Kerjakan yang Di Depan Mata, Lupakan Keinginan

Sebelum tulisan bagus ini menguap dan terlupakan, maka saya harus iseng untuk mengabadikannya di dalam blog ini. Memang ini terasa tidak orisinal. Paling tidak saya masih orisinal dalam memberikan kata pengantar walau hanya beberapa kalimat.

Jadi, inti hikmah yang bisa saya tangkap dari tulisan berikut ini adalah ketika punya impian atau keinginan, jangan ambisius banget laah yaa. Selow ajah. Begitu yang saya tangkap dari cerita Gus Banan ini.

Selama membacanya saya manggut-manggut menyetujui dan merefleksikannya terhadap kehidupan yang sudah saya lalui. Yaa memang leres sekali apa yang beliau sampaikan.

Ruh tulisan ini, terangkum dalam quote yang beberapa kali di ulang oleh Gus Banan seperti di bawah ini:

Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini


SEBAIK-BAIK IKHTIYAR USAHA ADALAH YANG PEROLEH KESADARAN

#SebuahCerpen

“Sesudah memasuki usia balig, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, di mana ia juga jatuh cinta padaku. Ia cinta pertamaku, bahkan ihtilām (mimpi basah) pertamaku juga dirinya yang ada dalam mimpi. Kami sama-sama jatuh cinta ja”laran seka kulina” (karena terbiasa bersama).”

“Sejak SD kami berdua bersaing ketat dalam prestasi, kompak dan sinergi. Setelah di SMP di mana usia kami mulai pubertas, kami jadi saling jatuh cinta. Waktu sekolah SMP baru 3 bulan, aku disuruh orang tua pindah sekolah, orang tua ingin sekolahku sambil mondok. Karena aku enggan pisah dengan cinta pertamaku, aku tidak mau pindah sekolah. Orang tuaku akhirnya mengalah. Ternyata di belakang hari, walau kami berdua tau sama-sama cinta, tapi kami tidak bisa menyatu. Cinta kami masih ukuran cinta monyet, miss komunikasi terjadi, sehingga kami bertahan dengan ego kami masing-masing. Kami seperti Tom and Jarry. Tujuanku bertahan satu sekolah untuk bisa dekat dengannya, justru aku malah jadi jauh.”

“Baru setelah kami tidak lagi satu sekolah, kami saling mencari, karena kami saling mencintai sangat mendalam. Namun tetap tidak bisa pacaran, entah mengapa setelah jarak kami jauh, kami sangat sulit berkomunikasi. Dan hingga kami dewasa, kami berdua tidak bisa pacaran. Apalagi waktu itu belum zaman handphone, komunikasi kami sangat terbatas. Setelah handphone ramai, aku terhubung dengan ia, ternyata ia sudah menikah. Cinta pun hingga saat ini hanya menjadi rasa yang perlahan terlepas tanpa bisa memiliki.”

“Sisi lain dari hidupku, setelah SMA dan perguruan tinggi, aku di pondok pesantren. Aku anak yang gemilang di urusan leader dan akademis, karena dari SD pun aku sudah menonjol. Ambisiku besar, jika aku tidak bisa punya pengaruh di publik, aku kesal dan tidak tahan menahan rasa terpinggirkan. Tapi aku malah mengalami keadaan sebaliknya, semua ambisi-ambisiku sangat susah aku capai. Ingin jadi ketua OSIS gagal, hingga di kampus aku ingin jadi presiden BEM juga gagal total.”

“Di SMA dan kampus kuliah, aku kebetulan bareng seorang pesaing, bahkan di pondok pesantren kami juga bareng, leader dan kecerdasannya seimbang denganku, tapi semua karir publik ia yang dapatkan. Ia jadi selebritis, pacar pun berdatangan melamarnya. Baik ketua OSIS, presiden BEM, hingga jabatan bergengsi di pesantren, termasuk menjadi Lurah Pondok, ia yang meraih. Aku cuma jadi kutu mati. Potensiku hancur, aku yang leader-nya kuat di organisasi publik paling di posisi departemen kebersihan, paling banter departemen pendidikan. Entah apa jalan yang dikehendaki Tuhan sehingga menyiksaku seperti ini.”
“Seperti apa rasa hatiku hidup seperti itu? Semua yang aku hasrati justru dijauhkan dariku? Mulai dari wanita yang kucintai sampai karir publik yang kuminati dijauhkan sejauh-jauhnya dariku. Tentu nangis batin yang kuperoleh. Yang ingin kupegang malah lepas.”

“Akhirnya aku hanya dapat mengerjakan apa yang ada di depan mata. Yang kupegang tidak pernah lepas hanya buku dan kitab pelajaran. Itu yang akhirnya menjadi pelampiasan emosi terpendamku. Siang malam aku hanya fokus di pelajaran, hingga bertahun-tahun. Hingga aku lupa sendiri dengan kegiatan BEM dan organisasi publik di pesantren. Dan ternyata, aku lulus dengan IP tertinggi, aku menjadi satu-satunya santri dan mahasiswa yang dapat bea siswa S2 ke Universitas Al-Azhār Mesir.”

