Tema Bulanan

Semenjak awal Mei lalu, tanpa saya sadari saya menerapkan tema bulanan yang ingin saya tuliskan di blog ini. Di Bulan Mei, saya sudah menuliskan secara rutin selama tiga puluh satu hari hal-hal yang berkaitan dengan mindfulness.

Bulan selanjutnya saya mencoba memfokuskan diri untuk menulis perihal bernafaskan spirit puasa. Rencana awalnya saya ingin menulis rutin setiap hari mengenai puasa Ramadhan seperti tahun lalu. Namun rupanya kemalasan menulis bersenyawa dengan kesibukan kerja membuat saya tertatih-tatih untuk menulis.

Belum lagi ketika kemuakan untuk menulis menghinggapi alam semangat saya. Rasanya saat itu saya pingin hiatus menulis selama satu bulan.

Namun rupanya ketika perlahan-lahan saya mulai membaca buku, hasrat untuk mulai menulis hadir kembali.

Menjelang akhir Ramadhan saya mulai menikmati interaksi dengan Al-Qur’an. Membaca tartil teks bahasa Arab Al-Qur’an sembari membaca terjemahannya setelah itu. Ternyata ada keasyikan tersendiri ketika mendalami terjemahan Al-Qur’an. Betapa selama ini saya hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti di belakangnya.

Saya tahu untuk menyelami kedalaman kandungan Al-Qur’an tidak cukup hanya bermodalkan terjemahan bahasa Indonesia. Tapi sebagai gerbang pembuka kecintaan terhadap pesan-pesan suci ilahi, paling tidak saya harus mengerti arti dalam bahasa Indonesia dari teks bahasa Arab yang disuguhkan di dalam Al-Qur’an.

Ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an itu saya perlahan-lahan menyesali waktu-waktu yang telah berlalu. Khususnya waktu yang ditelan tanpa sadar dan semena-mena oleh macam-macam media sosial.

Seiring dengan kesadaran akan media sosial ini, inginnya sih di bulan Juli ini saya mengetengahkan tema yang berkaitan dengan media sosial. Baru ada bayangan kasar apa saja yang hendak saya bahas berkaitan dengan media sosial di blog ini.

Memang pada beberapa tulisan yang telah lalu saya sesekali membahas tentang media sosial. Maka pada kesempatan kali ini, untuk tema bulanan saya mencoba mengetengahkan pengalaman selama menggunakan media sosial. Keuntungan dan kerugian yang dihasilkan oleh media sosial. Pandangan orang lain berkaitan dengan media sosial rasanya ingin saya ketengahkan dalam blog ini.

Mengingat distraksi yang dihadirkan oleh media sosial dalam kehidupan sehari-hari kita mulai terasa mengganggu. Tujuan pengambilan tema bulanan tentang fenomena media sosial ini bukan hendak memusuhi kehadiran media sosial. Namun lebih kepada self reminder agar lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial.

Media sosial memang telah menjadi bagian dalam kehiduan kita. Rasanya agak mustahil jika harus benar-benar mencerabut media sosial dalam kehidupan. Selain itu media sosial tak melulu berdampak negatif, banyak orang yang memperoleh benefit secara materil maupun non meteril ketika berinteraksi dengan media sosial.

Media sosial bersifat netral, niat atau tujuan penggunanya lah yang menentukan arahnya. Masalahnya banyak orang menggunakan media sosial tanpa tujuan yang jelas, banyak yang hanya ikut-ikutan dan sekedar ingin eksis.

Selamat menikmati hujan di bulan Juli.

Salam.
DiPtra


Featured Images by Eric Rothermel on Unsplash

Kesunyian Lebaran

Ingatan saya akan keceriaan dan kegembiraan lebaran semasa kecil tidak terlalu banyak. Momen-momen berkumpul dengan sepupu-sepupu pun tak saya cecap terlalu lama. Setelah berkumpul di rumah mbah kung hingga siang, mulailah sepupu-sepupu saya ikut orang tuanya mudik ke kota tempat tinggal kakek-nenek dari pihak menantu mbah kung saya.

