah perolehan utama.”

“Teman pesaingku itu ternyata ketika berjaya tidaklah sewaspada diriku. Ketika aku takut pacaran karena takut keinginanku tidak terijabah, justru ia gonta-ganti pacar karena merasa maksiat tidak ngaruh untuk karir dan ilmunya. Jadi begitulah Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia jauhkan keinginan si hamba, agar si hamba memakan yang tidak ia hasrati, ketika si hamba memakan yang tidak ia hasrati, itu hakikatnya si hamba hanya menikmati Tuhan.” []


Dicerpenkan dari tutur seorang tamu spiritualis, ia seorang dosen muda di beberapa kampus, juga kyai muda pemangku pesantren. #RepostCerpen


Oke, saya tahu beberapa hari ini menjelang hari kemerdekaan Indonesia, tapi kok saya tak kunjung menelorkan tulisan berkaitan dengan kemerdekaan. Malah me-repost tulisan orang lain di blog ini. Hmmm iya siih memang sudah lama juga saya ndak nulis di sini, menyapa kawan-kawan wordpress.

Begitulah, kali ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan untuk tidak menulis ataupun menulis di blog ini. Bahkan saya merasa merdeka untuk mengisi atau tidak mengisi kemerdekaan. Ahhh dasar lelaki egois.

Salam..
dia si Lelaki Egois Berwajah Ndangdut


Featured image by Shane Rounce on Unsplash

Media Sosial dan Mati Kendat

Istilah mati kendat kali pertama saya dengar ketika pindahan rumah puluhan tahun lalu, di Malang. Saya lupa siapa orang yang menginformasikan perihal mati kendat ini. Di depan rumah baru yang saya tempati itu terdapat sebuah gang kecil. Desas-desus tetangga yang saya dapatkan bahwa gang kecil itu angker karena pernah ada yang mati kendat di sekitaran situ.


Kematian Chester Bennington dengan cara bunuh diri pada 20 July lalu kembali mengingatkan saya akan ingatan horor mati kendat di gang kecil itu. Chester mati kendat di kediamannya, Los Angles.

Padahal belum mengering berita tentang kematian gantung diri Chris Cornell bulan Mei lalu. Gara-gara berita itu, saya jadi tahu siapa itu Chris Cornell. Ternyata dia adalah pentolan grup rock band terkenal, Audio Slave. meeehh selama ini saya cuman tau teriakan khasnya di lagu Like a Stone tapi enggak tahu nama yang nyanyi.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, Chester dan Chris mati bunuh diri dikarenakan oleh depresi. Dr. Christine Moutier yang bekerja di American Foundation for Suicide Prevention menyatakan bahwa 90 persen orang yang melakukan percobaan bunuh diri memiliki gangguan kejiwaan.

Masih menurut Dr. Christine Moutier, musisi yang meninggal bunuh diri karena depresi memiliki kesamaan karakter, yaitu sama-sama perfeksionis. Saya baru tahu jika perfeksionis bisa menuntun pada kondisi depresi secara kejiawaan.

Sebagai orang dengan tipikal thinking introvert saya juga memiliki kecenderungan untuk perfeksionis. Karena sudah secara bawaan lahir saya cukup rese’ terhadap detail. Tapi entahlah, rasa-rasanya saya pernah mengalami gejala depresi.


Belum lama ini ada berita viral tentang orang yang melakukan live show bunuh diri melalui Facebook. Untunglah saya tak sempat melihat tayangan itu dan pihak Facebook bergerak cepat menghapus rekamannya.

Ada Amanda Todd yang meninggal bunuh diri karena depresi akibat bullying di media sosial. Yaa, belakangan ini perihal bullying ini semakin menguat terjadi di media sosial.

Media sosial yang ditujukan sebagai wadah untuk bersosialisasi malah menjadi wadah untuk saling mem-bully. Media sosial malah menjadi tempat yang kurang nyaman untuk ditinggali.

Media sosial jika tidak disikapi dengan bijaksana malah menimbulkan keresahan dan kecemasan. Di mana keresahan dan kecemasan ini nantinya akan menuntun pada depresi.

Manusia memiliki tendensi untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Sehingga sering kali tidak merasa puas dengan kehidupan yang ada di genggamannya sekarang. Maka, media sosial yang cenderung meng-ekspose kehidupan pribadi menyuburkan kecenderungan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Merasa kehidupan yang sedang dijalani tidak sempurna.

Rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, apalagi jika si tetangga kerap memamerkan rumput hijaunya di media sosial. Pemaparan kehidupan pribadi yang terus-menerus ini tentu akan memicu kecemburuan sosial. Karena di media sosial kita cenderung hanya menampilakan hal yang enak-enak saja.

Dari tulisan di Psychology Today menerangkan bahwa kecemburan terhadap teman atau orang yang ada di media sosial akan menuntun pada depresi. Melalui beberpa studi yang dilakukan bahwa orang-orang yang menutup atau berhenti menggunakan Facebook merasa bahwa mereka telah membuang waktunya. Mereka merasa kurang produktif akibat media sosial.

Saya pun merasakan hal yang sama ketika memutuskan untuk berhenti sejenak menggunakan media sosial. Ada rasa lega ketika mendapati diri terbebas dari scrolling tanpa henti newsfeed atau timeline media sosial. Lega kerena menyadari durasi waktu yang terbuang karena terlalu asik berinteraksi di media sosial.

Hal lainnya, media sosial yang saya anggap sebagai tempat untuk bersosialisasi malah sesekali menghadirkan kesepian yang kurang disadari. Entahlah apakah orang lain juga merasakan hal yang sama.

Memang media sosial sangat berguna untuk tetap menjaga silaturrahim dengan keluarga dan teman-teman saya. Namun pada beberapa kesempatan ketika terlalu asik bermain media sosial tiba-tiba ada rasa kesepian menghampiri. Bagaimana pun aktifitas fisik tidak bisa digantikan oleh aktifitas maya.

Menurut terawangan saya, rasa kesepian memiliki potensi yang kuat untuk membuat depresi. Karena perasaan depresi yang berujung pada tindakan bunuh diri, sering kali akibat tidak adanya pihak yang bisa dan mau mendengar kepedihan jiwa orang yang depresi.

Dalam tulisannya, mas Endri menyebutkan bahwa kasus percobaan bunuh diri pada lelaki memang lebih sedikit, namun persentase kematian akibat bunuh diri pada lelaki cenderung lebih besar. Lelaki lebih cenderung diam ketika sedang ada masalah.

Maka bila kamu seorang lelaki, maka tak perlu malu untuk bercerita atau bahkan menangis jika sedang ada masalah. Atau jika mulai merasakan kesepian, keresahan dan kegalauan akibat media sosial maka berceritalah. Minimal menulis di buku harian untuk menumpahkannya. Atau bisa juga menulis di blog, karena dari pengalaman saya menulis memiliki manfaat terapi mental.

Jika media sosial terlalu meracuni keseharianmu dan mulai terpikirkan untuk mati kendat, maka lebih baik kamu kendatin saja akun media sosialmu untuk sementara.

Semoga bermanfaat.

salam,
DiPtra

originally published on diptra.id