Hi Virus..

Sakit yang dialami oleh tubuh pada dasarnya merupakan mekanisme tubuh untuk mencapai titik keseimbangannya.

Rupanya gejala flu dari Malang masih bergelayut di area pernafasan. Hingga hari ini, amandel terasa gatal. Badan sedikit meriang.

Virus yang seblumnya dorman di dalam tubuh akhirnya beraksi kembali memberikan peringatan, alarm. Alarm yang dihadirkan berupa tetesan-tetesan ingus meleler turun dari hidung.

Sementara itu intensitas bersin-bersin cukup sering. Tapi untunglah gejala flu hari ini tidak sampai membuat kepala berdenyut pusing.

Biasanya jika gejala flu menyerang, saya segera minum paracetamol. Untuk kali ini saya tak meminumnya.

Pertama, stok paracetamol sedang habis. Kedua, saya lagi males keluar membeli paracetamol di apotek.

Ketiga, mencoba mempercayai tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Atas gejala sakit ringan seperti flu, kemudian kita tergesa mengkonsumsi obat, bisa jadi menurunkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Sejak mengikuti workshop TRE bulan lalu, saya mendapatkan pencerahan baru. Bahwa sebenarnya tubuh memiliki kecerdasannya sendiri untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Menurut mas Gobind dalam workshop TRE, sakit yang dialami oleh tubuh pada dasarnya merupakan mekanisme tubuh untuk mencapai titik keseimbangannya.

Sebagai contoh, ketika kita sakit diare jumlah bakteri “jahat” dalam ekosistem mikro organisme pencernaan sedang mengalami peningkatan. Maka mekanisme seringnya buang air (mencret) yang kita alami dilakukan oleh tubuh untuk menyeimbangkan ekosistem mikro organisme pencernaan.

Kemudian saya sedang bertanya-tanya dengan sakit flu yang sedang saya alami. Mekanisme keseimbangan apa yang sedang dilakukan oleh tubuh? Entahlah, paling banter saya hanya bisa melakukan hipotesa.

Ketika tubuh diserang oleh virus, baik virus dari luar tubuh atau virus dorman di dalam tubuh, maka untuk menghentikan laju pertumbuhan virus tubuh meningkatkan suhu tubuh.

Nah ingus yang meleler turun dari hidung merupakan mekanisme tubuh untuk mendinginkan temperatur organ pernafasan akibat kenaikan suhu tubuh tadi. Oke, ini hanya sebatas hipotesa. Mohon kiranya teman-teman yang bergerak di bidang medis bisa memberikan penjelasan yang lebih sahih terkait mekanisme melelernya ingus ini.

Kemarin saya mendapati almarhum Cak Rusdi Mathari berpesan bahwa,

Menulis itu seperti silaturahmi. Dari tulisan yang tersiar darimu, kawan-kawan dan sahabatmu akan tahu bahwa kamu sedang sehat.

Namun, saya juga ingin menimpali pesan Cak Rusdi tersebut, bahwa dari tulisan kita yang tersiar juga bisa memberi tahu kawan-kawan dan sahabat, bahwa kita sedang sakit, butuh istirahat. Minimal doa agar tetap waras dalam menjalani sakit. 🙂

Salam,

Mantan penggemar es kepal milo.

Advertisements

Hi Gura Gura no Mi

Ahad tanggal 5 Agustus mendapat kabar pulau Lombok diguncang gempa berkekuatan 7 skala richter. Guncangan yang cukup kencang.

Dikabarkan berpotensi tsunami. Alhamdulillah tak sampai terjadi tsunami seperti di Aceh. Namun terjadinya gempa ini sudah cukup membuat ruang hati pilu.

Pintu-pintu untuk berdonasi memberikan bantuan kemanusiaan ramai dibuka. Pendaftaran untuk volunteer pun juga ada.

Terpecahnya jalanan di Lombok paska gempa

Beberapa sumber video yang saya lihat, ketika guncangan gempa terjadi, masyarakat semburat. Salah satu video yang saya lihat menampilkan semburatnya jama’ah shalat ketika gempa terjadi. Begitu mencekam.

Mau tak mau saya teringat apa yang digambarkan dalam surat Al-Zalzalah. Seperti itu dahsyatnya guncangan 7 skala richter. Entah bagaimana dengan guncangan menjelang kiamat?

Panik sepanik-paniknya. Lupa selupa-lupanya. Rasanya cuplikan kiamat kecil yang terjadi di Lombok mampu menghadirkan kesadaran tak selamanya kita hidup.

Di Lombok terjadi duka. Di Jakarta dan Palembang mulai persiap menyambut helatan Asian Games. Sebagian lagi saudara-saudara muslimin dan muslimat sedang menunaikan rangkaian ibadah haji.

Dalam sudut pandang lain, kejadian bencana alam seperti ini selalu menghadirkan rasa kemanusiaan. Sebuah rasa yang menggambarkan sebagai manusia kita sebenarnya satu kesatuan.

