Media Sosial dan Mati Kendat

Istilah mati kendat kali pertama saya dengar ketika pindahan rumah puluhan tahun lalu, di Malang. Saya lupa siapa orang yang menginformasikan perihal mati kendat ini. Di depan rumah baru yang saya tempati itu terdapat sebuah gang kecil. Desas-desus tetangga yang saya dapatkan bahwa gang kecil itu angker karena pernah ada yang mati kendat di sekitaran situ.


Kematian Chester Bennington dengan cara bunuh diri pada 20 July lalu kembali mengingatkan saya akan ingatan horor mati kendat di gang kecil itu. Chester mati kendat di kediamannya, Los Angles.

Padahal belum mengering berita tentang kematian gantung diri Chris Cornell bulan Mei lalu. Gara-gara berita itu, saya jadi tahu siapa itu Chris Cornell. Ternyata dia adalah pentolan grup rock band terkenal, Audio Slave. meeehh selama ini saya cuman tau teriakan khasnya di lagu Like a Stone tapi enggak tahu nama yang nyanyi.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, Chester dan Chris mati bunuh diri dikarenakan oleh depresi. Dr. Christine Moutier yang bekerja di American Foundation for Suicide Prevention menyatakan bahwa 90 persen orang yang melakukan percobaan bunuh diri memiliki gangguan kejiwaan.

Masih menurut Dr. Christine Moutier, musisi yang meninggal bunuh diri karena depresi memiliki kesamaan karakter, yaitu sama-sama perfeksionis. Saya baru tahu jika perfeksionis bisa menuntun pada kondisi depresi secara kejiawaan.

Sebagai orang dengan tipikal thinking introvert saya juga memiliki kecenderungan untuk perfeksionis. Karena sudah secara bawaan lahir saya cukup rese’ terhadap detail. Tapi entahlah, rasa-rasanya saya pernah mengalami gejala depresi.


Belum lama ini ada berita viral tentang orang yang melakukan live show bunuh diri melalui Facebook. Untunglah saya tak sempat melihat tayangan itu dan pihak Facebook bergerak cepat menghapus rekamannya.

Ada Amanda Todd yang meninggal bunuh diri karena depresi akibat bullying di media sosial. Yaa, belakangan ini perihal bullying ini semakin menguat terjadi di media sosial.

Media sosial yang ditujukan sebagai wadah untuk bersosialisasi malah menjadi wadah untuk saling mem-bully. Media sosial malah menjadi tempat yang kurang nyaman untuk ditinggali.

Media sosial jika tidak disikapi dengan bijaksana malah menimbulkan keresahan dan kecemasan. Di mana keresahan dan kecemasan ini nantinya akan menuntun pada depresi.

Manusia memiliki tendensi untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Sehingga sering kali tidak merasa puas dengan kehidupan yang ada di genggamannya sekarang. Maka, media sosial yang cenderung meng-ekspose kehidupan pribadi menyuburkan kecenderungan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Merasa kehidupan yang sedang dijalani tidak sempurna.

Rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, apalagi jika si tetangga kerap memamerkan rumput hijaunya di media sosial. Pemaparan kehidupan pribadi yang terus-menerus ini tentu akan memicu kecemburuan sosial. Karena di media sosial kita cenderung hanya menampilakan hal yang enak-enak saja.

Dari tulisan di Psychology Today menerangkan bahwa kecemburan terhadap teman atau orang yang ada di media sosial akan menuntun pada depresi. Melalui beberpa studi yang dilakukan bahwa orang-orang yang menutup atau berhenti menggunakan Facebook merasa bahwa mereka telah membuang waktunya. Mereka merasa kurang produktif akibat media sosial.

Saya pun merasakan hal yang sama ketika memutuskan untuk berhenti sejenak menggunakan media sosial. Ada rasa lega ketika mendapati diri terbebas dari scrolling tanpa henti newsfeed atau timeline media sosial. Lega kerena menyadari durasi waktu yang terbuang karena terlalu asik berinteraksi di media sosial.

Hal lainnya, media sosial yang saya anggap sebagai tempat untuk bersosialisasi malah sesekali menghadirkan kesepian yang kurang disadari. Entahlah apakah orang lain juga merasakan hal yang sama.

Memang media sosial sangat berguna untuk tetap menjaga silaturrahim dengan keluarga dan teman-teman saya. Namun pada beberapa kesempatan ketika terlalu asik bermain media sosial tiba-tiba ada rasa kesepian menghampiri. Bagaimana pun aktifitas fisik tidak bisa digantikan oleh aktifitas maya.

Menurut terawangan saya, rasa kesepian memiliki potensi yang kuat untuk membuat depresi. Karena perasaan depresi yang berujung pada tindakan bunuh diri, sering kali akibat tidak adanya pihak yang bisa dan mau mendengar kepedihan jiwa orang yang depresi.

Dalam tulisannya, mas Endri menyebutkan bahwa kasus percobaan bunuh diri pada lelaki memang lebih sedikit, namun persentase kematian akibat bunuh diri pada lelaki cenderung lebih besar. Lelaki lebih cenderung diam ketika sedang ada masalah.

Maka bila kamu seorang lelaki, maka tak perlu malu untuk bercerita atau bahkan menangis jika sedang ada masalah. Atau jika mulai merasakan kesepian, keresahan dan kegalauan akibat media sosial maka berceritalah. Minimal menulis di buku harian untuk menumpahkannya. Atau bisa juga menulis di blog, karena dari pengalaman saya menulis memiliki manfaat terapi mental.

Jika media sosial terlalu meracuni keseharianmu dan mulai terpikirkan untuk mati kendat, maka lebih baik kamu kendatin saja akun media sosialmu untuk sementara.

Semoga bermanfaat.

salam,
DiPtra

originally published on diptra.id

Tafsir Sandaran Hati

Pada intinya tebakan teman saya itu salah besar mengenai saya. Dengan pedenya dia menebak saya seorang sanguins. Percayalah, saya tidak begitu menyukai keramaian. Begitu juga jika didapuk menjadi pembicara di depan umum, serasa saya sebaiknya memakai pampers saja biar enggak ngompol. Boleh lah dibilang demam pangung.