Sedangkan saya bersama adik dan kakak stay di rumah mbah kung. Ayah saya sebagai menantu dari mbah kung, jarang mudik. Mengingat lokasi kampung halaman Ayah yang lumayan jauh di pulau Sumtera. Selain itu durasi liburan sekolah ketika lebaran terlalu singkat jika harus ditukarkan dengan prosesi mudik ke kampung halaman Ayah. Jadilah saya bersama kakak dan adik saya menjadi penjaga kandang di Malang ketika lebaran. Menemani mbah Kung dan mbah Uti menjalani suasana hari-hari lebaran di Malang.

Belum lagi setelah mbah Kung dan mbah Uti saya meninggal di penghujung abad 20. Suasana lebaran yang saya rasakan di Malang semakin sunyi.

Malang sebagai kota pelajar memang ramai oleh pendatang yang menuntut ilmu di universitas atau pun sekolah tinggi yang tersebar di Malang. Namun ketika musim liburan datang seperti lebaran, maka sekonyong-konyong Malang menjadi kota yang begitu sepi.

Ketika malam hanya terdengar suara jangkrik yang di hari-hari biasa suaranya teredam oleh deru kendaraan bermotor. Ketika siang suasana di kampung saya mendadak senyap, hanya terdengar satu dua suara kendaraan berlalu-lalang.

Hingga tujuh tahun lalu, akhirnya saya merasai mudik rutin ke kampung halaman. Iya, sejak tujuh tahun lalu saya merantau ke Ibu kota menjemput jalan rezeki.

Suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman selama di perjalanan mudik mulai saya rasakan. Bertemu dengan kedua orang tua, beserta saudara-saudara.

Semenjak menikah dan memiliki anak, rasa suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman semakin menjadi-jadi. Pasalnya anak dan istri saya menetap di Malang.

Memang rasa rindu itu menyayat-nyayat hati ketika sedang di perantauan. Namun, ketika rasa rindu itu terbayarkan dengan pertemuan, rasanya begitu tak terlukiskan.

Apa hendak di kata, lebaran tahun ini saya merasakan lebaran paling sunyi yang pernah saya alami. Memang saya melepas rindu bersama istri dan anak, namun ada sesuatu yang hilang dalam momen lebaran ini.

Pertama, baru tahun ini saya merayakan lebaran tanpa disertai oleh kedua orang tua. Kedua orang tua saya sedang menjalankan ibadah umroh. Keduanya berangkat sepekan sebelum lebaran dan menghabiskan momen idul fitri di Mekkah selama sepekan.

Praktis di rumah kedua orang tua, saya hanya mendapati adik lelaki satu-satunya. Apalagi kami berdua tidak menyukai formalitas. Jadi tak ada itu basa-basi lebay ucapan idul fitri antara saya dan adik saya. Seperti ada telepati jika kami sudah saling memaafkan, itu pun saya tak pernah merasa adik saya melakukan kesalahan kepada saya. Alhamdulillah walau ketika kecil kami sesekali bertengkar, namun ketika beranjak dewasa kehidupan saya berserta saudara kandung adem ayem saja.

Bulik dan Paklik saya pun yang tinggal di Malang hanya ada dua. Itu pun jarak rumahnya berdekatan, jadi selow saja untuk bersilaturrahim.

Kedua, lebaran tahun 2017 ini benar-benar total jaga rumah. Ibu mertua saya baru saja selesai menjalani opname sepekan menjelang lebaran. Saat ini sedang menjalani masa pemulihan.

Kebetulan saya sebagai anak mantu yang berasal dari Malang, bahkan masih satu Kecamatan. Sedangkan anak mantu lainnya berasal dari luar kota. Jadi saya beserta istri harus mendermakan waktu untuk menemani masa pemulihan Ibu mertua.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika lebaran tiba, keluarga besar istri saya rutin melakukan silaturahim ke kempung keluarga besarnya. Baru tahun ini ketika hari H lebaran tiba, saya beserta istri berdiam diri di rumah saja. Sesekali saudara dari pihak istri saya datang bersilaturrahim dan sekaligus membesuk Ibu mertua yang sedang dalam masa pemulihan.