“Mulai saat itu namaku meroket di kampus dan pesantren. Sana-sini mengenalku. Aku jadi paham kalau pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini.” Karena dari urusan cinta sampai karir, semua yang kuingini malah kabur.”

“Aku peminat bujang tua, karena memang minat besarku pada akademis dan ilmu. Minat di dunia publik sudah musnah terkubur. Ketika sudah di Mesir, ketika aku yang sudah kenyang dijejali gagal memperoleh jabatan publik, di sana pun aku langsung konsentrasi pada pelajaran, namun kali ini di Mesir aku sambil kerja, karena biaya kuliah dari pemerintah, tapi biaya hidup aku harus nanggung sendiri. Dan ketika aku telah lupa dengan jabatan publik mahasiswa, kini di Mesir justru jabatan itu mengejar diriku. Tapi aku sudah tidak minat. Cuma karena ditarik-tarik jadi mau tidak mau harus kumakan.”

“Pulang ke Indonesia pun, aku yang vokal ceramah tidak laku-laku ceramah. Santri juga waktu itu belum punya. Aku yang lulusan S2 A-Al-Azhār fakultas sastra Arab boro-boro jadi penceramah kondang dan kyai besar. Aku melamar jadi dosen kesana-kemari, akhirnya diterima jadi dosen di perguruan tinggi swasta. Di kampung aku yang punya ambisi jadi penceramah tidak laku-laku. Paham dengan pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini,” aku mulai ngajar ngaji anak-anak kampung. Dan aku tekuni benar. Rasa ingin jadi kyai besar aku endapkan. Terus aku tekuni, dan 2 tahun kemudian mulai ada santri minta jadi santriku. Lagi-lagi, aku sudah nikmat ngajar di internal pesantrenku dan di kampus, undangan ceramah berdatangan padaku.”

“Dan sebenarnya, selama aku digerus-gerus tidak pernah ketemu dengan yang kuingini, di sana egoku hancur dan buram, yang akhirnya lamat-lamat kutemukan Tuhan. Dan saat sekarang ketika orang-orang menyaksikanku mapan dan sukses, aku sendiri sudah hanya di dalam Tuhan. Dunia-dunia gemilang di sekitarku hanya tinja pupuk hidupku. Tinja tapi kumanfaatkan untuk pupuk.”

“Dan ternyata, informasi yang kuterima, temanku yang dulu di kampus dan pesantren jadi leader hebat, kini malah ia terpuruk, hidup jadi orang biasa, tidak punya pengaruh apa-apa, aku dengar ia sekarang di Arab Saudi jadi TKI karena harus menanggung sulitnya penghidupan. Padahal ia dulu aku kira akan jadi tokoh hebat di antero Indonesia. Alhasil, hidup itu hanya Tuhan yang bisa eksis, ditemukannya Tuhan bila ego keinginan remuk. Ketika keinginan ego kita dituruti oleh Tuhan, hakikatnya kita digelapkan dari Zat-Nya. Karena itu sebaik-baik ikhtiyar usaha ialah yang peroleh kesadaran atau hikmah, peroleh hasil bukanlah perolehan utama.”

“Teman pesaingku itu ternyata ketika berjaya tidaklah sewaspada diriku. Ketika aku takut pacaran karena takut keinginanku tidak terijabah, justru ia gonta-ganti pacar karena merasa maksiat tidak ngaruh untuk karir dan ilmunya. Jadi begitulah Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia jauhkan keinginan si hamba, agar si hamba memakan yang tidak ia hasrati, ketika si hamba memakan yang tidak ia hasrati, itu hakikatnya si hamba hanya menikmati Tuhan.” []


Dicerpenkan dari tutur seorang tamu spiritualis, ia seorang dosen muda di beberapa kampus, juga kyai muda pemangku pesantren. #RepostCerpen


Oke, saya tahu beberapa hari ini menjelang hari kemerdekaan Indonesia, tapi kok saya tak kunjung menelorkan tulisan berkaitan dengan kemerdekaan. Malah me-repost tulisan orang lain di blog ini. Hmmm iya siih memang sudah lama juga saya ndak nulis di sini, menyapa kawan-kawan wordpress.

Begitulah, kali ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan untuk tidak menulis ataupun menulis di blog ini. Bahkan saya merasa merdeka untuk mengisi atau tidak mengisi kemerdekaan. Ahhh dasar lelaki egois.