Derasnya rasa persaudaraan dan kemanusiaan ini menyentak kesadaran baru. Betapa konyolnya polarisasi orang-orang Indonesia karena politik.

Kondisi Rumah Sakit Universitas Mataram paska gempa

Semoga Tuhan tidak memberi “sentilan” yang lebih kencang lagi. Amiin.

Salam,

Edward Newgate

Hi Manusia Single..

Diskusi, orasi, puisi, status di Facebook, cuitan di Twitter, caption di Instagram, lirik lagu dalam sebuah lagu dan sebagainya merupakan sarana manusia untuk menuangkan suasana hatinya.

Ada banyak ragam suasana hati yang terwakili oleh hal-hal tersebut di atas. Salah satu hal yang kerap terwakili adalah kegelisahan yang dialami oleh manusia.

Kegelisahan atau keresahan itu, kadang tak mampu dipendam dan dibiarkan menghilang. Oleh karena itu, mereka yang tak mampu meredam keresahannya itu berkarya dalam beragam bentuk.

Hingga karya yang sudah tertuang itu akhirnya diketahui, dicerna, dipahami orang lain hingga akhirnya menuntun pada ragam pilihan respon. Pilihan respon pun beragam, mulai caci maki, pujian, kritik membangun, like, share, dan sebagainya.

Dulu saya pernah menulis perihal pembelaan terhadap manusia single. Karena dokumentasi artikel yang kurang bagus, artikel itu hilang entah kemana huehuehuheu.

Akhirnya ada juga yang menuangkan keresahannya atas ragam pertanyaan kepada manusia single. Seperti tulisan di bawah ini. Tulisan salah seorang teman yang mungkin sudah jengah terhadap beragam pertanyaan yang menyudutkan manusia single.

Baiklah, berikut ini guest post pertama di blog awuwwuwuw ini. Nama penulis sengaja meminta dianonimkan. Dia seorang pemalu.

Nah melalu tulisan ini pula saya membuka kesempatan kepada teman-teman yang ingin menulis guest post secara anomnim guna menuangkan keresahannya, bisa menghubungi saya via dm Twitter atau Instagram.


Hello, Apa Kabar? Sudah Laku?

Sapaan di atas jika digunakan untuk menanyakan suatu produk, sudah jelas maksudnya apa. Biasa dong ya, kalimat seperti ini kita dengar dalam obrolan antar pengusaha, pedagang, sales, makelar atau yang berkaitan dengan dunia jual beli.

Tokopediaman : Hello, apa kabar? Sudah laku?

Shopeeman : Sudah donk. Rumah yang aku tawarkan kemarin itu kan? Udah laku dibeli konglomerat kota sebelah. Harga 2 M terjual bersih.

Tokopediaman : Mantaaaaps.

Tapi apa yang terjadi bila kalimat tanya “Hello, apa kabar? Sudah laku?” terucap dari seseorang dengan maksud menanyakan status pernikahan orang lain?

Kalau sapaan itu terjadi antara dua orang yang bersahabat karib, biasa bercanda dan biasa saling misuh-misuh satu sama lain, paling berlanjut dengan saling bully secara verbal hingga ngakak dengan biadab. Tapi biasanya yang bisa ngobrol macam ini adalah makhluk berjenis kelamin kambing jantan.

Selebgram : Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Sobat Misquen : Wah belum, masih jomblo nih. Lah kamu sendiri emangnya udah laku?

Selebgram : Belum juga sih, masih perlu dipromosiin habis-habisan kayaknya 😀

Sobat Misquen : Sabar ya mblo… huehehehe….

kemudian mereka berdua melipir di pasar loak mencari hape bekas yang bisa jadi barang curian

Sekarang bayangkan jika sapaan itu terjadi antara dua orang wanita, yang sudah lama tidak berjumpa, lalu salah satunya memulai percakapan melalui Whatsapp dengan sapaan pertama

Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Eh sebelumnya kamu sudah tahu kan kalau ada tiga pertanyaan yang mudah memicu mood buruk bagi seorang wanita, yaitu berat badan, status pernikahan dan usia. Beda dengan lelaki yang lebih cuek pada pertanyaan semacam itu.

Kalau mau tahu seperti apa efeknya, coba deh saat bertemu seorang wanita, kamu sapa dia dengan kalimat

“Hai… Apa kabar? Kok kamu gendutan sih?”

Lalu siap-siap saja lah kamu temukan ekspresi super bete atau kalau lagi sial, langsung kena semprotan kata-kata pedas menusuk jantung.

Atau coba deh kamu sapa seorang wanita dengan kalimat

“Kamu apa kabar? Eh sudah nikah apa belum? Ingat umur lho”.

Bisa jadi kamu langsung kena jurus tikaman tak terlihat yang meluncur dari pandangan mata cewek itu.