Belum lagi rumah mertua saya berada di kompleks perumahan yang terbilang sepi. Makin lengkaplah kesunyian lebaran yang saya rasakan tahun ini.

Ternyata suasana sunyi ketika lebaran itu menghadirkan rasa nelongso di hati. Tapi kemudian rasa nelongso yang saya hadapi ini belum ada apa-apanya ketika saya mendapati sebagian orang harus tetap bekerja di masa-masa lebaran ini, seperti pekerja wisata, rumah makan, pom bensin, minimarket dan pelayanan publik lainnya. Salam hormat kepada setiap individu yang menegasikan momen lebarannya demi pelayanan publik.

Salam,
DiPtra


featured image by Tim Marshall on Unsplash

Tak Keluar di Reader WordPress

Beberapa bulan lalu saya menggunakan fitur domain mapping yang disediakan oleh WordPress.com. Alasan sederhana yang saya waktu itu adalah tak ingin repot dengan urusan hosting dan tetek bengek-nya.

Alasan keduanya adalah, saya pingin selow ajah berinteraksi dengan teman-teman sesama pengguna WordPress.com lainnya. Karena saya melihat evolusi WordPress.com dari tahun ke tahun yang semakin membaik. Tidak hanya melulu fokus pada pengembangan CMS, namun juga mulai menyentuh sisi media sosial dan interaksi. Automattic perusahaan yang menaungi WordPress.com mulai membentuk WordPress.com sebagai platform layaknya media sosial.

Yaak, setelah mapping domain diptra.com terhubung dengan blog saya di WordPress.com saya mulai menikmati ngeblog dengan tampilan editor baru WordPress.com.

Ternyata permasalahan di Reader WordPress.com ketika saya menggunakan selfhosted blog belum juga teratasi. Masalah yang saya hadapi pada Reader WordPress.com adalah tidak munculnya tab komentar di bawah snippet tulisan. Semacam menyusahkan pembaca jika ingin meninggalkan jejak melalui Reader WordPress.com. Jadi pembaca harus mengunjungi halaman blog saya dulu melalui browser untuk meninggalkan komentar.

Beberapa waktu kemudian malah terjadi hal yang lebih parah. Tulisan terbaru saya tidak muncul di Reader WordPress.com. Walah lha kok malah makin runyam urusannya ketika saya menggunakna fitur domain mapping dari WordPress.com.

Beberapa waktu lalu di akhir tahun 2016, saya mengajukan request untuk domain mapping untuk page publication ini kepada pihak Medium. Alhamdulillah disetujui untuk domain mapping diptra.com ke page publication Medium milik saya. Namun saya telat untuk mengeksekusinya. Akhirnya ticket untukmelakukan domain mapping dari pihak Medium kadaluarsa.

Kini untuk melakukan domain mapping, Medium merubah aturannya. Pengguna Medium dikenakan biaya $75 per-domain yang ingin di-mapping. Biaya $75 ini dikenakan sekali saja. Sehingga untuk selanjutnya tinggal memperpanjang sewa domain saja.

Sedangkan domain mapping pada WordPress.com, selain membayar sewa domain, kita juga tetap harus membayar biaya domain mapping pertahun sebesar $13. Tapi kalo dihitung-hitung ulang sih masih lebih murah menggunakan mapping domain dari WordPress.com jika rencana blog kita selama lima tahun. Lebih dari lima tahun, maka domain mapping pada Medium akan lebih murah.

Tapi yaa kalo dipikir-pikir lagi, ngeblog dengan konsistensi selama lima tahun itu bukanlah hal yang mudah. Saat ini saja baru jalan tiga tahun rutin ngeblog dan itu pun sesekali tertatih-tatih. Baru menemukan feel ngeblog itu dua tahun belakangan ini.

