Mengenang Friendster

Memang Facebook saat ini adalah media sosial paling moncer. Namun pada tahun 2002, Facebook belumlah sesuatu yang memiliki eksistensi. Dunia internet barulah meggeliat. Saat itu, pergerakan pengguna media sosial diawali oleh Friendster yang merebak bak cendawan di musim penghujan.

Friendster adalah media sosial besutan Jonathan Abrams seorang programer berkebangsaan Kanada. Nama Friendster sendiri diambil dari utak-atik kata “friend” dan “Napster”, di mana Napster saat itu adalah situs peer-to-peer terpopuler untuk berbagi musik.

Saya sendiri mulai menggunakan Friendster sekitar tahun 2004. Navis, salah seorang teman kuliah saya menceritakan asiknya bermain Friendster. Membuat profil online agar dikenal di dunia maya. Friendsterlah yang menyulut jiwa narsis kebanyakan anak muda saat itu, termasuk saya.

Selain menyulut jiwa narsis yang menggelegak dalam usia muda, Friendster juga menyibak sisi-sisi alay yang saya miliki. Untunglah Friendster sudah tidak beroperasi sejak 14 Juni 2015. Jadi jejak-jejak kealayan generasi saya sudah terkubur.

http _mashable.com_wp-content_uploads_2014_01_Screen-Shot-2014-01-29-at-1.09.47-PM-640x298
Halaman depan Friendster via Mashable.com
Lantas apa saja sih kenangan keasyikan kala bermain Friendster sebelum dia meninggal? Berkut ini saya coba sajikan berdasarkan pengalaman pribadi, keseruan bermain Friendster saat itu.

Perlombaan Jumlah Teman

Saat itu rasanya seru sekali memiliki jumlah teman hingga mencapai angka ribuan. Dengan beberapa teman kuliah saya semacam melakukan perlombaan dalam menambah jumlah teman.

Khususnya teman-teman berjenis kelamin perempuan dengan profil kece dan foto selfie yang menawan. Tingkat kegaulan seseorang dinilai dari banyaknya jumlah teman di Friendster.

Ternyata perilaku ini masih berlaku pada media sosial yang ada sekarang ini. Jumlah follower dijadikan sebagai patokan kepopuleran seseorang. Menambah jejaring pertemanan untuk meluaskan pergaulan.

Stalking Calon Gebetan

Hal ini masih berlaku juga kok di era media sosial sekarang. Karena begitu terkenalnya Friendster saat itu, dan hampir setiap anak gaul memiliki akun Friendster, maka aktifitas stalking atau mematai-matai cewek yang sedang menjadi inceran aman dilakukan.

Sebelum melakukan pedekate lebih lanjut melihat-lihat profil Friendster adalah sebuah keharusan. Jika profil Friendsternya keren maka akan semakin bersemangat untuk mengejar sang pujaan hati.

Namun jangan salah, Friendster juga memuaskan hasrat para penggemar rahasia memata-matai sang pujaan hati. Paling tidak kerinduan terhadap pujaan hati dan kepengecutan untuk mengungkapkan isi hati terakomodasi dengan baik oleh Friendster.

friendster_hipwee
Profil Sandra Dewi
Meeh kalo stalking Sandra Dewi sih macam pungguk merindukan bulan.

Utak-atik Profil

Keasyikan lainnya adalah mengutak-atik profil Friendster yang dimiliki. Mengganti background profil dengan gambar yang keren adalah sebuah keharusan.

Menambahkan animasi flash pada halaman profil bisa meningkatkan level kekerenan sebesar 75%. Mengganti foto profil dengan gaya paling alay adalah sebuah keharusan.

Tak hanya itu, meng-update deskripsi di halaman profile adalah sebuah keharusan. Saat itu saya begitu polos, tidak menyadari bakal adanya akun-akun dengan profil palsu.

Ngerjain Teman Melalui Bulletin dan Hacking Akun

Dulu ada fitur bulletin di Friendster. Fungsinya mirip seperti wall atau newsfeed miliki Facebook.

Untuk ngerjain seorang teman, biasanya saya membuat judul bulletin dengan menyangkut nama teman yang menjadi terget keusilan. Namun, saat itu jumlah feed yang muncul di bulletin dibatasi.

Momen bermain Friendster juga merupakan awal-awal persinggungan saya dengan dunia internet. Saat itu termhacking” nampak begitu keren. Sebagai anak alay penggiat Friendster maka aktifitas ngehacking akun seseorang menjadi keasyikan tersendiri.

Saat itu, akun profil Friendster rawan untuk di-inject script jahat untuk mengambil alih atau men-deface profile Friendster. Tapi untunglah saat itu akun Friendster belum terkoneksi dengan aktifitas  finansial.


Lebih kurang begitulah keasyikan ketika bermain Friendster jaman dulu yang tentu masih bisa dinikmati pada macam-macam media sosial yang ada sekarang. Friendster menjadi pionir dalam meletakkan batu pertama bangunan media sosial.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi ada beberapa hal yang menjadi penyebab kemunduran Friendster. Salah satu penyebab utamanya adalah perkembangan Facebook yang begitu pesat.

Saya pun saat itu merasakan Friendster mulai membosankan. Dari masa lebih kurang tiga tahun menggunakan Friendster saya merasakan pertumbuhan fitur Friendster yang stagnan. Saat itu Friendster hanya mengubah tata letak halaman profil. Sedangkan Facebook yang mulai menggeliat dengan cepat menyuntikkan fitur-fitur interaksi antar penggunanya dengan baik.

Mark Zuckerberg jeli melihat peluang bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi secara sosial. Salah satu inti bangunan media sosial adalah interaksi antar penggunanya, bukan semata-mata kekerenan halaman profil akun media sosial.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca artikel nostalgia ini. Lalu apakah kamu punya kenangan dan keasyikan tersendiri terhadap Friendster sang pionir media sosial di awal millenium ini?

Salam,
DiPtra


Featured images by Sidharth Bhatia on Unsplash
Advertisements

8 thoughts on “Mengenang Friendster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s