Pola komunikasi yang terjadi di Indonesia sering kali masih mengedepankan sapaan bernada kepo. Basa-basi busuk yang beraroma mau tahu aja urusan hidup orang lain. Ya meskipun nggak bisa disamaratakan, karena bergantung pada lingkungan orang yang bertanya itu tumbuh dan berkembang.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana sebaiknya bertanya pada orang lain. Karena apapun pertanyaan dari orang lain, keputusan untuk cuek, bete, santai atau marah kan tergantung pada yang pilihan kita. Emosi itu pilihan kok…

Tapi saya ingin memberi alternatif jawaban kalau pertanyaan itu muncul dari wanita dan anda juga seorang wanita.

Kalau yang bertanya juga single,

Markonah : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Kokomun : Kabar baik. Owh kamu udah laku ya? Dikasi harga berapa kemarin?

Kalau yang nanya sudah menikah,

Surtini : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Bu Dendhy : Baik donk. Kan tinggal nunggu kamu siap punya madu.

Kalau yang nanya nenek-nenek,

Mak Bongky : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Mantili : Baik, Nek. Nenek udah dapat panggilan?
Mak Bongky : Lho panggilan dari siapa?
Mantili : Panggilan untuk pulang ke rahmatullah.

Kamu punya ide jawaban lain yang lebih awuwuwu?

Anyway, dialog diatas itu hanya ide aja sih… Lumayanlah buat bikin jera si penanya. Karena ada sebagian orang yang nggak sadar kalau pertanyaan pembuka percakapannya membuat suasana menjadi awkward dan memberi pukulan telak pada benteng pertahanan bendungan air mata.

Apalagi kalau setelah itu dengan polosnya dia bilang,

“Wooii nyet, aku butuh bantuanmu nih”.

Ngoaaahahahahaha mending yang nanya disuru mbecak hijrah ke planet Mars.


Okay sekian saja guest post ini tersaji. Moga ada manfaat yang bisa dipetik. Sebelum mengakhiri ada sedikit titipan quote dari ingatan saya perihal pernikahan ini,

Pernikahan bukanlah perlombaan, tak perlu gusar balapan mencapai garis finis pelaminan. Jika saat ini sudah bisa merasai kebahagiaan tanpa menjalani pernikahan, lantas buat apa mati-matian mengikuti perlombaan?

Quote di atas bukan hendak mengutarakan bahwa pernikahan itu tidak penting. Namun sebuah pesan untuk menyuntikkan kesadaran diri saat ini sudah mencapai tahap apak kebutuhan terhadap pernikahan, wajib, sunnah, mubah, makruh atau bahkan haram.

Hmmm giamana mau menikah mimpi basah saja belum.

Salam,

Kepala KUA wilayah Atlantis

Hi Celcius

Baru saja beberapa teman mengabarkan temperatur udara di wilayahnya berada di bawah 20° celcius. Sedangkan di Malang mencapai suhu 14° celcius.

Pantas saja tak seperti biasanya ketika saya pulang ke Malang. Kali ini temperatur boleh dibilang cukup ekstrim.

Tidur di kamar lantai dua. Terbangun menjelang shubuh. Kaki serasa dibalur air es. Dingin menyusruk hingga ke tulang. Rupanya saya sudah tak terlalu kuat menanggung temperatur dingin.

Temperatur di bawah 20° celcius ini sukses membuat hidung saya bersin-bersin. Perlu waktu lebih lama lagi untuk beradaptasi dengan cuaca kota Malang.

Airnya jangan ditanya lagi. Tinggal dicampur serutan daging degan sudah jadi es degan. Tak berani mandi dipagi hari. Mending kruntelan selimut dan guling di kamar.

Untunglah saya dilahirkan dalam bentuk makhluk mamalia. Seandainya saja hadir di dunia melalui mekanisme pecahnya cangkang telur kura-kura, tentu saya sudah berhibernasi guna mengurangi pemborosan energi.

Kabarnya suhu dingin yang dialami di beberapa wilayah di Bumi ini terkait fenomena Bumi berada pada lintasan terjauh dari Matahari. Kemudian imajinasi saya berkhayal hingga jaman es. Bisa jadi kebekuan yang diderita bumi waktu itu karena radius perputaran Bumi mengelilingi Matahari begitu jauh.

Hmm rupanya khayalan saya itu sebatas khayalan saja. Ternyata Bumi mengalami jaman es karena proses pendinginan aerosol yang sering terjadi di Bumi.

Tahun 2007 disimpulkan pemicu dimulainya zaman es akibat meletusnya gunung Toba 75 ribu tahun yang lalu yang menyebabkan atmosfer dipenuhi debu sulfur vulkanik dalam jumlah besar, dan bumi mengalami penurunan suhu yang ekstrem.

-wikipedia-

Nah, ternyata Bumi mengalami jaman es karena atmosfer Bumi terselubungi oleh awan akibat letusan gunung berapi. Hal ini menyebabkan sinar Matahari tak bisa mencapai permukaan Bumi.

Bumi mengalami penurunan temperatur. Dataran dan lautan tertutup oleh es. Kemudian atlet ski mulai beraksi. Baskin Robin dan Es Kepal Milo mendadak tak laku di jaman es.

Seru juga kali yaa kalo jaman es terulang lagi. Heueheu…

Oke deh mari kita tonton video pendek dari film Ice Age. Selamat menonton..