Baiklah, saya rasa cukup membuka aib diri sendiri. Tak elok lah itu jika diteruskan, jadi lebih baik stop ya. Kali ini saya tunjukkan bahwa saya ini 35% melankolis, 60% persen plegmatis lalu sisanya 30% agak gila hahaha…

Letto, Melet yen difoTo. Sebuah band yang awalnya saya kira band mediocre. Namun, setelah mendengarkan beberapa tembang yang dimainkan ini band lirik lagunya dalem. Apalagi saat tau siapa itu vokalisnya yang bernama asli cukup unik yaitu Sabrang Mowo Damar Panuluh, saya menjadi tidak heran dengan kualitas lirik yang ditorehkan. Buah memang tidak jatuh telalu jauh dari pohonna.

Lanjut ke tujuan utama tulisan ini, yaitu menafsirkan salah satu lirik lagu Letto. Judul lagunya sendiri Sandaran Hati. Pertama kali mendengarkan lagu ini, kesan yang saya dapatkan adalah ini lagu cengeng orang lagi cinta-cintaan atau patah hati. Begitu juga ketika mendengarkan dendanga lagu diiringi musik, semakin menambah kesan sendu.

Diawali dengan intro solo piano yang kalem beberapa saat kemudian disambut oleh suara Mas Sabrang. Drum, gitar dan bass pelan-pelan mengikuti tempo lagu yang tenang. Secara aransemen musik terdengar ringan dan santai.

Ternyata saat berdiskusi dengan teman kerja tentang lagu ini, dia juga merinding mendengarnya. Bukan hanya saya yang merinding menghayati syair lagu ini. Bawaannya mau pengen ambil air wudhu habis denger lagu Sandaran Hati dengan pengahayatan. Ijinkan saya berbagi kemerindingan mengenai lagu ini….

 — SANDARAN HATI —

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi

Langsung tersambung dengan shalat saat sampai pada kata “berdiri”. Jadi langsung mikirin kalo ini lagu cerita tentang shalat tapi dengan bahasa kiasan yang cantik. Di hampa tanpa tepi ini membawa imajinasi saya ke dunia gelap tanpa arah, gelap. Guru saya bilang alam wang-wung. Kadang juga Terimajinasikan sebagai padang mahsyar yang luas tanpa tepi, tanpa penyelamat tanpa seizin Allah. Hmmmh bayangin padang mahsyar itu langsung serrrr merinding

Bolehkah aku
Mendengar-MU

Ketika Shalat, salah satu harapannya adalah mendapatkan hati yang bening. Hati yang tak teroksidasi dengan kerak maksiat. Dengan hati yang bening suara Tuhan akan lebih jelas terdengat, suara hati nurani akan semakin nyaring berteriak. Memang Tuhan Maha Mendengar, tetapi Tuhan Juga Maha Berfirman, Maha Memberikan Petunjuk. Semoga dengan hati yang mendengar hidayah Tuhan semakin jelas tepancar dari lelaku kita sehari-hari.

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi

Emosi, terutama yang tidak terkontrol merupakan ujung jari syaithan yang akan menjerumuskan kedalam tidakan dzalim. Sebuah tindakan kegelapan, betapa emosi akan menggelapkan hati dan pikiran kita. Lalu memang kita tak bisa bersembunyi dari emosi. Kita sering larut dalam genggamannya. Lalu atas kesulitan yang dihadirkan emosi, kita mengeluh, kita mengadu dengan aduan seperti lirik berikutnya..

Aku dan nafasku
Merindukan-MU

Aku adalah diri yang mengamati, diri yang sadar akan kemanusiaan. Kata nafas dalam bahasa arab diambil dari kata An-Nafs, dalam lirik lagu ini nafas saya tafsirkan sebagai 4 macam nafsu pada manusia. Aku dan keempat nafsu ini merindukan Tuhan, merindukan jalan kembali kepadaNya. Duhaai jiwa-jiwa yang tenang…. (T _T)

Terpuruk ku di sini
Teraniaya yang sepi

Dalam kehidupan sehai-hari, bukanlah hal yang aneh mendapati diri ini terpuruk. Terpuruk oleh keadaan dan kondisi yang membuat kita serasa teraniaya. Apalagi ketika mendapati tiada seorang pun yang menemani keterpurukan kita. Betapa pedih rasa itu.

Dan ku tahu pasti
Kau menemani

Saat-saat merasa teraniaya oleh sepi itulah kita dikuatkan oleh fimanNya yang menyatakan bahwa Dia adalah dekat, Dia bahkan lebih dekat daripada urat leher kita. Dia selalu menemani kita, hanya saja kita sering lupa atau sengaja melupakanNya. Namun hanya Dia yang setia menemani

Dalam hidupku
Kesendirianku

Dia setia menemani dalam hidup kita, lebih setia daripada pasangan kita. Lebih setia daripada anak atau orang tua kita. Apalagi sat-saat kesendirian kita di ruang gelap berkalang tanah nan sempit itu.

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat

Setuju tak setuju, Tuhan itu suka bercanda. Betapa tidak, Kala itu kita belum bisa mengingat lalu Dia mengambil sumpah kita saat ruh ditiupkan kedalam janin dalam perut ibu kita. Sebuah perjanjian agung. Sebuah perjanjian yang akan membuat kita merindukan kampung akhirat. Sebuah perjanjian tak kasat mata dan tak tertangakap oleh gelombang frekuansi apapun selain frekuensi kedamaian yang dihadirkan oleh ibu dengan kasih sayangnya.

Hanya sekejap ku berdiri
Kulakukan sepenuh hati

Atas segala nikmat yang sudah tercurahkan, kebangetan kalo tiada berkenan mengingatnya walau hanya sekejap. Sekejap dalam shalat dilakukan dengan khusyu dan penuh kerinduan.

Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti

Takdir yang kita anggap baik atau takdir yang kita anggap buruk akan pasti tesaji di depan kita. Pedulikan kondisi hati untuk menerimanya.

Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Kaulah sandaran hati
Sandaran hati

Rasa sedih yang hadir entah oleh apa pun itu penyebabnya hendaknya menjadikan mawas diri. Masih ada Dia tempat besandar. Dia sebaik-baik tempat mengadu. KepadaNya lah segala sesuatu bergantung dan meminta pertolongan.