Salam..
dia si Lelaki Egois Berwajah Ndangdut


Featured image by Shane Rounce on Unsplash
Advertisements

Tema Bulanan

Semenjak awal Mei lalu, tanpa saya sadari saya menerapkan tema bulanan yang ingin saya tuliskan di blog ini. Di Bulan Mei, saya sudah menuliskan secara rutin selama tiga puluh satu hari hal-hal yang berkaitan dengan mindfulness.

Bulan selanjutnya saya mencoba memfokuskan diri untuk menulis perihal bernafaskan spirit puasa. Rencana awalnya saya ingin menulis rutin setiap hari mengenai puasa Ramadhan seperti tahun lalu. Namun rupanya kemalasan menulis bersenyawa dengan kesibukan kerja membuat saya tertatih-tatih untuk menulis.

Belum lagi ketika kemuakan untuk menulis menghinggapi alam semangat saya. Rasanya saat itu saya pingin hiatus menulis selama satu bulan.

Namun rupanya ketika perlahan-lahan saya mulai membaca buku, hasrat untuk mulai menulis hadir kembali.

Menjelang akhir Ramadhan saya mulai menikmati interaksi dengan Al-Qur’an. Membaca tartil teks bahasa Arab Al-Qur’an sembari membaca terjemahannya setelah itu. Ternyata ada keasyikan tersendiri ketika mendalami terjemahan Al-Qur’an. Betapa selama ini saya hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti di belakangnya.

Saya tahu untuk menyelami kedalaman kandungan Al-Qur’an tidak cukup hanya bermodalkan terjemahan bahasa Indonesia. Tapi sebagai gerbang pembuka kecintaan terhadap pesan-pesan suci ilahi, paling tidak saya harus mengerti arti dalam bahasa Indonesia dari teks bahasa Arab yang disuguhkan di dalam Al-Qur’an.

Ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an itu saya perlahan-lahan menyesali waktu-waktu yang telah berlalu. Khususnya waktu yang ditelan tanpa sadar dan semena-mena oleh macam-macam media sosial.

Seiring dengan kesadaran akan media sosial ini, inginnya sih di bulan Juli ini saya mengetengahkan tema yang berkaitan dengan media sosial. Baru ada bayangan kasar apa saja yang hendak saya bahas berkaitan dengan media sosial di blog ini.

Memang pada beberapa tulisan yang telah lalu saya sesekali membahas tentang media sosial. Maka pada kesempatan kali ini, untuk tema bulanan saya mencoba mengetengahkan pengalaman selama menggunakan media sosial. Keuntungan dan kerugian yang dihasilkan oleh media sosial. Pandangan orang lain berkaitan dengan media sosial rasanya ingin saya ketengahkan dalam blog ini.

Mengingat distraksi yang dihadirkan oleh media sosial dalam kehidupan sehari-hari kita mulai terasa mengganggu. Tujuan pengambilan tema bulanan tentang fenomena media sosial ini bukan hendak memusuhi kehadiran media sosial. Namun lebih kepada self reminder agar lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial.

Media sosial memang telah menjadi bagian dalam kehiduan kita. Rasanya agak mustahil jika harus benar-benar mencerabut media sosial dalam kehidupan. Selain itu media sosial tak melulu berdampak negatif, banyak orang yang memperoleh benefit secara materil maupun non meteril ketika berinteraksi dengan media sosial.

Media sosial bersifat netral, niat atau tujuan penggunanya lah yang menentukan arahnya. Masalahnya banyak orang menggunakan media sosial tanpa tujuan yang jelas, banyak yang hanya ikut-ikutan dan sekedar ingin eksis.

Selamat menikmati hujan di bulan Juli.

Salam.
DiPtra


Featured Images by Eric Rothermel on Unsplash

Kualitas Album Lagu

IMG_5672

Saya pernah membaca tulisan Pak Budi Rahardjo tentang kualitas tulisan. Tulisan Pak Budi Rahardjo di tahun dua ribu sembilan itu mempertanyakan “Haruskah tulisan kita di blog berkualitas?”1. Jenis pertanyaan ini cukup nakal namun menggugah nalar untuk berpikir.

Dari tulisan Pak Budi Rahardjo tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa agar menjadi blog yang populer tulisan tidak perlu terlalu berkualitas. Mantra yang didengungkan Pak Budi Rahardjo adalah “kuantitas lebih menentukan daripada kualitas”.

Hal ini merupakan sudut pandang baru  yang cukup segar bagi saya. Pak Budi Rahardjo menganalogikan jika tulisan kita berkualitas tapi hanya ada satu tulisan dalam satu bulan, maka pengunjung blog hanya akan datang sebulan sekali. Jika blog kamu diperbaharui setiap hari, maka kemungkinan orang untuk mengunjungi blog kamu setiap hari semakin besar. Menurut saya hal ini berlaku untuk blog-blog baru yang mulai merangkak. Untuk blog yang sudah memiliki ratusan konten dan memiliki banyak pembaca setia sebenarnya tak perlu memperbaharui tulisan di blog setiap hari.