Oh iya terakhir, penyedia persewaan domain (lokal) yang saya gunakan saat ini agak sedikit nggaphlek’i. Manajemen domain yang dimiliki kurang bagus. Masalahnya adalah, saya sudah terlanjur menyewa domain hingga Februari tahun 2019. Setelah itu mungkin saya akan mempertimbangkan untuk memindahkan tempat menyewa domain.

Antarmuka editor yang dimiliki oleh Medium sangatlah memanjakan untuk menulis. WordPress pun akhir-akhir ini saya lihat mulai meniru antarmuka editor yang dimiliki oleh Medium.

Kabarnya WordPress sedang mengembangkan editor dengan codename Gutenberg Project. Saat ini Gutenberg Editor masih berupa plugin pada WordPress selfhosted.Tak sabar rasanya untuk mencobanya pada WordPress.com.

Berikut ini informasi mengenai Gutenberg Project pada WordPress.com via Youtube.

Sekian dulu curhatan tentang Medium dan WordPress kali ini. Saya mau jalan-jalan dulu mumpung masih dalam suasana liburan.

Salam..
DiPtra.


Featured image by Sam Wheeler on Unsplash

Menjadi Pendiam

Menjadi pendiam itu ternyata menyenangkan juga. Semacam mengurangi interaksi dengan orang lain. Mengurangi interaksi dengan orang lain, secara tidak langsung juga mengurangi potensi salah paham. Salah paham ini nantinya memunculkan potensi masalah yang cukup runyam. Macam kesalahpahaman Nabi Musa A.S terhadap perilaku Nabi Khidir A.S.

Berkurangnya potensi masalah berkorelasi dengan meningkatnya ketenangan hidup. Hidup ayem tentrem tanpa banyak gonjang-ganjing.

Bahkan ketika memutuskan untuk memperbanyak diam saja, masalah masih satu persatu datang menghampiri. Apalagi jika memperbanyak ucap dalam interaksi dengan sesama.

Dengan pemikiran agak nyeleneh ini, saya selama dua pekan ini berangsur-angsur mulai mengurangi interaksi di dunia maya. Untuk media sosial sudah cukup lama saya kurangi intensitas penggunaanya. Namun, untuk aplikasi chatting khususnya pada macam-macam grup Whatsapp yang saya ikuti, interaksi yang saya jalani masih cukup intens.

Maka, selama dua pekan ini saya benar-benar mengurangi interaksi chatting dalam grup Whatsapp. Sejak 2015 sudah cukup banyak grup Whatsapp yang saya ikuti. Apalagi dengan model grup Whatsapp dengan lalu lintas obrolan yang begitu padat. Saya kerap kehilangan jejak pada obrolan Whatsapp dengan lalu lintas yang begitu padat. Mau ikut nimbrung kadang sungkan juga. Apalagi kalo dicuekin, rasanya pedih haha.

Tapi untunglah semenjak baligh dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya sudah biasa dicuekin oleh cewek yang sedang menjadi inceran. Yaa iyalah wong incerannya Marsha Timothy.

Memang benar sih saya sedang merasakan kenyamanan beberapa hari ini ketika memutuskan menjadi sedikit pendiam. Mengurangi banyak cakap. Lagipula saya sedang kehilangan semangat untuk berkomunikasi atau membuka komunikasi dengan orang baru.

Eh menjadi pendiam di dunia maya maksud saya nih yaa. Berlagak menjadi misterius dengan menjadi pendiam. Menjadi pendiam mungkin sering disalahartikan sebagai sifat angkuh. Padahal penyebab seseorang menjadi pendiam sangat beragam.