Inikah yang kau mau
Benarkah ini jalanmu
Hanyalah engkau yang ku tuju

Lirik ini sejalan dengan ayat ke 6 pada Surat Pembukaan dalam kitab Suci Al-Qur’an. Siang dan malam kita memohon dibukakan dan ditunjuki jalan yang lurus. Jalan menuju kepadaNya

Pegang erat tanganku
Bimbing langkah kakiku

Menuju kepadaNya tentu akan lebih mudah jika selalu dalam tuntunanNya salalu dibimbing arah langkah kaki kita. Betapa cintanya Dia kepada kita, Dia mengutus manusia teragung akhlaknya untuk menujuNya agar kita tidak tersesat di jalan yang selain Dia. Allahumma shalli ‘ala sayyidinaa Muhammad.

Aku hilang arah
Tanpa hadirmu
Dalam gelapnya
Malam hariku

Tanpa kehadiranNya, tanpa petunjukNya kita akan tejerumus dalam gelapnya lembah maksiat laksana pekatnya kegelapan malam. Jika tiada segera menyadari ketersesatan arah jalan, maka akan semakin menjauhalah dari Dia. Bahwa salah satu penderitaan tebesar dalam hidup bukanlah penderitaan cinta seperti kata Ti Pat Kai, namun pendertiaan terbesar adalah saat kita terhijab dari petunujukNya.

Sekian saja tafsir lagu Sandaran Hati semoga semakin mendekatkan hati kita kepadaNya dengan senantiasa mengingatNya. Amiin.

salam..

Durasi Tidur yang Tercaplok Media Sosial

Begitulah kiranya, selepas pulang kerja badan menjadi lelah. Tentulah butuh hiburan sesaat sesampainya di kamar kosan. Tak ada televisi di kamar saya. Hiburan paling dekat dengan jangkaun tangan adalah smartphone.

Tak bisa dipungkiri, hubungan saya dengan smartphone ini boleh dibilang hubungan love and hate yang tiada akhirnya. Kadang bisa seharian mengakrabinya, kadang juga bosen banget menggunakannya. Perasaan bosen ini hadir kala waktu banyak teebuang tanpa disadari untuk bermeseraan dengan smartphone. Mungkin ini yang disebut dengan cinta buta.

Seenjak saya sudah berhenti menjadi seorang gamer maka kegiatan saya bersama smartphone tak jauh-jauh dari urusan bermain media sosial. Ada segitiga bermuda media sosial yang menjadi titik-titik porosnya. Jadi, maksud segitiga bermuda media sosial adalah berpindah-pindah dari satu aplikasi media sosial ke media sosial lainnya. Dari titik A ke titik B lalu ke titik C dan kembali lagi ke titik A, begitu seterusnya tanpa disadari waktu telah berlalu beberapa jam lamanya.

Sebagian mendefinisikan titik-titik poros itu dengan Facebook-Twitter-Path. Sebagiannya lagi Instagram-Snapchat-Facebook. Ada juga kombinasi Instagram-Tumblr-Wordpress. Kombiansi titik poros yang lain tentu masih ada.

Besesuaian dengan judul tulisan ini, akibat terjerumus dalam pusaran segitiga bermuda media sosial ini, konsekuensi yang sering saya alami adalah lupa waktu tidur. Karena keasyikan bermain media sosial di malam hari ujug-ujug saja tanpa terasa sudah mendekati dini hari. Parah.

Apalagi sejak beberapa hari yang lalu. Aplikasi Facebook kembali saya install dalam smartphone. Tak butuh waktu lama, Facebook kembali mengisi keseharian. Yak benar, sisa-sisa candu Facebook belum sepenuhnya hilang ternyata. Menyedihkan.

Awalnya saya mengira bakal imun dengan godaan Facebook. Ternyata oh ternyata tampilan antar muka Facebook di aplikasi smartphone semakin menawan. Jadilah scroll tanpa akhir di newsfeed Facebook menjadi keasyikan tersendiri.

Pentingnya Kesadaran

Salah satu pelajaran yang dapat saya sarikan dari berlatih mindfulness beberapa waktu lalu adalah peningkatan kesadaran atas aktifitas yang sedang dilakukan. Lebih kurang tiga hari saya merasa ada yang salah dengan aktifitas keseharian. Khususnya terkait dengan pemanfaatan waktu sehari-hari.

Waktu-waktu produktif saya mulai diambil alih kembali oleh media sosial, khususnya Facebook. Kesadaran terambilnya waktu-waktu produktif ini ketika saya mulai mendapati saya tidur sekitaran jam satu malam hanya demi mantengin timeline media sosial.

Akibatnya durasi waktu tidur saya menjadi berkurang. Karena di pagi harinya saya harus mulai melakukan aktifitas sehari-hari sebagai karyawan eight to five. Durasi tidur saya dicaplok oleh media sosial. Benar kiranya ketiak beraktifitas dengan smarphone sebelum tidur membuat rasa kantuk susah datang, dan saya mengalami sendiri hal ini.1

Pagi hari ketika sedang bekerja di kantor, otomatis rasa kantuk tak tertahankan menyertai. Pekerjaan yang harus diselesaikan, jadinya malah tak maksimal pengerjaannya.

Facebook atau media sosial bukanlah kambing hitam atas permasalahan ini. Masalahnya ada pada kemampuan saya dalam menentukan prioritas hal-hal yang seharusnya saya kerjakan. Kedua, saya belum sembuh benar dari kecanduan media sosial. Dengan kata lain, developer media sosial sukses membuat aplikasi yang membuat penggunanya kecanduan. Mereka suskses memasang pasung tak kasat mata pada leher-leher penggunanya agar terus menunduk menatap layar smarphone.

Dengan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri saya sendiri, maka dengan penuh keyakinan saya kembali menghapus aplikasi Facebook dari smartphone saya.

Pesan terakhir sekaligus penegas terhadap tulisan kali ini adalah, berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Tingkatkan kesadaran diri dalam menggunakannya. Media sosial memang dirancang sedemikian rupa agar menjadi candu bagi penggunanya.

Lalu apakah kamu punya tips sendiri berkaitan dengan cara mengatasi kacanduan media sosial? Silahkan dibagikan tipsnya di kolom komentar yaa.

Salam,
DiPtra

 


Featured images by Annie Spratt on Unsplash

Ngapain Dolan Media Sosial?

Kehadiran media sosial adalah kejelian developer penggiat internet dalam membidik kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi. Lebih kurang sudah satu dekade ini media sosial berkembang dengan begitu cepat.

Banyak bermunculan start up yang membuat wadah berupa media sosial. Beberapa sukses mendulang pengunjung atau pengguna aktif, namun banyak juga yang gagal tidak mendulang kehampaan, layu sebelum berkembang.