Salam,

Monster Gunung Krakatau

Hi SJ-250..

SJ-250 dengan kode booking HNAUVQ. Penerbangan jam 7 pagi dari Jakarta menuju Malang.

Ditulis sambil nunggu waktu boarding. Masih 30 menit lagi. Kali ini ngambil bangku 32D. Nomor dua dari belakang.

Heleh kakehan gaya mau numpak pesawat ae pake update postingan segala. Lhoo yaa ben tho, ini kan semacam insta Story anak IG itu lho. Tapi dalam bentuk postingan WordPress. Tsaaaah.

Owh iyaa SJ itu kode penerbangan maskapai Sriwijaya. Kalo QG itu kodenya Citilink. JT itu untuk Lion Air. Nah kalo SQ itu Singapore Airlines. Kalo EEK itu yaa mending di toliet, bukan wastafel.

Pas nulis ini saya jadi keingetan kali pertama naik pesawat. Tahun 2004 dari Surabaya menuju Jambi. Dengan rute transit dulu di Soekarno Hatta, Jakarta.

Maskapainya kalo gak salah Batavia Air. Yhaa sekarang Batavia Air sudah pailit. Pengalaman pertama naik pesawat itu bikin deg-degan. Tapi masih kalah deg-degannya kalo dibandingin dengan malam pertama setelah ijab qobul, awuwuwuuw.

Lho iyaa ini kok udah dipanggil untuk masuk pesawat, padahal belum puas nulisnya heueue.

Yhaa wes saya tak masuk pesawat dulu. Saya enggak tega membuat mbak-mbak pramugarinya menunggu terlalu lama.

Sip, doakan selamat sampai tujuan dan nanti orang yang duduk di sebelah saya mirip dengan Sara Underwood, 👩‍🚀👩‍🚀


Oke update dikit karena udah sampe bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Jadi tadi pas udah masuk pesawat, ternyata antri untuk penggunaan landasan pacu.

Saya sampe ketiduran. Kebangun, kirain udah sampe di tempat tujuan. Hyaaaah ternyata malah belom take off. Mayan lama juga waktu antrenya. Hampir setengah jam.

Baru keinget kalo guncangan pesawat di bagian belakang tuh terasa banget. Pas take off dan landing terasa bangeeet goyangannya.

Tapi nih Alhamdulillah sampe di Malang selamat aman sentausa. Begitu sampe di Malang, saya disambut dengan tusukan hawa dingin di kulit. Nampaknya Malang mulai menunjukkan wajah aslinya sebagi kota yang dingin, hmmm enak buat kelonan niiih 😚😚.

Harapan saya sebelum naik pesawat tak terjadi. Sebelah saya di kursi 32E seorang pemuda tanggung tipikal anak gaul Jakarte, bukan cewek cantik macam Sara Underwood. Ketika melihat saya asyique membaca artikel offline di Medium, si anak gaul itu bertanya, “bro password wifi pesawatnya apa yaa? Lu pake airplane mode kok masih bisa browsing.”

Haeesss, maskapai Sriwijaya Air sekarang sudah melengkapi armadanya dengan fasilitas hiburan WiFi. Sriwijaya Air menggandeng Airfi untuk sarana hiburan penumpang selema di pesawat menggunakan smartphone masing-masing.

Tapi yaa gitu pas saya coba melihat menu hiburan yang disediakan, saya merasa lebih baik nonton film, ebook, artikel yang sudah saya download sebelumya. Meskipun begitu, usaha dari pihak Sriwijaya Air untuk memberikan fasilitas lebih kepada pelanggannya perlu diapresiasi.

Salam,

Pilot pesawat telepon

Hi, 12287..

Segera buka program Microsoft Excel di komputer Anda, Kemudian ketikkan formula di bawah ini pada cell B3,

=DATEDIF(B1,B2,”d”)

Pada cell B1 masukkan tanggal lahir Anda. Sedangkan pada cell B2 masukkan tanggal hari ini. Maka formula Excel di atas akan memberi tahu Anda jumlah hari yang sudah Anda lalui hingga detik ini. Owh iya untuk format penulisan tanggalnya mohon disesuaikan dengan settingan komputer masing-masing yaaa.

Dan sesuai dengan judul tulisan ini, maka hingga hari ini sudah 12287 yang sudah saya lalui. Banyak juga yaa, atau boleh dibilang sudah cukup berumur yaa.

Belakangan ini, dalam menulis jurnal, saya menuliskan nomor hari di bagian awal. Sebenarnya sih lebih mudah dan praktis menggunakan tanggal, bulan dan tahun. Tapi dengan menuliskan jumlah hari yang sedang dilalui seperti memberikan optimisme tersendiri dalam melalui hari. Bilangan hari itu seperti berbicara kepada saya bahwa ada kesempatan baru untuk dilalui dengan penuh rasa syukur.