Akan tetapi ada juga saran dari bloger lain agar menulis dengan kualitas yang bagus dan tidak perlu setiap hari, namun terjadwal. Hal ini juga bagus dilakukan jika kamu merasa energi ngeblog-mu bakal terkuras habis jika harus ngeblog setiap hari.

Dua paradigma yang saling bertolak belakang ini tak perlulah dipertentangkan atau diperdebatkan. Silahkan saja memilih salah satu yang dirasa cocok. Saya sendiri penganut aliran album lagu dalam ngeblog.

Maksudnya begini, saya menganalogikan ngeblog setiap hari seperti sebuah grup band atau seoarag penyanyi yang mengeluarkan album lagu. Memang grup band atau seorang penyanyi tidak mengeluarkan album setiap hari. Namun saya mengambil analogi bahwa tidak semua lagu enak dalam satu album musik. Atau setiap orang memiliki lagu favorit yang berbeda-beda dari satu album musik.

Mulai mengerti benang merahnya? Satu tulisan dalam blog ini, saya analogikan sebagai sebuah lagu. Kategori dan hashtag, bahkan blog ini saya analogikan sebagai album musik. Maka sangat mungkin satu tulisan saya disukai dan tulisan lainnya tidak. Selera setiap pembaca berbeda-beda. Saya hanya memperbesar peluang agar tulisan saya dibaca dan ada manfaat yang bisa dituai.

Kembali tentang tulisan berkualitas, kira-kira apa saja sih kriteria sebuah tulisan disebut berkualitas. Apakah dari panjang dan pendek tulisan, atau dari rangkaian diksi yang apik atau kah dari alur berpikir dan bertutur yang jernih. Menurut saya, tulisan yang berkualitas adalah tulisan yang menyampaikan pesan dan pesan itu bisa diterima dengan baik oleh pembacanya. Tak peduli apakah tulisan panjang atau pendek, diksinya sederhana atau akrobatik, alur lugas jernih atau berliku.

Maka dari itu, untuk tulisan-tulisan selanjutnya di blog ini, kemungkinan akan saya buat pendek-pendek, hanya beberapa paragraf saja. Harapannya hikmah atau pesan dalam tulisan-tulisan pendek itu nantinya tetap tersampaikan.

Alasan lainnya adalah padatnya jadwal pekerjaan mendekati bulan Ramdhan tahun ini. Maka ada rutinitas yang perlu saya mampatkan alokasi waktunya. Menulis konten untuk blog menjadi salah satu rutinitas yang saya mampatkan waktunya. Semoga berkenan.

Salam..
DiPtra

Menulis Tiga Puluh Hari

IMG_5668

Jika menengok kembali pada bulan April yang lalu, sejak tanggal dua belas, blog ini rutin saya isi setiap hari. Hal ini saya maksudkan untuk memasukkan aktivitas ngeblog sebagai salah satu prioritas yang seharusnya saya lakukan. Alasan saya sederhana, yaitu untuk melatih skill menulis saya.

Melatih diri untuk bisa menuai hikmah dari setiap kejadian dan peristiwa. Selain itu dengan memaksakan diri menulis, khususnya hal-hal positif setiap hari, maka secara tidak langsung memacu saya untuk selalu berpikiran positif.

Dalam buku Quantum Writing karya Hernowo, aktivitas menulis merupakan salah satu bentuk terapi jiwa. Dengan menulis insyaa Allah jiwa akan menjadi lebih sehat. Wallahu’alam.

Salam..
DiPtra

Serangan Kolom Komentar

Kamis lalu, tiba-tiba ada beberapa notifikasi komentar masuk dari aplikasi WordPress di handphone saya. Dalam waktu hampir bersamaan notifikasi komentar-komentar itu masuk.

IMG_5641
Serangan Spam dengan bahasa Alien

Sebagai bloger, tentu ada rasa senang ketika sebuah tulisan yang tertuang di blog mendapat respon dari pembacanya. Tapi rasa senang akan berubah menjadi jengkel ketika mendapati komentar yang masuk adalah komentar spam. Haiish ini sih namanya menyebalkan sekali.

Yaah namanya juga orang usaha, berbagai cara dilakukan. Entah apa tujuan dari spammer yang menyerang lapak komentar blog ini. Padahal dari sisi lalu-lintas pengunjung blog saya ini tidak rame-rame amat. Hmm entahlah.

Komentar spam masuk karena pada dashboard WordPress blog ini saya men-setting untuk menerima semua komentar yang masuk di kolom komentar. Hmm ini sih dikarenakan keteledoran saya sebenarnya.

Saya menganggap fitur Akismet yang disediakan oleh WordPress cukup kebal menahan serangan komentar spam. Akan tetapi pada kasus yang saya alami, pertahanan  Akismet akhirnya jebol juga. Saya belum melaporkan insiden ini kepada pihak WordPress.