Tiba-tiba saya kok kepikiran menjadi pendiam ini sebagai salah satu perwujudan puasa dalam hal lisan. Teringat juga akan penyebab tergelincirnya manusia dalam debu-debu perseteruan juga diakibatkan lisan yang tidak terjaga. Lisannya ga disekolahin.
Pada tahap yang lebih parah, banyak manusia terperosok ke lembah neraka dikarenakan lisan. Lisan yang tajam menyayat hati dan perasaan. Luka di permukaan kulit boleh lah menjadi kering dan sembuh dalam jangka waktu tiga hari. Namun luka yang tergores di hati bisa sepanjang hidup menunggu kesembuhan.

Tengoklah percekcokan yang kerap terjadi dalam bahtera rumah tangga. Permasalahan ucapan lisan yang menyayat hati kerap menjadi pemicunya.
Dalam era digital seperti saat ini, lisan memiliki perpanjangan ucap pada jemari tangan. Jika kita mengamati pergerakan topik di media sosial, selalu saja ada kegaduhan yang diperbincangkan. Jika ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakmampuan menahan jemari tangan untuk menuliskan hal-hal pedas.

Coba kita ingat-ingat kembali kisah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang mengulum batu kerikil demi menjaga lisannya. Ketika hendak bercakap-cakap, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq terlebih dahulu mengeluarkan batu kerikil yang ada di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh beliau adalah sebentuk kehati-hatian atas amanah lisan.

Entah apa kira-kira yang bakal dilakukan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq jika mendapati perilaku interaksi manusia di abad digital internet ini. Mengulum guna kerikil guna menjaga lisan tentu tidak relevan dengan kondisi komunikasi bermedium digital seperti saat ini. Puasa dari bentuk-bentuk interaksi digital di internet mungkin bisa menjadi salah satu solusinya.

Berkaitan dengan produktifitas ketika mengurangi aktifitas lisan baik secara offline maupun online, maka saya merasakan peningkatan. Waktu-waktu yang biasanya tersita untuk berinteraksi secara digital terkonversi pada kegiatan lain seperti membaca ataupun menulis. Kebetulan saja saya mempunyai hobi membaca.

Selain itu, dengan memperbanyak diam membuat saya memiliki waktu lebih luang untuk kembali bertafakkur. Sejenak beruzlah dari keriuhan, khususnya keriuhan dari media sosial.

Akhirul kalam semoga tulisan ini tidak terlalu panjang. Jika ada salah kata mohonlah kiranya dimaafkan. Dibukakan keluasan hatinya untuk memaafkan apa-apa yang sudah pernah saya tuliskan selama ngeblog beberapa waktu ini.

Salam,
DiPtra


Featured images by Claudia Soraya on Unsplash

Butuh Berapa Banyak Nasihat?

Saya pernah kepikiran suatu pertanyaan berkaitan dengan nasihat. Kira-kira, kita ini butuh berapa banyak nasihat untuk menjadi orang baik, orang sukses, orang berhasil? Pertanyaan ini  terlontar ketika saya mendapati diri saya begitu bosan waktu membaca quote ataupun artikel-artikel yang berisi nasihat atau motivasi.

Hingga bertanya-tanya apakah saya sudah menjadi orang yang keras kepala sehingga merasa bosan dengan motivasi. Jangan-jangan kerak pada cermin hati saya sudah sedemikian tebalnya sehingga mental saja ketika membaca tulisan bermuatan nasihat. Atau lebih menyeramkan lagi jika saya tergolong kedalam makhluk berwatak sombong yang tak tersentuh dengan nasihat.

Sampai-sampai, saya mengajukan pertanyaan ini kepada teman-teman saya. Untuk menjadi baik kita butuh berapa banyak nasihat?

Ternyata ribuan nasihat pun tidak akan berguna jika tidak ada keinginan untuk berubah. Tak hanya ribuan, bahkan jutaan nasihat pun tak mampu menggerakkan orang yang memang tidak mau berubah.

Jika melihat banyaknya nasihat yang berterbangan di jagat literasi analog maupun digital, rasanya nasihat itu tak ada habisnya. Ada saja yang menuliskan nasihat agar dibaca orang lain, ada juga yang membagikannya ulang. Sebagian sekedar mencuplik kata-kata bijak yang ada dalam suatu tulisan genre nasihat.