Saya nulis ini sebenarnya untuk catatan pribadi mengenai fungsi Excel yang jumlahnya buaaanyaaak itu. Dan kurang kejaan banget kalo dihafalin semuanya, yaaa kan yaa kan? Sebelum tahu kalo ada formula penghitungan jumlah hari di Excel saya menggunakan layanan dari web daysold untuk menghitung jumlah hari.

Mengingat di tahun-tahun awal kerja saya begitu intens berinteraksi dengan formula-formula Excel, maka tadi pagi saya iseng kepikiran ada gak sih yaa kira-kira formula Excel untuk menghitung hari. Lhhooo yaa ternyata ada.

Gara-gara dulu teknik memanipulasi formula Excel lumayan jago sampe ke ranah Macro, maka saya suka menyebut diri saya sebagai Excel engineer. Tapi sekarang kemampuan bermain formula Excel itu memudar karena jarang dipakai.

Ternyata dalam dunia kerja kantoran tuh yaa, tools yang paling sering digunakan dan begitu powerful adalah Microsoft Excel, bukan Microsoft Word. Microsoft Word powerful kalo kita berprofesi sebagai penulis.

Jadi, kalo dirimu saat ini masih berada pada rentang masa studi dan kelak ingin menjajaki dunia kerja, sedikit saran dari saya pelajarilah Microsoft Excel. Enggak ada ruginya kok belajar tools ajaib ini huehuehue.

Yhaaa misalnya di dunia kerjamu ntar ndak butuh Excel, paling enggak kamu bisa melakukan budgetting dan planning biaya pernikahan menggunakan Microsoft Excel.

Tapi yaa gitu, sebelum membuat budgetting dan planning biaya pernikahan, mohon dipastikan dahulu calonnya sudah siap. Yhaa yhaa saya ndak membully lhoo yaa, hanya memaparkan opini.

Salam,
Wakil Kepala Kantor KUA Cabang Kutub Selatan

 

Hi, One Piece..

Hari ini saya mengalami anomali. Kepagian sampe kantor. Biasanya telat satu sampai dua jam. Karena datangnya kepagian, jadilah sebelum jam pulang goal pekerjaan hari ini sudah selesai. Marvelous.

Mau pulang tapi males. Haqqul yaqin deh sampe di kosan nanti bakal bengong, mati gaya. Paling banter ngupil sambil baca buku Kaweruh Jiwa. Ngehehehe ini aslinya saya mau pamer kalo lagi baca buku berat. Padahal yaa enggak mudheng.

Nah kan jarang-jarang lho ini saya melakukan hal-hal yang berfaedah seperti menulis di waktu luang. Biasanya liat-liat Youtube Channel Unboxing Hape yang ga bakal kebeli karena mahal ndak masuk akal. Channel yang lain yaa channel tentang One Piece Theory.

Asli lah liat predikisi, analisa, kengawuran, khayalan Youtuber yang tentang One Piece itu seperti mendapatkan pencerahan. Bagi saya yang punya struktur syaraf otak sederhana, jalinan cerita One Piece itu sungguh ruwet. Kadang saya sampe ndak paham ini ceritanya bakal mengarah ke mana. Yaah paling banter saya cuman paham pas bagian Luffy, Zorro, atau Sanji lagi berantem.

Gedebak-gedebug, tusuk, tendang, pukul, sundul, dan segala macam jurus tokoh One Piece ketika bertarung itu mencerahkan. Hoo yhaa kan, pencerahan itu tak selalu datang melalui ceramah dan ocehan para motivator atau dukun. Pencerahan ultimate yang didapat dari petarungan di anime adalah ketika jurus dilesakkan dengan mengucapkan.

Seperti sesi pertarungan Luffy vs Bellamy yang selesai dengan sekali pukul. Nih link yutubenye sekalian saya emmbeded kan. Sip tonton yaa, jangan lupa pencet tombol play.

Atau seperti saat Luffy melesakkan jurus Gomu-gomu no Gattling Gun ke tubuh Crocodile. Ini pertarungan pertama paling epic dalam sejarah serial One Piece, silahkan disimak video pertempurannya di bawah ini.

Lho yaa saya sampe salah ngasi link video Youtube. Video di atas tuh pertarungan Luffy vs Rob Thomas Lucci. Pertarungan ini juga menarik karena Oda Sensei kali pertama memperkanalkan konsep Gear Luffy. Saat itu jurus Haki masih belom ada.

Bulan Agustus ini One Piece sudah memasuki arc paling epic dalam sejarah One Piece. Arc Wano digadang-gadang oleh Oda Sensei bakal menjadi arc paling megah dalam serial One Piece. Oda Sensei dalam mengarang One Piece konyol juga, hingga saat ini plot akhir One Piece belum jelas akan bagaimana. Banyak peluang twist alur.

Seperti rencana awal One Piece yang sebenarnya berakhir di arc Alabasta. Ternyata rencana itu malah mbleber sampai sekarang. Sudah dua puluh tahun serial One Piece ini mengudara.