Untuk menanggulangi hal ini, maka saya merubah setting-an kolom komentar di blog ini. Komentator minimal sudah pernah mendapatkan sekali persetujuan dari saya untuk meninggalkan komentar. Hal ini saya maksudkan sebagai verifikasi komentator dan langkah preventif terhadap serangan spammer di masa yang akan datang.

Jadi kalau kamu baru kali pertama meninggalkan komentar di blog ini, mohon maaf jika komentar kamu tidak langsung muncul di kolom komentar. Tapi kalau kamu sudah pernah meninggalkan komentar sebelumnya dan mendapat peretujuan dari saya, maka komentar kamu akan langsung muncul di kolom komentar.

Berikut ini cara men-setting kolom komentar di blog melalui aplikasi WordPress di handphone.

1. Masuk pada tab Settings

IMG_5645.PNG
pilih bagian Discussion pada tab Settings

 

2. Pilih bagian automatically Approve

IMG_5646
Pilih opsi Automatically Approve

 

3. Pilih Opsi Known User’s Comments

IMG_5644.PNG
Pilih Opsi Known User’s Comments

Salam..
DiPtra

Mortuus Finem

Mortuus finem dalam bahasa Latin berarti jalan buntu. Begitulah, seharian ini saya asik menemani Raffii bermain. Menyuapinya makan siang. Memandikannya sejam yang lalu. Sekarang dia sudah terkapar di atas kasur diserang pasukan lelap. Keadaan ini membuat saya malas menulis, menikmati momen-momen bersama anak hihi.

Merasa buntu untuk menyampaikan bulir-bulir pemikiran kedalam blog. Mumpung cuti pikir saya. Tapi karena sudah membuat komitmen untuk menulis hasil latihan mindfulness, maka tulisan ini hadir dalam tempo menulis yang sesingkat-singkatnya.

Selama latihan dua belas menit tadi, saya kepikiran apa saja penyebab kebuntuan ide untuk menulis.

Paling tidak ada tiga sebab yang tadi sempat kepikiran. Sebab pertama adalah kosongnya teko. Pikiran ibarat teko. Jika tak ada lagi air yang bisa dikeluarkan dari dalamnya, berarti dia perlu diisi lagi.

Maka untuk menggugah ide tulisan, cara yang bisa ditempuh adalah membaca tulisan di berbagai media. Entah buku, artikel blog, portal berita, running text di televisi, sampai koran bungkus kacang rebus. Isi teko pikiran yang mulai mengering.

Penyebab kedua adalah rasa takut. Perfeksionis dalam tulisan. Ingin tulisan yang disajikan selalu sempurna. Rasa ini juga kerap menghampiri semangat saya untuk menulis.

Atau takut ide-ide yang akan disampaikan menyinggung dan menghadirkan kontroversi. Untuk mengatasi hal ini perlu latihan cu3k (mau protes yaa kenapa huruf e-nya saya ganti menjadi angka 3..? Hanya menyiratkan sisa-sisa kealayan masa lalu 😂).

Sebab terakhir adalah terlalu larut dengan kejadian yang menimpa sehari-hari. Ketika terlalu larut dengan apa yang sedang terjadi, sering kali membuat kita lepas kesabaran dan emosi.

Jika menahan kesabaran dan emosi saja tak bisa, apalagi jika harus mengambil pelajaran dari kejadian sehari-hari. Besar kemungkinan tak akan terpikirkan.

Nah, pada penyebab ketiga inilah berlatih mindfulness dapat melatih otot kesabaran dan kesehatan pikiran kita.

Mungkin sekian dulu curhat receh hari ini. Moga bermanfaat. Sebagai penutup, aplikasi Still yang saya gunakan sebagai timer latihan mindfulness, selalu memberikan kata-kata inspirasi setiap selesai sesi latihan. Kali ini aplikasi Still menyampaikan kata-kata inspirasi dari Eckhart Tolle.


Salam..
DiPtra

Mapping Domain pada WordPress.com

Saperti sudah saya utarakan pada tulisan sebelumnya, bahwa fitur mapping domain sengaja disembunyikan oleh pihak WordPress.com. Tapi secara tidak sengaja saya menemukan fitur mapping domain dari WordPress.com. Link untuk mapping domain tidak akan ditemukan pada menu default upgrade layanan dari WordPress.com. Atau barang kali saya belum menemukannya.

Bahkan pada halaman help1 untuk maping domain, pengguna WordPress diarahkan untuk meng-upgrade layanan menjadi premium.

Berikut ini cara yang saya lakukan untuk melakukan mapping domain pada WordPress.com seharga 13 USD per tahun. Tapi sebelum memulai, ada prasyarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan mapping domain.

  1. Sudah memiliki domain yang hendak di-mapping dan memiliki akses untuk mengatur nameserver domain. Paling tidak memiliki pengetahuan sekilas mengenai nameserver2.