Buku-buku genre nasihat pun tak pernah habis di rak-rak toko buku. Selalu ada saja buku yang berisi nasihat baru ataupun buku nasihat lama dengan kemasan baru.

Bisa jadi nasihat yang terus bermunculan hadir ini sebagai salah satu indikasi banyak manusia yang tak ingin berubah. Berkali-kali membaca dan mendenagar nasihat tapi tak kunjung ada perubahan dalam hidup.

Atau bisa jadi seperti yang sedang saya alami, terlalu bosan membaca tulisan ber-genre nasihat. Sehingga menjadi kebas terhadap nasihat yang didapatkan.

Bisa juga otak saya kacanduan oleh nasihat, sehingga ketagihan mencari nasihat-nasihat baru yang memuaskan dahaga kebijaksanaan sesaat. Setiap mendapat nasihat baru, ada suntikan dopamine menjalar di dalam otak.

Tapi tidak menutup kemungkinan kebutuhan akan nasihat ini sebagai sebentuk usaha untuk menjaga konsistensi dalam berlaku baik. Mengkondisikan diri dalam aura kebaikan agar tidak terperosok ke lubang keburukan.

Memang tabiatnya manusia sih ya yang selalu membutuhkan alarm berupa nasihat. Karena tabiat dasar manusia memang pelupa.

Dari jaman dahulu Tuhan selalu mengutus nabi dan rasul kepada umat manusia. Salah satu tujuan pengutusan nabi dan rasul adalah untuk memberikan nasihat kepada manusia. Memang kebanyakan manusia suka nggandhemi, isuk dele sore tempe.

Terus terang, saya menulis ini untuk menasihati diri sendiri yang sedang merasa kebas terhadap nasihat. Waleh terhadap nasihat. Agak gemes juga terhadap diri sendiri yang kerap mbalelo terbujuk oleh rayuan iblis setelah mendengar nasihat.

Pada sisi yang lainnya, saya juga merasa gemes dengan orang-orang yang kerap membagikan nasihat untuk pencitraan. Tak ada perubahan signifikan dalam kehidupannya setelah membagikan nasihat. Bahkan yang paling parah adalah ketika saya mendapati orang yang dulunya begitu galak menyampaikan nasihat, memberikan judgement atas perilaku orang lain, eh ndilalah di kemudian hari, dia sendiri melanggar nasihat yang dia sampaikan sendiri.

Ini kan namanya nggaphlek’i kuadarat. Iyaaa, macem saya ini tipikal manusia nggaphlek’i kuadrat. Suka sekali mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Apa kamu juga merasakan unsur-unsur nggaphlek’i kuadrat bersemayam dalam dirimu? Bahahaha saya bukan bermaksud mennyindir lhoo yaa. Tapi yaa kalo merasa tersindir saya mohon maaf mumpung aroma suasana lebaran masih terendus.

Yak dari tulisan singkat ini, saya ingin menarik satu kesimpulan. Sebenarnya bukan perkara ketagihan nasihat atau kebas terhadap nasihat, tapi sepemahaman saya saat ini, salah satu sifat nasihat layaknya seperti obat. Dibutuhkan resep dan dosis tertentu pada nasihat agar kemanjurannya dapat dirasakan olah penerima nasihat.

Maka dari itu, temukan resep dan dosis nasihat yang tepat untuk dirimu sendiri. Jangan sok-sokan membagikan nasihat tentang parenting padahal dirimu sendiri masih kebingungan menentukan pasangan hidup.

Oh iya, tulisan ini juga saya maksudkan sebagai perwujudan ayat ketiga surat Al-Ashr. Semoga bermanfaat.

Salaaaa….mmm,
DiPtra.


