Kesunyian Lebaran

Ingatan saya akan keceriaan dan kegembiraan lebaran semasa kecil tidak terlalu banyak. Momen-momen berkumpul dengan sepupu-sepupu pun tak saya cecap terlalu lama. Setelah berkumpul di rumah mbah kung hingga siang, mulailah sepupu-sepupu saya ikut orang tuanya mudik ke kota tempat tinggal kakek-nenek dari pihak menantu mbah kung saya.

Sedangkan saya bersama adik dan kakak stay di rumah mbah kung. Ayah saya sebagai menantu dari mbah kung, jarang mudik. Mengingat lokasi kampung halaman Ayah yang lumayan jauh di pulau Sumtera. Selain itu durasi liburan sekolah ketika lebaran terlalu singkat jika harus ditukarkan dengan prosesi mudik ke kampung halaman Ayah. Jadilah saya bersama kakak dan adik saya menjadi penjaga kandang di Malang ketika lebaran. Menemani mbah Kung dan mbah Uti menjalani suasana hari-hari lebaran di Malang.

Belum lagi setelah mbah Kung dan mbah Uti saya meninggal di penghujung abad 20. Suasana lebaran yang saya rasakan di Malang semakin sunyi.

Malang sebagai kota pelajar memang ramai oleh pendatang yang menuntut ilmu di universitas atau pun sekolah tinggi yang tersebar di Malang. Namun ketika musim liburan datang seperti lebaran, maka sekonyong-konyong Malang menjadi kota yang begitu sepi.

Ketika malam hanya terdengar suara jangkrik yang di hari-hari biasa suaranya teredam oleh deru kendaraan bermotor. Ketika siang suasana di kampung saya mendadak senyap, hanya terdengar satu dua suara kendaraan berlalu-lalang.

Hingga tujuh tahun lalu, akhirnya saya merasai mudik rutin ke kampung halaman. Iya, sejak tujuh tahun lalu saya merantau ke Ibu kota menjemput jalan rezeki.

Suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman selama di perjalanan mudik mulai saya rasakan. Bertemu dengan kedua orang tua, beserta saudara-saudara.

Semenjak menikah dan memiliki anak, rasa suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman semakin menjadi-jadi. Pasalnya anak dan istri saya menetap di Malang.

Memang rasa rindu itu menyayat-nyayat hati ketika sedang di perantauan. Namun, ketika rasa rindu itu terbayarkan dengan pertemuan, rasanya begitu tak terlukiskan.

Apa hendak di kata, lebaran tahun ini saya merasakan lebaran paling sunyi yang pernah saya alami. Memang saya melepas rindu bersama istri dan anak, namun ada sesuatu yang hilang dalam momen lebaran ini.

Pertama, baru tahun ini saya merayakan lebaran tanpa disertai oleh kedua orang tua. Kedua orang tua saya sedang menjalankan ibadah umroh. Keduanya berangkat sepekan sebelum lebaran dan menghabiskan momen idul fitri di Mekkah selama sepekan.

Praktis di rumah kedua orang tua, saya hanya mendapati adik lelaki satu-satunya. Apalagi kami berdua tidak menyukai formalitas. Jadi tak ada itu basa-basi lebay ucapan idul fitri antara saya dan adik saya. Seperti ada telepati jika kami sudah saling memaafkan, itu pun saya tak pernah merasa adik saya melakukan kesalahan kepada saya. Alhamdulillah walau ketika kecil kami sesekali bertengkar, namun ketika beranjak dewasa kehidupan saya berserta saudara kandung adem ayem saja.

Bulik dan Paklik saya pun yang tinggal di Malang hanya ada dua. Itu pun jarak rumahnya berdekatan, jadi selow saja untuk bersilaturrahim.

Kedua, lebaran tahun 2017 ini benar-benar total jaga rumah. Ibu mertua saya baru saja selesai menjalani opname sepekan menjelang lebaran. Saat ini sedang menjalani masa pemulihan.

Kebetulan saya sebagai anak mantu yang berasal dari Malang, bahkan masih satu Kecamatan. Sedangkan anak mantu lainnya berasal dari luar kota. Jadi saya beserta istri harus mendermakan waktu untuk menemani masa pemulihan Ibu mertua.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika lebaran tiba, keluarga besar istri saya rutin melakukan silaturahim ke kempung keluarga besarnya. Baru tahun ini ketika hari H lebaran tiba, saya beserta istri berdiam diri di rumah saja. Sesekali saudara dari pihak istri saya datang bersilaturrahim dan sekaligus membesuk Ibu mertua yang sedang dalam masa pemulihan.

Belum lagi rumah mertua saya berada di kompleks perumahan yang terbilang sepi. Makin lengkaplah kesunyian lebaran yang saya rasakan tahun ini.

Ternyata suasana sunyi ketika lebaran itu menghadirkan rasa nelongso di hati. Tapi kemudian rasa nelongso yang saya hadapi ini belum ada apa-apanya ketika saya mendapati sebagian orang harus tetap bekerja di masa-masa lebaran ini, seperti pekerja wisata, rumah makan, pom bensin, minimarket dan pelayanan publik lainnya. Salam hormat kepada setiap individu yang menegasikan momen lebarannya demi pelayanan publik.

Salam,
DiPtra


featured image by Tim Marshall on Unsplash
Advertisements

2 thoughts on “Kesunyian Lebaran

  1. begitulah, suasana hati kita saat sedang sepi sunyi ternyata ada orang lain yang lebih dari kita hanya saja mereka tidak mengeluh atau mau mengeluh juga ke siapa.

    mungkin yg dibutuhkan adalah teman untuk berbagi cerita.

    Liked by 1 person

    1. Hihi beneran kalo sepi enak buat nulis. Makanya semi curcol di blog ajah. Mau ngeluh ke yang negatif kok yaa rasanya gimana gitu. Eh tapi emang ada yaa ngeluh positif hihi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s