  2. Memiliki akun Paypal atau Credit Card. Karena WordPress.com hanya menerima dua macam tipe pembayaran itu.

  3. Akses dari browser komputer atau notebook dan koneksi internet yang lumayan kenceng.

  4. Milikilah jiwa yang selow.

Baiklah, mari saya jelaskan cara ehem-ehem yang saya lakukan untuk melakukan mapping domain.


Cara Mapping Domain Ehem-Ehem

1. Memilih Plan Personal

upgrade_1.PNG
Pilih plan upgrade personal

Pilihlah plan upgrade personal. Perlu diingat, layanan upgrade berlaku setahun. Pada gambar di atas telampir 2.99 USD per bulan. Permainan psikologis sih biar nampak murah hihihi.

2. Lakukan Pembayaran

Capture_2
Lakukan Pembayaran

Lakukan pembayaran sesuai metode yang diberikan oleh WordPress.com. Dalam hal ini, saya melakukan pembayaran via Paypal. Nampak dalam kolom total tagihan yang harus saya bayar sebesar 35.88 USD per tahun.

3. Mapping Domain

Capture_4Selanjutnya masuk pada menu domain. Kemudian pilih menu Already own a domain?. Saya lupa meng-capture proses mapping domain yang saya lakukan. Pada contoh gambar di atas untuk melakukan mapping domain akan langsung terintegrasi dengan layanan plan premium.

Namun jika sudah melakukan langkah kedua (pembayaran plan personal), maka opsi Already own a domain? akan menjadi free alias gratis. Hmm ga gratis juga sih, karena sudah terintegarasi dengan plan personal yang sudah dilakukan sebelumnya.

4. Ganti Nameserver

Langkah selanjutnya adalah merubah nameserver pada penyedia domain. Cara mengganti nameserver bisa diikuti pada tautan di footnote.

Ganti nameserver pada domain dengan nameserver milik wordpres sebagai berikut:

ns1.wordpress.com
ns2.wordpress.com
ns3.wordpress.com

Jika nameserver sudah diganti, maka harus selow bersabar menanti proses propagasi antara domain dengan nameserver selesai. Biasanya proses propagasi memakan waktu 24 jam hingga 48 jam. Selama proses propagasi ini, blog saya agak menjadi ndangdut kadang bisa dibuka, kadang tidak. Maklum masih galau.

5. Refund

Awalnya saya iseng-iseng saja memilih opsi refund layanan plan personal dari WordPress. Ternyata domain yang sudah di-mapping, tetap kena charge 13 USD. Jadi, ketika saya melakukan refund, dana yang dikembalikan hanya sebesar 22.88 USD (berasal dari 35.88 – 13). Dari sini saya berkesimpulan bahwa biaya mapping domain sebesar 13 USD masih tersedia. Hanya saja tersembunyi jauh di dalam sistem pembayaran WordPress. Bisa jadi layanan ini lama-lama akan dihilangkan. Semoga tidak.

Menu refund ada pada menu plan. Maaf saya lupa meng-capture menu refund yang saya maksud. Berikut ini bukti refund dari WordPress pada riwayat transaksi Paypal saya.

refund
riwayat transaksi paypal

Pada gambar di atas ada dua catatan refund dari WordPress.com. Hal ini saya lakukan karena sebelumnya saya salah melakukan transaksi redirect domain. Padahal redirect domain berbeda dengan mapping domain.

Nantinya, jika proses mapping domain sukses, maka pada tab domain akan muncul menu seperti ini.

Capture_3
Mapping domain sukses

Yaak lebih kurang seperti itu metode mapping domain ehem-ehem yang saya lakukan. Berita baiknya, setelah saya melakukan refund plan personal, harga untuk upgrade layanan yang ditawarkan kepada saya menjadi menurun. heuheheu blessing in disguise

upgrade_2
Diskon upgrade layanan wordpress.com

Nah, screenshot di atas adalah upgrade plan yang ditawarkan oleh WordPress setelah saya melakukan refund pada layanan sebelumnya. Lumayan kan selisihnya..?

Sekian semoga bermanfaat.

Salam..
DiPtra

Alasan-Alasan Menggunakan Mapping Domain pada WordPress.com

Sambil menanti propagasi1 name server kelar, ada baiknya saya nulis tentang alasan-alasan menggunakan mapping domain pada WordPress.com. Karena beberapa waktu yang lalu saya kepikiran untuk memindahkan konten di hosting server lama. Saya ingin menggunakan subdomain yang sudah saya gunakan di WordPress.com terhubung dengan domain yang sudah saya miliki..

Ada beberapa alasan yang membuat saya pingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com. Selama ini menggunakan beberapa hosting lokal, bahkan sempat nyobain platform Ghost dengan mengorbankan tulisan-tulisan di tahun 2015-2016. Demi percobaan pindah paltform, tulisan saya amblas , lebih tepatnya sih bukan amblas yaa, tapi lebih ke males repost ke blog wordpress lagi.