Featured Photo by Ben White on Unsplash

Puasanya Ular, Puasanya Ulat

Setelah hampir menelan paman bulat-bulat, ular python itu akhirnya ditangkap juga. Bersyukur paman tidak kurang satu apa pun ketika dibelit oleh ular python dewasa berukuran jumbo itu.

Setelah ditangkap, ular python itu meringkuk sayu dalam kandang ular dadakan di belakang rumah paman. Sedianya, kandang itu diperuntukkan sebagai tempat ayam bernaung.

Tak terbayang betapa ngerinya ketika paman dililit oleh ular python itu, sebuah pengalaman dzikrul maut yang nyata adanya. Tentu saja lilitan ular python itu masih kalah ngeri dengan lilitan ular spesies hutang luar negri yang membelit negara ini.

Tentu saya hanya menyaksikan seonggok ular python berbadan tambun sedang tertidur. Mungkin ular ini semacam bertapa untuk menjadi manusia seperti kisah legendaris Siluman Ular Putih.

Rupanya beberapa hari sebelum bertapa, ular python itu memakan seekor anak kambing atau ayam. Entahlah saya agak lupa bagian ini, yang jelas ular python itu puasa setelah “pesta besar” memakan daging-dagingan. Nyam-nyam.

Jadi begini, setelah mempelajari pelajaran biologi atau setelah melihat tayangan fauna di NatGeo saya jadi tau bahwa ular pun berpuasa. Rupanya ular berpuasa dalam rangka berganti kulit. Ular harus mengganti kulitnya secara berkala karena tubuh ular yang tumbuh dari waktu ke waktu juga beradaptasi terhadap cuaca untuk menjaga kelembapan kulitnya. Untunglah belum ada spesies ular yang terinspirasi untuk mendirikan pabrik lotion pelembab kulit.

Selepas masa puasa ular puasa untuk berganti kulit, ternyata bentuk ular masih tetap, mungkin hanya mengalami perubahan volume tubuh. Namanya pun masih sama, ular.

Apa yang dimakan pun tak berubah, bahkan cara memakannya pun masih tetap. Cara jalan ular pun masih sama melata di atas bumi dengan perutnya selepas puasa. Dan tabiat ular pun tetap, mematuk dengan licik, menelan mangsanya mentah-mentah.

Lain halnya ketika melihat puasa yang dilakukan oleh ulat. Terjadi perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan oleh ulat.

Bentuk dan nama ulat berubah menjadi kupu-kupu selepas puasa di dalam kepompong. Makanannya pun berubah, dari semula memakan dedaunan dan dianggap sebagai hama, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang menghisap nektar bunga. Sifatnya juga berubah dari tamak terhadap dedaunan menjadi selektif terhadap bunga sekaligus membantu proses penyerbukan bunga.

Hal yang paling ekstrim adalah perubahan dari cara bergeraknya. Ulat yang semula hanya bisa melata,  setelah masa puasa usai menjadi bersayap dan mampu terbang dengan anggunnya.

Dari dua perbandingan model puasa ini bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan model puasa yang dijalani oleh ular, toh sudah sunnatullah-nya ular berpuasa semacam itu. Tak ada perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan ular.

Hal yang sama terjadi kepada manusia ketika menjalani puasa. Secara fisik tak ada perubahan signifikan pada manusia selepas menjalani puasa. Paling banter bobot tubuh menjadi turun dan lipatan lemak di perut yang mengendur.

Tapi manusia dikenal dan dikenang bukan dari fisiknya semata. Namun lebih kepada karakter, perilaku, dan amal perbuatannya. Maka dari itu, senyampang fisik kita meniru model puasa ular, paling tidak ruhani kita berpuasa meniru model puasa ulat.

Yang sebelumnya super nggaphlek’i yang menyebalkan dan sak karep’e dhewe, paling tidak berubah menjadi nggaphlek’i yang menyenangkan dan dirindukan. Karena jauh di lubuk hati beberapa teman-teman baik saya, tidak rela jika sisi-sisi ke-nggaphlek’i-an yang saya miliki raib begitu saja.