Kepada emak-emak yang tanpa sengaja membaca tulisan tentang One Piece ini, pasti enggak paham saya lagi bahas apaan kan? Tapi begini yaa mak emak, jika suamimu atau anakmu menggemari kisah One Piece maka biarkan saja mereka menikmati keseruannya. Perihal Nami, Nico Robin, Shirahoshi, Boa Hancock yang digambarkan over seksi itu tak akan ada di dunia nyata. Karena jika dilihat sekilas, siluet tokoh-tokoh wanita seksi itu mirip sepasang sumpit menggapit pentol kembar.

Haess nampaknya paragraf di atas terlalu sensitif yang membuka peluang diserang oleh sahabat-sahabat feminis garis keras, garis lunak, garis lengkung, garis zigzag, gari lucu, ahh kamu gak lucu mas.

Yak, waktu Indonesia bagian Jakarta sudah memasuki waktu maghrib. Ini artinya sesi tarung derajat menulis brutal ini harus saya akhiri.

Anyway, karena lagi adzan (duuh ini tak layak dicontoh, udah adzan kok lanjut nulis terus) saya jadi ingat ketika tahun 2008 atau 2009 ada kegemparan yang dihadirkan oleh sebuah buku. Intinya buku itu membahas bahwa dunia akan kiamat pada tahun 2012.

Saat itu saya memberi tahu adik saya yang komikus terkenal itu lho, tapi dia enggak mau terkenal, kalau dunia akan berakhir di tahun 2012. Dengan enteng dia menjawab, “Gak opo-opo wis bumi kiamat tahun 2012, sing penting One Piece kudu wes tamat.

Oke saatnya sholat maghrib.

Salam,
Marshall d. Teach

Hi, August..

Pagi tadi, sekonyong-konyong ada suara dalam kepala saya berbisik, “Bulan Agustus ini ente harus mulai nulis lagi…”

Ente sudah terlalu lama hiatus tanpa tulisan,” imbuhnya di sela-sela saya menyelesaikan pekerjaan kantor.

Iya juga ya, jika ditelusuri dalam kuantitas waktu, rasanya sudah hampir satu tahun saya berhenti menulis. Maksudnya rutin menulis di blog. Nah kategori rutin itu sendiri perlu didefinisikan lagi. Nanti lah lain kali kita definisikan term rutin itu aturan mainnya seperti apa.

Beberapa hal menjadi jelas ketika saya mulai menulis lagi di kali ini. Pertama, rasanya jemari ini kaku sekali untuk mulai mengetik dan menumpahkan isi pikiran.

Kedua, selama periode vakum menulis, ada saja sebenarnya opini, pemikiran, pendapat, kejadian, pengalaman dan sebagainya yang cukup menarik untuk diceritakan dalam bentuk tulisan. Namun, saya merasa pikiran kelu untuk menuliskan hal-hal itu.

Ketiga, otak atau pikiran serasa tumpul. Maksudnya begini, selama vakum menulis saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Dari artikel receh sampai buku dengan genre yang lumayan berat. Nah, salah satu metode untuk menajamkan pikiran adalah dengan menuliskan lagi bangunan pemahaman dari berbagai hal yang menjadi input pikiran.

Keempat, mengikis sifat perfeksionis. Yuhuuu ini dia salah satu penhambat untuk menulis. Dulu sejak memiliki blog dengan domain sendiri, saya inginnya tulisan yang terbit di blog itu harus sempurna tanpa cela. Ternyata menggapai kesempurnaan adalah sebentuk kemustahilan.

Kelima, membekukan percikan ruh. Pendapat ini semacam terlalu filosofis. Namun, saya memiliki pendapat bahwa pancaran ruh dalam diri manusia itu berkorelasi terhadap waktu. Percikan-percikan ruh itu bisa diabadikan salah satunya dalam bentuk tulisan. Saya percaya ruh itu abadi karena berasal dari-Nya.


Oke lah yaa lima hal yang saya alami selama berhenti menulis rasanya cukup sebagai pemanasan kembali menulis di bulan Agustus ini. Anggap saja ini sebagai come back nya saya di dunia wordpress.

eheeum, Hi bulan Agustus tak usah malu-malu menyapa, kami akan menerima dirimu apa adanya.

Salam,

DiPtra.

Ketika Dingin Menyapamu, Berlagaklah Sebagai Abang Ojeg

Kamu tahu, jika hipotermia tak segera ditangani, maka perlahan-lahan akan menghantarkan penderitanya pada gerbang kematian. Aku sendiri sudah lama tahu akan hal ini, khususnya ketika menonton film Vertical Limit.

Tapi memang aku sendiri sedang merasa kurang kerjaan menulis hal-hal semacam ini, walau sebenarnya pekerjaan sedang menumpuk di sudut meja. Biarlah, biarakan mereka -tumpukan pekerjaan itu- merasa diabaikan sejenak. Aku tahu mereka itu layaknya perempuan puber, jinak-jinak tahi ayam. Ketika dicuekin malah semakin meminta perhatian, menjadi semakin ganjen.

Bersyukur sekali aku tak sampai mengalami hipotermia dalam ruangan. Rupanya bertahun-tahun hidup di Jakarta yang terkenal sangar akan suasana gerahnya telah merubah presepsi ujung syaraf Rufini dan Krause di permukaan kulitku.