Oke paling tidak ada 4 alasan yang membuat saya ingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com, antara lain:

1. Plugin Jetpack

Plugin Jetpack yang berfungsi untuk menghubungkan selfhosted WordPress dengan WordPress.com sering kali ngadat. Mungkin karena koneksi antara hosting yang saya sewa dengan plugin Jetpack kurang bagus.

Selain itu, traffic dan komentator blog ini kebanyakan berasal dari wordpress.com. Mapping domani sebagai sarana mempermudah proses interaksi.

2. Hosting

Ongkos sewa hosting yang selama ini saya pakai, lebih mahal daripada ongkos mapping domain. Memang dengan menggunakan hosting sendiri, akan lebih bebas dalam pengaturannya. Namun, dengan harga yang lebih murah, fitur mapping domain dari wordpress.com saya rasa lebih baik. Sebagai contoh, dengan menggunakan mapping domain makan kita akan mendapatkan space sebesar 3GB. Sedangkan dengan harga yang lebih kurang sama di hosting lokal yang saya gunakan, saya hanya mendapat space 500MB

Selain itu kecepatan akses server dengan menggunakan fitur mapping domain lebih cepat. Terutama jika saya akses wordpress dari aplikasi. Ketika masih menggunakan hosting sendiri, jika mengakses blog dari aplikasi terasa sekali lambatnya.

3. Kepraktisan

Dengan meggunakan mapping domain, maka urusan install wordpress di hosting, perawatan hosting, otomatis tidak saya alami. Belum lagi kalau hosting tiba-tiba down huehue menangislah saya.

Selain itu kebutuhan saya saat ini hanya ingin ngeblog dengan menggunakan TLD. Saya membutuhkan kepraktisan yang ditawarkan oleh wordpress.com2

4. Backup

Urusan backup sebenarnya bisa dilakukan di hosting sendiri, namun ini relatif ribet. Selain itu, saya ingin menghindari kekhilafan. Misalkan saya khilaf untuk memperpanjang sewa hosting atau domain, maka tulisan-tulisan yang pernah saya buat akan tetap ada di wordpress.com. Tulisan saya akan tetap ada di subdomain wordpress.com3 yang saya mapping ke diptra.com.

Memang sih bakal ada kelemahan ketika menggunakan mapping4 domain. Karena saya hanya menggunakan fitur mapping domain maka akan muncul iklan jika blog saya dibuka melalui browser. Tapi jika dibuka melalui aplikasi wordpress.com, iklan tidak akan muncul.

Kebebasan untuk meng-install plugin dan custom themes juga menjadi sebuah keterbatasan. Khususnya untuk themes yang tidak tersedia di wordpress.com. Tapi hal ini tidak menjadi masalah karena free themes yang disediakan oleh wordpress.com sekaran sudah relatif bagus dan sesuai kebutuhan saya.

Oh iya berikut ini pricing atau daftar harga yang ditawarkan oleh wordpress.com ketika kita ingin meng-upgrade layanan..

cutom domain
pricing layanan wordpress.com

Loh kok tidak ada fitur mapping domain dari gambar layanan di atas..? Iya nampaknya WordPress.com menyembunyikan fitur mapping domain pada daftar harga layanannya. Padahal, sebelumnya fitur mapping domain ini secara default tersedia pada daftar layanan yang ditawarkan. Bahkan, dulu sekali fitur mapping domain ini gratis.

Saya sudah mencari dan menelisik link-link yang ada di wordpress.com guna mencari fitur mapping domain ini, dan tidak ketemu juga. Membaca help di forum pun tidak saya temukan. Namun dengan sedikit trik yang lumayan ehem-ehem akhirnya saya menemukan secara tidak sengaja fitur mapping domain yang dihilangkan ini.

Nampaknya, wordpress.com sengaja mengarahkan user yang ingin meng-upgrade layanannya agar menggunakan fitur Personal ataupun Premium. Padalah untuk layananmapping domain ini hanya membutuhkan biaya sebesar 13 USD per tahun.

Lantas bagaimanakah trik ehem-ehem yang saya lakukan sehingga menemukan juga fitur mapping domain yang hilang ini..?

Hmmm sudah malam, saya harus pulang. Karena sejak laptop saya rusak, saya ngeblog menggunakan notebook kantor. heuhehueh dasar enggak professional.