Tiba-tiba dua bilah sayap nggaphlek’i di punggung saya mulai tumbuh. Sayangnya, bentuknya tak simetris. Sebelah kanan berupa sayap kelabu kelelawar, sebelah kirinya lagi sayap pembalut yang dikenakan ketika malam biar tidak mudah bocor di atas kasur.

Saya ingin puasa menulis, tapi tak sampai lama. Paling tidak hingga lebaran usai. Lebaran tahun 2156. Oke fix saya harus tidur.

Salam…
DiPtra si lelaki nggaphlek’i

Meehh..!!

Akhirnya saya merasai juga perasaan muak yang teramat sangat ketika hendak memulai untuk menulis. Efeknya hingga beberapa hari yang lalu tak ada satu pun tulisan yang ter-publish di blog ini.

Tapi untunglah pekerjaan utama saya bukan penulis. Jadi tak perlu terlalu dirisaukan karena belum ada kaitan dengan ngepul-nya dapur jika saya ujug-ujug muak untuk menulis.

Mungkin saya perlu mengunjungi dokter jiwa untuk menyelesaikan permasalahan ini. Tapi saya khawatir dokter jiwa yang saya kunjungi malah ikutan muak menerima curhatan saya. Toh selama ini dokter jiwa menahan kemuakannya ketika mendengar curhatan pasiennya.

Tapi tenang sajalah, ketika tulisan ini ter-publish di halaman utama blog, berarti saya belum berhenti menulis. Paling tidak saya belum memberikan bendera putih tanda menyerah terhadap rasa muak.

Namun, walau rasa muak ini melanda, saya merasa plong beberapa hari ini. Hmmm, menyenangkan. Seperti mendapatkan suntikan bergalon-galon endorphin di otak.

Demi mengatasi rasa muak ini saya sampai melakukan pelarian dengan menonton film secara marathon kemarin. Dimulai dari jam tiga sore hingga jam sepuluh malam.

Pertama, saya nonton film The Mummy yang dibintangi oleh Tom Cruise. Saya rasa, karakter Tom Cruise yang serius di serial Mission Imposible kurang cocok ketika memainkan peran slengekan Nick Morton. Akting tokoh-tokoh lainnya juga terasa kurang ngeblend. Eh tetapi dari segi susunan cerita, film ini cukup bagus kok. Semoga di sekuel selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Film kedua yang saya tonton adalah Wonder Woman. Gal Gadot pas banget lah memerankan tokoh ini. Sebagai pendatang baru dalam film super hero memang dibutuhkan pemeran baru yang belum identik dengan tokoh apa pun di film lainnya. Dari segi alur sangat bagus sekali walaupun pada akhir cerita saya bisa menebak pola ceritanya. Yaitu mengenai Ares yang menyamar menjadi siapa. Mirip dengan gaya ke-ngglethekan di serial Harry Potter.

Anyway walaupun sudah marathon nonton film di bioskop tidak juga membuat rasa muak untuk menulis hilang begitu saja. Saya muak menulis karena selama tiga pekan terakhir terlalu banyak menulis. Berhalaman-halaman dokumen MS-Word harus saya selesaikan. Alhamdulillah selesai juga.

Kabar baiknya adalah dokumen MS-Word beratus-ratus halaman yang saya tulis itu sudah sampai di tangan penerbit sesuai dengan deadline waktu yang diberikan. Ya saya tinggal menunggu kabar selanjutnya saja dari penerbit.

Tapi sebagai penulis blog karbitan, saya juga tak ingin hanya menyampaikan berita yang baik-baik saja. Saya harus jujur menyampaikan sesuatu apa adanya. Yaitu, di balik berita baik yang dikabarkan, ada berita buruk yang menanti untuk disampaikan.

Berita buruknya adalah, ketika sedang merasa muak saya kerap berhalusinasi. Jadi, beberapa paragraf di atas sebagiannya benar dan sebagiannya adalah halusinasi. Harap dimaklumi ya…

Salam..
DiPtra