Bahkan perusahaan sekelas Google pun berulang kalo gagal membuat platform media sosial. Jadi bukanlah suatu jaminan jika perusahaan besar juga bakalan sukses bermain di ranah media sosial.

Dari beragam media sosial, baik yang masih eksis maupun sudah tutup usia, saya melihat kesamaan layanan. Berbagi informasi dalam bentuk apa pun. Mulai dari informasi yang bermanfaat sampai informasi receh penebar hoax.

Pendirian media sosial oleh start up teknologi sebenarnya memiliki tujuan yang hampir serupa, yaitu memonetisasi trafik pengunjung yang memggunakan layanannya. Cara paling umum untuk memonetisasi trafik adalah dengan menebar iklan sebagai media promosi produk.

Dari tujuan yang hampir seragam ketika start up teknologi membangun media sosial, mari kita sejenak mempertanyakan kepada diri kita sendiri apa tujuan kita bermain media sosial. Apakah lebih banyak mengandung manfaat atau malah berkubang dalam kesia-sian atas nama membunuh waktu.

Seperti kehadiran Friendster yang pertama kali, tak ada tujuan jelas ketika menggunakannya. Hanya untuk penampakan dalam memperkenalkan diri secara online. Begitu juga ketika kali pertama menggunakan Facebook, entahlah tak ada tujuan khusus dalam membuat akun.

Waktu berjalan, tujuan saya dalam penggunaan media sosial juga mengalami perubahan. Dulu ketika masih lajang dan Facebook belum diserang akun alay dan palsu, tuuan saya begitu sederhana, menebar jejaring pesona untuk menggait lawan jenis. Saya lelaki normal. Bukan hanya Facebook, hampir setiap ada media sosial baru muncul, saya sebisa mungkin membuat akunnya.

Kini, setelah tujuan utama bermain media sosial terpenuhi, pesona bermain media sosial memudar. Saya menikah, kemudian buat apa lagi menebar jejaring pesona di media sosial? Yang ada malah saya mulai sedikit demi sedikit mengurangi jejak data personal di media sosial.

Masa-masa saat tulisan ini saya torehkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika media sosial bakal berkembang seperti sekarang. Bahkan media sosial mulai menjadi kebutuhan pokok akan informasi kebanyakan orang. Menguasai hajat hidup orang banyak.

Entahlah, tulisan ini hanya berupa opini atas pengamatan pribadi. Bisa saja saya terlalu berlebihan dalam menilai pengaruh media sosial. Khususnya dalam hal penetrasi media sosial dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari.

Jadi, sebenarnya ngapain sih kita dolan media sosial?

Salam,
DiPtra

Mengenang Friendster

Memang Facebook saat ini adalah media sosial paling moncer. Namun pada tahun 2002, Facebook belumlah sesuatu yang memiliki eksistensi. Dunia internet barulah meggeliat. Saat itu, pergerakan pengguna media sosial diawali oleh Friendster yang merebak bak cendawan di musim penghujan.

Friendster adalah media sosial besutan Jonathan Abrams seorang programer berkebangsaan Kanada. Nama Friendster sendiri diambil dari utak-atik kata “friend” dan “Napster”, di mana Napster saat itu adalah situs peer-to-peer terpopuler untuk berbagi musik.

Saya sendiri mulai menggunakan Friendster sekitar tahun 2004. Navis, salah seorang teman kuliah saya menceritakan asiknya bermain Friendster. Membuat profil online agar dikenal di dunia maya. Friendsterlah yang menyulut jiwa narsis kebanyakan anak muda saat itu, termasuk saya.

Selain menyulut jiwa narsis yang menggelegak dalam usia muda, Friendster juga menyibak sisi-sisi alay yang saya miliki. Untunglah Friendster sudah tidak beroperasi sejak 14 Juni 2015. Jadi jejak-jejak kealayan generasi saya sudah terkubur.

http _mashable.com_wp-content_uploads_2014_01_Screen-Shot-2014-01-29-at-1.09.47-PM-640x298
Halaman depan Friendster via Mashable.com
Lantas apa saja sih kenangan keasyikan kala bermain Friendster sebelum dia meninggal? Berkut ini saya coba sajikan berdasarkan pengalaman pribadi, keseruan bermain Friendster saat itu.

Perlombaan Jumlah Teman

Saat itu rasanya seru sekali memiliki jumlah teman hingga mencapai angka ribuan. Dengan beberapa teman kuliah saya semacam melakukan perlombaan dalam menambah jumlah teman.

Khususnya teman-teman berjenis kelamin perempuan dengan profil kece dan foto selfie yang menawan. Tingkat kegaulan seseorang dinilai dari banyaknya jumlah teman di Friendster.

Ternyata perilaku ini masih berlaku pada media sosial yang ada sekarang ini. Jumlah follower dijadikan sebagai patokan kepopuleran seseorang. Menambah jejaring pertemanan untuk meluaskan pergaulan.

Stalking Calon Gebetan

Hal ini masih berlaku juga kok di era media sosial sekarang. Karena begitu terkenalnya Friendster saat itu, dan hampir setiap anak gaul memiliki akun Friendster, maka aktifitas stalking atau mematai-matai cewek yang sedang menjadi inceran aman dilakukan.

Sebelum melakukan pedekate lebih lanjut melihat-lihat profil Friendster adalah sebuah keharusan. Jika profil Friendsternya keren maka akan semakin bersemangat untuk mengejar sang pujaan hati.

Namun jangan salah, Friendster juga memuaskan hasrat para penggemar rahasia memata-matai sang pujaan hati. Paling tidak kerinduan terhadap pujaan hati dan kepengecutan untuk mengungkapkan isi hati terakomodasi dengan baik oleh Friendster.

friendster_hipwee
Profil Sandra Dewi
Meeh kalo stalking Sandra Dewi sih macam pungguk merindukan bulan.

Utak-atik Profil

Keasyikan lainnya adalah mengutak-atik profil Friendster yang dimiliki. Mengganti background profil dengan gambar yang keren adalah sebuah keharusan.

Menambahkan animasi flash pada halaman profil bisa meningkatkan level kekerenan sebesar 75%. Mengganti foto profil dengan gaya paling alay adalah sebuah keharusan.

Tak hanya itu, meng-update deskripsi di halaman profile adalah sebuah keharusan. Saat itu saya begitu polos, tidak menyadari bakal adanya akun-akun dengan profil palsu.