Ujung syaraf Krause menjadi lebih sensitif terhadap dingin. Sedangkan ujung syaraf Rufini menjadi lebih kebas terhadap panas. Ketika pulang ke Malang, aku merasa begitu kedinginan. Padahal dulu sebelum hijrah ke Jakarta, aku merasa nyaman-nyaman saja terhadap kondisi temperatur kota tercinta itu. Tapi asal kamu tahu saja, nilai pelajaran Biologiku pas-pasan.

Hipotermia? hmmm yaa tepat di atas kepalaku semanjak hari Senin lalu, menyembur udara yang sudah mengalami proses perpindahan kalor melalui kondesor. Udara itu menjadi terlalu dingin menerpa pori-pori kulit kepalaku.

Coba perhatikan foto di bawah ini, suram sekali rasanya ketika melihat muara pendingin ruangan sampai mengembun. Ditambah dengan dislokasi perilaku ujung syaraf Rufini dan Krause di sekujur permukaan kulitku, maka menggigillah tubuh berusia tiga puluh tahunan ini. hmmm yaa aku tak lagi muda-muda banget, sudah mulai memasuki area usia Oom-Oom. Lebih tepatnya Oom-Oom rasa Mas-Mas. Mohon hentikan niatanmu untuk berunjuk rasa atas statement nggaphleki ini.

Ketika keluar ruangan demi menyerap hangat mentari, aku merasakan tubuh ini menghangat. Bahkan cenderung panas. Jadi tak salah rasanya jika istriku menyebutku hot Oom-Oom of the year. Damn, satu rahasia kampretku terkuak lagi.

WhatsApp Image 2017-08-22 at 18.39.01
Udara mengembun di sekitar muara pendingin ruangan

Kenyamanan kerja tentu berbanding lurus dengan kondisi badan. Ini memang tampak manja sekali, tapi beginilah kenyataannya.

Coba saja kamu ingat-ingat ketika tubuhmu sedang menderita influenza, kemudian dipaksa oleh Ibu Guru Cantik pengajar Matematika di SMA mengerjakan persoalan kalkulus integral pangkat tiga pada angka-angka imajiner.

Yaaak belum selesai mengerjakan kerja rodi kalkulus itu, pasti kamu pingsan dan digotong kawan-kawan sekelasmu ke UKS. Kamu pingsan bukan karena tak bisa mengerjakan soal itu, tapi lebih karena kamu nervous berada di dekat Ibu Guru Cantik yang diam-diam kamu taksir itu. Lagu lama anak SMA.

Sama halnya dengan dunia kerja, tempat kerja yang membuat badan meriang tentu akan menghadirkan ketidaknyamanan saat berkarya. Temperatur dingin yang berlebihan bagiku cukup menyiksa.

Apalah daya, jaket bertudung warna kelabu yang kumiliki sedang berteduh di laundry langganan. Sudah lebih dari tiga hari, harusnya sudah selesai. Hanya saja aku malas untuk mengambilnya.

Aku kedinginan. Mau berpelukan dengan teman sekantor rasanya kok aneh. Kami bukan sekumpulan Teletubbies. Minum kopi pahit ternyata tak bisa menghangatkan badan. Mamang penjual bandrek tidak beroperasi di sekitar tempat kerjaku.

Tak kurang akal, aku bertanya kepada Ronaldo, rekan kerjaku yang ginjur-ginjur itu. Seingatku dia punya spare helm yang ia taruh di dalam lemarinya di kantor. Lemari itu tepat di belakangnya.

“Do, pinjem helm lu dong. Masih ada di sini gak..?” tanyaku tanpa pikir panjang kepada Ronaldo. Aku kedinginan, harus berpikir tan bertindak cepat sebelum kutu-kutu dirambutku hijrah ke hutan tropis yang lebih hangat di lapangan depan kantor.

“Ada bang, nih pake aja,” sahut Ronaldo sambil menyerahkan helm hijau full face mirip helm yang biasanya dibawa oleh abang-abang ojeg online. There you goo beginilah kira-kira penampakanku ketika tak kuat menahan dingin di dalam ruangan kerja. Aku berlagak seperti abang ojeg

Abaikan tempat kerjaku yang semrawut. Fokuslah pada kakiku yang tanpa alas kaki

Semoga tulisan singkat ini sedikit menghibur hatimu. Beginilah diriku, ketika sedang butuh hiburan, aku malah berindak sedikit absurd.

Salam,
DiPtra


Featured Image by Noah Silliman on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Follower Banyak Itu Mengerikan

Hal yang patut digarisbawahi adalah follower banyak tak selalu menguntungkan. Memang sih pada era segala hal bisa dikapitalisasi, memiliki jumlah follower banyak merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Kita tengok saja selebgram yang banyak bermunculan belakangan ini. Dengan mengambil sampel secara random, saya dapati akun-akun selebgram memiliki pengikut puluhan hingga ratusan ribu. Pada level artis beken yang sering muncul di acara tivi, film atau pun video klip maka jumlah follower bisa mencapai angka fantastis, jutaan.