Salam..
Dia si manusia tengil


  1. Propagasi domain adalah waktu yang diperlukan sebuah domain untuk tersambung dengan server hosting. Masa propagasi ini bervariasi, mulai dalam hitungan menit maupun hari. Biasanya Domain Propagation Period dapat berlangsung 1×24 jam. Tetapi kadang bisa mencapai 1×48 jam tergantung ISP yang digunakan. 
  2. https://wordpress.com/com-vs-org/ 
  3. subdomain wordpress.com yang saya mapping adalah https://artpid.wordpress.com 
  4. Mapping domain adalah mengarahakan suatu domain menuju server hosting yang sudah ditentukan sebelumnya 

Sibuk yang Baik

Atas pernyataan selengekan di sebuah grup, salah seorang teman saya memberikan nasihat yang membuat saya terdiam. Awalnya sih sempat beper juga karena mendapat reminder di area publik itu tidak menyenangkan. Tapi yaa apa mau dikata, sudah terlanjur terjadi.

Maka jangan heran jika sesorang dinasihati di tempat umum sering kali tidak terima dan melakukan pembelaan-pembelaan, apalagi jika penyampaian nasihatnya frontal. Hal ini juga yang kerap saya temui di media sosial. Perdebatan panjang di media sosial atas suatu hal karena tidak terima atas sebuah kritik atau saran.

Jika tidak disibukkan dengan kebaikan, maka dirimu akan disibukkan dengan keburukan.

Lebih kurang seperti itulah nasihat yang disampaikan oleh teman saya. Ternyata nasihat itulah yang kembali menyuntikkan semangat untuk kembali mengisi konten di blog ini.

Pada khutbah Jum’at yang lalu di masjid tempat saya bekerja, Khatib menutup khutbah dengan menyampaikan tiga nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. Ketiga nasihat itu adalah sebagai berikut:

  1. Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah islam sebagai nikmat bagimu.
  2. Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu.
  3. Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.

Aktifitas menulis di blog, bagi saya adalah suatu kesibukan yang baik. Menulis menjadi sebentuk proses penuangan pikiran guna mengukur sudah sampai sejauh mana pemahaman yang dikuasai. Karena, jika tidak menyibukkan diri dengan menulis blog, maka waktu luang saya lebih banyak saya habiskan untuk mendengkur. Plaaaaak

Salam..
DiPtra

Flavo

Pemilihan warna adalah hal yang cukup urgent dalam hal branding. Warna yang menjadi ciri khas suatu produk. Seperti halnya Whatsapp dengan warna hijaunya, Facebook dengan warna birunya, ataupun Gojek dan Grab yang sama-sama memiliki ciri khas warna hijau.

Berangkat dari dasar pemikiran itu, saya bereksperimen dalam pemilihan warna untuk blog ini. Saya menggunakan aksen merah untuk link dan title website. Sedangkan untuk featured image masih suka random dalam pemilihan warnanya. Begitu juga desainnya masih ngacak suka-suka hati.

Kali pertama membuat featured image saya menggunakan Canva1, tahun lalu. Canva adalah sebuah aplikasi berbasis web, sehingga kita tidak perlu meng-install aplikasi kedalam komputer. Cukup mengedit featured image melalu brower yang sudah ter-install di komputer. Aplikasi Canva sudah tersedia di Apps Store untuk Ipad2. Walaupun bisa di-install iPhone, penggunaannya agak sedikit rikuh.

Namun saat ini, saya menggunakan aplikasi Typorama3 untuk membuat featured image. Aplikasi yang menyediakan desain beragam. Tersedia beragam fitur yang sangat memanjakan penggunanya.

Adapun fitur dari Typorama yang sering saya gunakan adalah stock photo, filter untuk gambar, design font, transparency dan shadow. Sebenarnya masih banyak fitur ampuh lainnya yang disediakan, namun untuk pembuatan featured image kebutuhan blog, fitur-fitur dasar itu sudah lebih dari cukup.

Pemilihan warna pun saya menemukan warna kuning yang saya sukai dari color pallete yang disediakan oleh Typorama. Hampir semua design featured image dalam tulisan di blog ini menggunakan design beraksen warna kuning.

Karena sudah terlanjur suka dengan warna kuning yang digunakan, saya sampai mencari kode heksa4 untuk warna kuning ini. Dalam hal design, komposisi warna sangatlah penting sehingga enak untuk dilihat. Maka saya memadukan warna kuning dari design featured image dengan filter grayscalenamun intensitas grayscale-nya tidak sampai 100%. Diatur sedemikian rupa hingga terasa ngeblend dengan warna kuning.

Alasan saya memilih warna kuning sebagai warna khas feature image blog ini karena secara psikologis, warna kuning menandakan keceriaan5. Ketika saya telisik lebih mendalam makna warna kuning secara psikologis berarti juga warna untuk kecerdasan pikiran, rasa optimis dan keceriaan. Namun daripada itu, warna kuning secara psikologis juga memiliki makna ketaksabaran, kritik dan pengecut. Hihihi kampreeeet juga yaak ternyata. Tak apalah kan sesekali saya juga menuliskan kekampretan-kekampretan pemikiran saya di blog ini.

Salam..
Dia si lelaki kampret

note: flavo dalam bahasa latin berarti kuning