Ngerjain Teman Melalui Bulletin dan Hacking Akun

Dulu ada fitur bulletin di Friendster. Fungsinya mirip seperti wall atau newsfeed miliki Facebook.

Untuk ngerjain seorang teman, biasanya saya membuat judul bulletin dengan menyangkut nama teman yang menjadi terget keusilan. Namun, saat itu jumlah feed yang muncul di bulletin dibatasi.

Momen bermain Friendster juga merupakan awal-awal persinggungan saya dengan dunia internet. Saat itu termhacking” nampak begitu keren. Sebagai anak alay penggiat Friendster maka aktifitas ngehacking akun seseorang menjadi keasyikan tersendiri.

Saat itu, akun profil Friendster rawan untuk di-inject script jahat untuk mengambil alih atau men-deface profile Friendster. Tapi untunglah saat itu akun Friendster belum terkoneksi dengan aktifitas  finansial.


Lebih kurang begitulah keasyikan ketika bermain Friendster jaman dulu yang tentu masih bisa dinikmati pada macam-macam media sosial yang ada sekarang. Friendster menjadi pionir dalam meletakkan batu pertama bangunan media sosial.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi ada beberapa hal yang menjadi penyebab kemunduran Friendster. Salah satu penyebab utamanya adalah perkembangan Facebook yang begitu pesat.

Saya pun saat itu merasakan Friendster mulai membosankan. Dari masa lebih kurang tiga tahun menggunakan Friendster saya merasakan pertumbuhan fitur Friendster yang stagnan. Saat itu Friendster hanya mengubah tata letak halaman profil. Sedangkan Facebook yang mulai menggeliat dengan cepat menyuntikkan fitur-fitur interaksi antar penggunanya dengan baik.

Mark Zuckerberg jeli melihat peluang bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi secara sosial. Salah satu inti bangunan media sosial adalah interaksi antar penggunanya, bukan semata-mata kekerenan halaman profil akun media sosial.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca artikel nostalgia ini. Lalu apakah kamu punya kenangan dan keasyikan tersendiri terhadap Friendster sang pionir media sosial di awal millenium ini?

Salam,
DiPtra


Featured images by Sidharth Bhatia on Unsplash

Tema Bulanan

Semenjak awal Mei lalu, tanpa saya sadari saya menerapkan tema bulanan yang ingin saya tuliskan di blog ini. Di Bulan Mei, saya sudah menuliskan secara rutin selama tiga puluh satu hari hal-hal yang berkaitan dengan mindfulness.

Bulan selanjutnya saya mencoba memfokuskan diri untuk menulis perihal bernafaskan spirit puasa. Rencana awalnya saya ingin menulis rutin setiap hari mengenai puasa Ramadhan seperti tahun lalu. Namun rupanya kemalasan menulis bersenyawa dengan kesibukan kerja membuat saya tertatih-tatih untuk menulis.

Belum lagi ketika kemuakan untuk menulis menghinggapi alam semangat saya. Rasanya saat itu saya pingin hiatus menulis selama satu bulan.

Namun rupanya ketika perlahan-lahan saya mulai membaca buku, hasrat untuk mulai menulis hadir kembali.

Menjelang akhir Ramadhan saya mulai menikmati interaksi dengan Al-Qur’an. Membaca tartil teks bahasa Arab Al-Qur’an sembari membaca terjemahannya setelah itu. Ternyata ada keasyikan tersendiri ketika mendalami terjemahan Al-Qur’an. Betapa selama ini saya hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti di belakangnya.

Saya tahu untuk menyelami kedalaman kandungan Al-Qur’an tidak cukup hanya bermodalkan terjemahan bahasa Indonesia. Tapi sebagai gerbang pembuka kecintaan terhadap pesan-pesan suci ilahi, paling tidak saya harus mengerti arti dalam bahasa Indonesia dari teks bahasa Arab yang disuguhkan di dalam Al-Qur’an.

Ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an itu saya perlahan-lahan menyesali waktu-waktu yang telah berlalu. Khususnya waktu yang ditelan tanpa sadar dan semena-mena oleh macam-macam media sosial.

Seiring dengan kesadaran akan media sosial ini, inginnya sih di bulan Juli ini saya mengetengahkan tema yang berkaitan dengan media sosial. Baru ada bayangan kasar apa saja yang hendak saya bahas berkaitan dengan media sosial di blog ini.

Memang pada beberapa tulisan yang telah lalu saya sesekali membahas tentang media sosial. Maka pada kesempatan kali ini, untuk tema bulanan saya mencoba mengetengahkan pengalaman selama menggunakan media sosial. Keuntungan dan kerugian yang dihasilkan oleh media sosial. Pandangan orang lain berkaitan dengan media sosial rasanya ingin saya ketengahkan dalam blog ini.

Mengingat distraksi yang dihadirkan oleh media sosial dalam kehidupan sehari-hari kita mulai terasa mengganggu. Tujuan pengambilan tema bulanan tentang fenomena media sosial ini bukan hendak memusuhi kehadiran media sosial. Namun lebih kepada self reminder agar lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial.

Media sosial memang telah menjadi bagian dalam kehiduan kita. Rasanya agak mustahil jika harus benar-benar mencerabut media sosial dalam kehidupan. Selain itu media sosial tak melulu berdampak negatif, banyak orang yang memperoleh benefit secara materil maupun non meteril ketika berinteraksi dengan media sosial.

Media sosial bersifat netral, niat atau tujuan penggunanya lah yang menentukan arahnya. Masalahnya banyak orang menggunakan media sosial tanpa tujuan yang jelas, banyak yang hanya ikut-ikutan dan sekedar ingin eksis.

Selamat menikmati hujan di bulan Juli.

Salam.
DiPtra


Featured Images by Eric Rothermel on Unsplash

Kesunyian Lebaran

Ingatan saya akan keceriaan dan kegembiraan lebaran semasa kecil tidak terlalu banyak. Momen-momen berkumpul dengan sepupu-sepupu pun tak saya cecap terlalu lama. Setelah berkumpul di rumah mbah kung hingga siang, mulailah sepupu-sepupu saya ikut orang tuanya mudik ke kota tempat tinggal kakek-nenek dari pihak menantu mbah kung saya.