Maka jangan heran bila online shop berdatangan untuk menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Lantas, apakah hal ini salah? Entahlah, jika pertanyaan ini dilontarkan kepada peserta acara cerdas cermat yang dipandu oleh Helmy Yahya pun saya yakin mereka akan menjawab secara normatif, yaitu relatif.

Hubungan online shop dengan selebgram ini boleh lah dikategorikan sebagai hubungan simbiosis mutualisme. Online shop-nya untung karena produknya dipromosikan, dengan harapan omset penjualan produk atau jasa meningkat. Sedangkan bagi selebgram sendiri, keuntungan materi yang cukup lumayan bisa diraih.

Bukan hanya selebgram ya, selebtwit pun dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu menjadi endorser beberapa produk. Namun belakangan ini saya melihat di Twitter jasa endorser mulai tergantikan oleh buzzer. Buzzer ini secara beramai-ramai melakukan promosi atas suatu produk yang ingin diperkenalkan.


Promosi Produk, Jasa, Kelakuan dan Pemikiran di Media Sosial

Di lain sisi, saya melihat jika produk yang dipromosikan oleh seorang selebgram, selebtwit, ataupun buzzer bertentangan dengan kenyataan, maka sejatinya terjadi semacam ke-tak-elokan moral di dalamnya. Maksudnya suatu produk A dipromosikan secara positif, padahal di dapurnya dirasani kalau produk A itu jelek.

Ambil contoh sederhana, ketika launching suatu produk kuliner XYZ, maka mau tak mau si selebgram, selebtwit, dan buzzer tentu akan bilang produk kuliner XYZ itu enak gak kalah dengan produk sejenis. Bahkan kadang sedikit lebay. Semacam kehilangan obyektifitas atas produk yang sedang dipromosikan. Mana ada kecap nomer dua.

Itu baru dari segi produk yang sedang dipasarkan atau dipromosikan. Bagaimana jika suatu pendapat, tindakan, pemikiran, narasi yang sedang disampaikan oleh selebgram, selebtwit, dan buzzer? Menurut saya, nilai pertanggungjawabannya lebih berat daripada mempromosikan suatu produk.

Jika selebgram atau selebtwit dengan ratusan ribu follower setia bahkan fanatik melakukan suatu tindakan tidak terpuji kemudian disebarkan di media sosialnya, bisa jadi follower setianya akan mengikuti apa yang dilakukan. Contohnya? hmm buanyaaaak. Karena follower setia dan fanatik itu menganggap apa yang dilakukan oleh idolanya itu keren. Benar atau salah, bermoral atau tidak itu urusan nanti, yang penting keren dulu.

Suatu tindakan buruk yang kemudian ditiru oleh orang lain, maka karma akibat keburukannya akan kembali kepada si pelaku mula. Lebih kurang seperti itu alur sebab akibat yang saya pahami.

Kehidupan bermedia sosial memiliki potensi interaksi dengan manusia-manusia lain yang tidak bisa kita prediksi persebarannya. Maka dari itu adalah bijaksana jika kita menebarkan kebaikan-kebaikan saja di akun-akun media sosial yang kita miliki. Ini menurut saya bukan sebuah pencitraan. Menjadi pencitraan jika kebaikan atau inspirasi yang disampaikan bertentangan dengan keseharian.


Mawas Diri Dalam Berkelakuan di Media Sosial

Lantas apakah tulisan ini semacam wujud keirian saya karena gagal menjadi selebgram? Hmmm bisa jadi iya, namun justru karena saya menyadari benih-benih yang tidak baik bersemi dalam hati maka secepat mungkin saya harus bisa meredamnya. Maka menuliskan tentang keresahan hati ini merupakan cara paling sederhana untuk meredamnya. Menetralkannya.

Bahkan semenjak saya dirasuki oleh pemikiran bahwa memiliki follower banyak itu mengerikan, jadinya semakin tidak tertarik menjadi seleb media sosial. Walaupun menjadi seleb media sosial ataupun tidak sama-sama memiliki potensi penyebaran kebaikan dan keburukan, menjadi sosok yang berada pada spotlight banyak orang itu untuk saya tidak mengenakkan. Semacam ada kebebasan yang terenggut.

Tapi entahlah, ini hanya perasaan saya saja. Pada titik tertentu, saya malah ingin menghilang dari peredaran media sosial kebanyakan yang kerap saya gunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path.

Bersepi-sepi saja menulis, menuangkan pemikiran. Seperti halnya menulis dan membaca konten-konten menarik dan bergizi di Medium ini, merupakan sebentuk pelarian dari kejenuhan media sosial kebanyakan.

Paling tidak saya ingin menyeleksi apa-apa yang akan dikonsumsi oleh pikiran saya. Bukan hal-hal random tak terkendali yang memenuhi beranda media sosial.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Salam,
DiPtra


Photo by Camila Damásio on Unsplash
Originally posted on diptra.id