Sedangkan saya bersama adik dan kakak stay di rumah mbah kung. Ayah saya sebagai menantu dari mbah kung, jarang mudik. Mengingat lokasi kampung halaman Ayah yang lumayan jauh di pulau Sumtera. Selain itu durasi liburan sekolah ketika lebaran terlalu singkat jika harus ditukarkan dengan prosesi mudik ke kampung halaman Ayah. Jadilah saya bersama kakak dan adik saya menjadi penjaga kandang di Malang ketika lebaran. Menemani mbah Kung dan mbah Uti menjalani suasana hari-hari lebaran di Malang.

Belum lagi setelah mbah Kung dan mbah Uti saya meninggal di penghujung abad 20. Suasana lebaran yang saya rasakan di Malang semakin sunyi.

Malang sebagai kota pelajar memang ramai oleh pendatang yang menuntut ilmu di universitas atau pun sekolah tinggi yang tersebar di Malang. Namun ketika musim liburan datang seperti lebaran, maka sekonyong-konyong Malang menjadi kota yang begitu sepi.

Ketika malam hanya terdengar suara jangkrik yang di hari-hari biasa suaranya teredam oleh deru kendaraan bermotor. Ketika siang suasana di kampung saya mendadak senyap, hanya terdengar satu dua suara kendaraan berlalu-lalang.

Hingga tujuh tahun lalu, akhirnya saya merasai mudik rutin ke kampung halaman. Iya, sejak tujuh tahun lalu saya merantau ke Ibu kota menjemput jalan rezeki.

Suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman selama di perjalanan mudik mulai saya rasakan. Bertemu dengan kedua orang tua, beserta saudara-saudara.

Semenjak menikah dan memiliki anak, rasa suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman semakin menjadi-jadi. Pasalnya anak dan istri saya menetap di Malang.

Memang rasa rindu itu menyayat-nyayat hati ketika sedang di perantauan. Namun, ketika rasa rindu itu terbayarkan dengan pertemuan, rasanya begitu tak terlukiskan.

Apa hendak di kata, lebaran tahun ini saya merasakan lebaran paling sunyi yang pernah saya alami. Memang saya melepas rindu bersama istri dan anak, namun ada sesuatu yang hilang dalam momen lebaran ini.

Pertama, baru tahun ini saya merayakan lebaran tanpa disertai oleh kedua orang tua. Kedua orang tua saya sedang menjalankan ibadah umroh. Keduanya berangkat sepekan sebelum lebaran dan menghabiskan momen idul fitri di Mekkah selama sepekan.

Praktis di rumah kedua orang tua, saya hanya mendapati adik lelaki satu-satunya. Apalagi kami berdua tidak menyukai formalitas. Jadi tak ada itu basa-basi lebay ucapan idul fitri antara saya dan adik saya. Seperti ada telepati jika kami sudah saling memaafkan, itu pun saya tak pernah merasa adik saya melakukan kesalahan kepada saya. Alhamdulillah walau ketika kecil kami sesekali bertengkar, namun ketika beranjak dewasa kehidupan saya berserta saudara kandung adem ayem saja.

Bulik dan Paklik saya pun yang tinggal di Malang hanya ada dua. Itu pun jarak rumahnya berdekatan, jadi selow saja untuk bersilaturrahim.

Kedua, lebaran tahun 2017 ini benar-benar total jaga rumah. Ibu mertua saya baru saja selesai menjalani opname sepekan menjelang lebaran. Saat ini sedang menjalani masa pemulihan.

Kebetulan saya sebagai anak mantu yang berasal dari Malang, bahkan masih satu Kecamatan. Sedangkan anak mantu lainnya berasal dari luar kota. Jadi saya beserta istri harus mendermakan waktu untuk menemani masa pemulihan Ibu mertua.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika lebaran tiba, keluarga besar istri saya rutin melakukan silaturahim ke kempung keluarga besarnya. Baru tahun ini ketika hari H lebaran tiba, saya beserta istri berdiam diri di rumah saja. Sesekali saudara dari pihak istri saya datang bersilaturrahim dan sekaligus membesuk Ibu mertua yang sedang dalam masa pemulihan.

Belum lagi rumah mertua saya berada di kompleks perumahan yang terbilang sepi. Makin lengkaplah kesunyian lebaran yang saya rasakan tahun ini.

Ternyata suasana sunyi ketika lebaran itu menghadirkan rasa nelongso di hati. Tapi kemudian rasa nelongso yang saya hadapi ini belum ada apa-apanya ketika saya mendapati sebagian orang harus tetap bekerja di masa-masa lebaran ini, seperti pekerja wisata, rumah makan, pom bensin, minimarket dan pelayanan publik lainnya. Salam hormat kepada setiap individu yang menegasikan momen lebarannya demi pelayanan publik.

Salam,
DiPtra


featured image by Tim Marshall on Unsplash

Tak Keluar di Reader WordPress

Beberapa bulan lalu saya menggunakan fitur domain mapping yang disediakan oleh WordPress.com. Alasan sederhana yang saya waktu itu adalah tak ingin repot dengan urusan hosting dan tetek bengek-nya.

Alasan keduanya adalah, saya pingin selow ajah berinteraksi dengan teman-teman sesama pengguna WordPress.com lainnya. Karena saya melihat evolusi WordPress.com dari tahun ke tahun yang semakin membaik. Tidak hanya melulu fokus pada pengembangan CMS, namun juga mulai menyentuh sisi media sosial dan interaksi. Automattic perusahaan yang menaungi WordPress.com mulai membentuk WordPress.com sebagai platform layaknya media sosial.

Yaak, setelah mapping domain diptra.com terhubung dengan blog saya di WordPress.com saya mulai menikmati ngeblog dengan tampilan editor baru WordPress.com.

Ternyata permasalahan di Reader WordPress.com ketika saya menggunakan selfhosted blog belum juga teratasi. Masalah yang saya hadapi pada Reader WordPress.com adalah tidak munculnya tab komentar di bawah snippet tulisan. Semacam menyusahkan pembaca jika ingin meninggalkan jejak melalui Reader WordPress.com. Jadi pembaca harus mengunjungi halaman blog saya dulu melalui browser untuk meninggalkan komentar.

Beberapa waktu kemudian malah terjadi hal yang lebih parah. Tulisan terbaru saya tidak muncul di Reader WordPress.com. Walah lha kok malah makin runyam urusannya ketika saya menggunakna fitur domain mapping dari WordPress.com.

Beberapa waktu lalu di akhir tahun 2016, saya mengajukan request untuk domain mapping untuk page publication ini kepada pihak Medium. Alhamdulillah disetujui untuk domain mapping diptra.com ke page publication Medium milik saya. Namun saya telat untuk mengeksekusinya. Akhirnya ticket untukmelakukan domain mapping dari pihak Medium kadaluarsa.

Kini untuk melakukan domain mapping, Medium merubah aturannya. Pengguna Medium dikenakan biaya $75 per-domain yang ingin di-mapping. Biaya $75 ini dikenakan sekali saja. Sehingga untuk selanjutnya tinggal memperpanjang sewa domain saja.

Sedangkan domain mapping pada WordPress.com, selain membayar sewa domain, kita juga tetap harus membayar biaya domain mapping pertahun sebesar $13. Tapi kalo dihitung-hitung ulang sih masih lebih murah menggunakan mapping domain dari WordPress.com jika rencana blog kita selama lima tahun. Lebih dari lima tahun, maka domain mapping pada Medium akan lebih murah.

Tapi yaa kalo dipikir-pikir lagi, ngeblog dengan konsistensi selama lima tahun itu bukanlah hal yang mudah. Saat ini saja baru jalan tiga tahun rutin ngeblog dan itu pun sesekali tertatih-tatih. Baru menemukan feel ngeblog itu dua tahun belakangan ini.

Oh iya terakhir, penyedia persewaan domain (lokal) yang saya gunakan saat ini agak sedikit nggaphlek’i. Manajemen domain yang dimiliki kurang bagus. Masalahnya adalah, saya sudah terlanjur menyewa domain hingga Februari tahun 2019. Setelah itu mungkin saya akan mempertimbangkan untuk memindahkan tempat menyewa domain.

Antarmuka editor yang dimiliki oleh Medium sangatlah memanjakan untuk menulis. WordPress pun akhir-akhir ini saya lihat mulai meniru antarmuka editor yang dimiliki oleh Medium.

Kabarnya WordPress sedang mengembangkan editor dengan codename Gutenberg Project. Saat ini Gutenberg Editor masih berupa plugin pada WordPress selfhosted.Tak sabar rasanya untuk mencobanya pada WordPress.com.

Berikut ini informasi mengenai Gutenberg Project pada WordPress.com via Youtube.

Sekian dulu curhatan tentang Medium dan WordPress kali ini. Saya mau jalan-jalan dulu mumpung masih dalam suasana liburan.

Salam..
DiPtra.


Featured image by Sam Wheeler on Unsplash

Menjadi Pendiam

Menjadi pendiam itu ternyata menyenangkan juga. Semacam mengurangi interaksi dengan orang lain. Mengurangi interaksi dengan orang lain, secara tidak langsung juga mengurangi potensi salah paham. Salah paham ini nantinya memunculkan potensi masalah yang cukup runyam. Macam kesalahpahaman Nabi Musa A.S terhadap perilaku Nabi Khidir A.S.

Berkurangnya potensi masalah berkorelasi dengan meningkatnya ketenangan hidup. Hidup ayem tentrem tanpa banyak gonjang-ganjing.

Bahkan ketika memutuskan untuk memperbanyak diam saja, masalah masih satu persatu datang menghampiri. Apalagi jika memperbanyak ucap dalam interaksi dengan sesama.

Dengan pemikiran agak nyeleneh ini, saya selama dua pekan ini berangsur-angsur mulai mengurangi interaksi di dunia maya. Untuk media sosial sudah cukup lama saya kurangi intensitas penggunaanya. Namun, untuk aplikasi chatting khususnya pada macam-macam grup Whatsapp yang saya ikuti, interaksi yang saya jalani masih cukup intens.

Maka, selama dua pekan ini saya benar-benar mengurangi interaksi chatting dalam grup Whatsapp. Sejak 2015 sudah cukup banyak grup Whatsapp yang saya ikuti. Apalagi dengan model grup Whatsapp dengan lalu lintas obrolan yang begitu padat. Saya kerap kehilangan jejak pada obrolan Whatsapp dengan lalu lintas yang begitu padat. Mau ikut nimbrung kadang sungkan juga. Apalagi kalo dicuekin, rasanya pedih haha.

Tapi untunglah semenjak baligh dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya sudah biasa dicuekin oleh cewek yang sedang menjadi inceran. Yaa iyalah wong incerannya Marsha Timothy.

Memang benar sih saya sedang merasakan kenyamanan beberapa hari ini ketika memutuskan menjadi sedikit pendiam. Mengurangi banyak cakap. Lagipula saya sedang kehilangan semangat untuk berkomunikasi atau membuka komunikasi dengan orang baru.

Eh menjadi pendiam di dunia maya maksud saya nih yaa. Berlagak menjadi misterius dengan menjadi pendiam. Menjadi pendiam mungkin sering disalahartikan sebagai sifat angkuh. Padahal penyebab seseorang menjadi pendiam sangat beragam.

Tiba-tiba saya kok kepikiran menjadi pendiam ini sebagai salah satu perwujudan puasa dalam hal lisan. Teringat juga akan penyebab tergelincirnya manusia dalam debu-debu perseteruan juga diakibatkan lisan yang tidak terjaga. Lisannya ga disekolahin.
Pada tahap yang lebih parah, banyak manusia terperosok ke lembah neraka dikarenakan lisan. Lisan yang tajam menyayat hati dan perasaan. Luka di permukaan kulit boleh lah menjadi kering dan sembuh dalam jangka waktu tiga hari. Namun luka yang tergores di hati bisa sepanjang hidup menunggu kesembuhan.

Tengoklah percekcokan yang kerap terjadi dalam bahtera rumah tangga. Permasalahan ucapan lisan yang menyayat hati kerap menjadi pemicunya.
Dalam era digital seperti saat ini, lisan memiliki perpanjangan ucap pada jemari tangan. Jika kita mengamati pergerakan topik di media sosial, selalu saja ada kegaduhan yang diperbincangkan. Jika ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakmampuan menahan jemari tangan untuk menuliskan hal-hal pedas.

Coba kita ingat-ingat kembali kisah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang mengulum batu kerikil demi menjaga lisannya. Ketika hendak bercakap-cakap, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq terlebih dahulu mengeluarkan batu kerikil yang ada di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh beliau adalah sebentuk kehati-hatian atas amanah lisan.

Entah apa kira-kira yang bakal dilakukan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq jika mendapati perilaku interaksi manusia di abad digital internet ini. Mengulum guna kerikil guna menjaga lisan tentu tidak relevan dengan kondisi komunikasi bermedium digital seperti saat ini. Puasa dari bentuk-bentuk interaksi digital di internet mungkin bisa menjadi salah satu solusinya.

Berkaitan dengan produktifitas ketika mengurangi aktifitas lisan baik secara offline maupun online, maka saya merasakan peningkatan. Waktu-waktu yang biasanya tersita untuk berinteraksi secara digital terkonversi pada kegiatan lain seperti membaca ataupun menulis. Kebetulan saja saya mempunyai hobi membaca.

Selain itu, dengan memperbanyak diam membuat saya memiliki waktu lebih luang untuk kembali bertafakkur. Sejenak beruzlah dari keriuhan, khususnya keriuhan dari media sosial.

Akhirul kalam semoga tulisan ini tidak terlalu panjang. Jika ada salah kata mohonlah kiranya dimaafkan. Dibukakan keluasan hatinya untuk memaafkan apa-apa yang sudah pernah saya tuliskan selama ngeblog beberapa waktu ini.

Salam,
DiPtra


Featured images by Claudia Soraya on Unsplash

Butuh Berapa Banyak Nasihat?

Saya pernah kepikiran suatu pertanyaan berkaitan dengan nasihat. Kira-kira, kita ini butuh berapa banyak nasihat untuk menjadi orang baik, orang sukses, orang berhasil? Pertanyaan ini  terlontar ketika saya mendapati diri saya begitu bosan waktu membaca quote ataupun artikel-artikel yang berisi nasihat atau motivasi.

Hingga bertanya-tanya apakah saya sudah menjadi orang yang keras kepala sehingga merasa bosan dengan motivasi. Jangan-jangan kerak pada cermin hati saya sudah sedemikian tebalnya sehingga mental saja ketika membaca tulisan bermuatan nasihat. Atau lebih menyeramkan lagi jika saya tergolong kedalam makhluk berwatak sombong yang tak tersentuh dengan nasihat.

Sampai-sampai, saya mengajukan pertanyaan ini kepada teman-teman saya. Untuk menjadi baik kita butuh berapa banyak nasihat?

Ternyata ribuan nasihat pun tidak akan berguna jika tidak ada keinginan untuk berubah. Tak hanya ribuan, bahkan jutaan nasihat pun tak mampu menggerakkan orang yang memang tidak mau berubah.

Jika melihat banyaknya nasihat yang berterbangan di jagat literasi analog maupun digital, rasanya nasihat itu tak ada habisnya. Ada saja yang menuliskan nasihat agar dibaca orang lain, ada juga yang membagikannya ulang. Sebagian sekedar mencuplik kata-kata bijak yang ada dalam suatu tulisan genre nasihat.

Buku-buku genre nasihat pun tak pernah habis di rak-rak toko buku. Selalu ada saja buku yang berisi nasihat baru ataupun buku nasihat lama dengan kemasan baru.

Bisa jadi nasihat yang terus bermunculan hadir ini sebagai salah satu indikasi banyak manusia yang tak ingin berubah. Berkali-kali membaca dan mendenagar nasihat tapi tak kunjung ada perubahan dalam hidup.

Atau bisa jadi seperti yang sedang saya alami, terlalu bosan membaca tulisan ber-genre nasihat. Sehingga menjadi kebas terhadap nasihat yang didapatkan.

Bisa juga otak saya kacanduan oleh nasihat, sehingga ketagihan mencari nasihat-nasihat baru yang memuaskan dahaga kebijaksanaan sesaat. Setiap mendapat nasihat baru, ada suntikan dopamine menjalar di dalam otak.

Tapi tidak menutup kemungkinan kebutuhan akan nasihat ini sebagai sebentuk usaha untuk menjaga konsistensi dalam berlaku baik. Mengkondisikan diri dalam aura kebaikan agar tidak terperosok ke lubang keburukan.

Memang tabiatnya manusia sih ya yang selalu membutuhkan alarm berupa nasihat. Karena tabiat dasar manusia memang pelupa.

Dari jaman dahulu Tuhan selalu mengutus nabi dan rasul kepada umat manusia. Salah satu tujuan pengutusan nabi dan rasul adalah untuk memberikan nasihat kepada manusia. Memang kebanyakan manusia suka nggandhemi, isuk dele sore tempe.

Terus terang, saya menulis ini untuk menasihati diri sendiri yang sedang merasa kebas terhadap nasihat. Waleh terhadap nasihat. Agak gemes juga terhadap diri sendiri yang kerap mbalelo terbujuk oleh rayuan iblis setelah mendengar nasihat.

Pada sisi yang lainnya, saya juga merasa gemes dengan orang-orang yang kerap membagikan nasihat untuk pencitraan. Tak ada perubahan signifikan dalam kehidupannya setelah membagikan nasihat. Bahkan yang paling parah adalah ketika saya mendapati orang yang dulunya begitu galak menyampaikan nasihat, memberikan judgement atas perilaku orang lain, eh ndilalah di kemudian hari, dia sendiri melanggar nasihat yang dia sampaikan sendiri.

Ini kan namanya nggaphlek’i kuadarat. Iyaaa, macem saya ini tipikal manusia nggaphlek’i kuadrat. Suka sekali mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Apa kamu juga merasakan unsur-unsur nggaphlek’i kuadrat bersemayam dalam dirimu? Bahahaha saya bukan bermaksud mennyindir lhoo yaa. Tapi yaa kalo merasa tersindir saya mohon maaf mumpung aroma suasana lebaran masih terendus.

Yak dari tulisan singkat ini, saya ingin menarik satu kesimpulan. Sebenarnya bukan perkara ketagihan nasihat atau kebas terhadap nasihat, tapi sepemahaman saya saat ini, salah satu sifat nasihat layaknya seperti obat. Dibutuhkan resep dan dosis tertentu pada nasihat agar kemanjurannya dapat dirasakan olah penerima nasihat.

Maka dari itu, temukan resep dan dosis nasihat yang tepat untuk dirimu sendiri. Jangan sok-sokan membagikan nasihat tentang parenting padahal dirimu sendiri masih kebingungan menentukan pasangan hidup.

Oh iya, tulisan ini juga saya maksudkan sebagai perwujudan ayat ketiga surat Al-Ashr. Semoga bermanfaat.

Salaaaa….mmm,
DiPtra.


Featured Photo by Ben White on Unsplash