Hi Manusia Single..

Diskusi, orasi, puisi, status di Facebook, cuitan di Twitter, caption di Instagram, lirik lagu dalam sebuah lagu dan sebagainya merupakan sarana manusia untuk menuangkan suasana hatinya.

Ada banyak ragam suasana hati yang terwakili oleh hal-hal tersebut di atas. Salah satu hal yang kerap terwakili adalah kegelisahan yang dialami oleh manusia.

Kegelisahan atau keresahan itu, kadang tak mampu dipendam dan dibiarkan menghilang. Oleh karena itu, mereka yang tak mampu meredam keresahannya itu berkarya dalam beragam bentuk.

Hingga karya yang sudah tertuang itu akhirnya diketahui, dicerna, dipahami orang lain hingga akhirnya menuntun pada ragam pilihan respon. Pilihan respon pun beragam, mulai caci maki, pujian, kritik membangun, like, share, dan sebagainya.

Dulu saya pernah menulis perihal pembelaan terhadap manusia single. Karena dokumentasi artikel yang kurang bagus, artikel itu hilang entah kemana huehuehuheu.

Akhirnya ada juga yang menuangkan keresahannya atas ragam pertanyaan kepada manusia single. Seperti tulisan di bawah ini. Tulisan salah seorang teman yang mungkin sudah jengah terhadap beragam pertanyaan yang menyudutkan manusia single.

Baiklah, berikut ini guest post pertama di blog awuwwuwuw ini. Nama penulis sengaja meminta dianonimkan. Dia seorang pemalu.

Nah melalu tulisan ini pula saya membuka kesempatan kepada teman-teman yang ingin menulis guest post secara anomnim guna menuangkan keresahannya, bisa menghubungi saya via dm Twitter atau Instagram.


Hello, Apa Kabar? Sudah Laku?

Sapaan di atas jika digunakan untuk menanyakan suatu produk, sudah jelas maksudnya apa. Biasa dong ya, kalimat seperti ini kita dengar dalam obrolan antar pengusaha, pedagang, sales, makelar atau yang berkaitan dengan dunia jual beli.

Tokopediaman : Hello, apa kabar? Sudah laku?

Shopeeman : Sudah donk. Rumah yang aku tawarkan kemarin itu kan? Udah laku dibeli konglomerat kota sebelah. Harga 2 M terjual bersih.

Tokopediaman : Mantaaaaps.

Tapi apa yang terjadi bila kalimat tanya “Hello, apa kabar? Sudah laku?” terucap dari seseorang dengan maksud menanyakan status pernikahan orang lain?

Kalau sapaan itu terjadi antara dua orang yang bersahabat karib, biasa bercanda dan biasa saling misuh-misuh satu sama lain, paling berlanjut dengan saling bully secara verbal hingga ngakak dengan biadab. Tapi biasanya yang bisa ngobrol macam ini adalah makhluk berjenis kelamin kambing jantan.

Selebgram : Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Sobat Misquen : Wah belum, masih jomblo nih. Lah kamu sendiri emangnya udah laku?

Selebgram : Belum juga sih, masih perlu dipromosiin habis-habisan kayaknya 😀

Sobat Misquen : Sabar ya mblo… huehehehe….

kemudian mereka berdua melipir di pasar loak mencari hape bekas yang bisa jadi barang curian

Sekarang bayangkan jika sapaan itu terjadi antara dua orang wanita, yang sudah lama tidak berjumpa, lalu salah satunya memulai percakapan melalui Whatsapp dengan sapaan pertama

Hello… Apa kabar? Sudah laku?

Eh sebelumnya kamu sudah tahu kan kalau ada tiga pertanyaan yang mudah memicu mood buruk bagi seorang wanita, yaitu berat badan, status pernikahan dan usia. Beda dengan lelaki yang lebih cuek pada pertanyaan semacam itu.

Kalau mau tahu seperti apa efeknya, coba deh saat bertemu seorang wanita, kamu sapa dia dengan kalimat

“Hai… Apa kabar? Kok kamu gendutan sih?”

Lalu siap-siap saja lah kamu temukan ekspresi super bete atau kalau lagi sial, langsung kena semprotan kata-kata pedas menusuk jantung.

Atau coba deh kamu sapa seorang wanita dengan kalimat

“Kamu apa kabar? Eh sudah nikah apa belum? Ingat umur lho”.

Bisa jadi kamu langsung kena jurus tikaman tak terlihat yang meluncur dari pandangan mata cewek itu.

Pola komunikasi yang terjadi di Indonesia sering kali masih mengedepankan sapaan bernada kepo. Basa-basi busuk yang beraroma mau tahu aja urusan hidup orang lain. Ya meskipun nggak bisa disamaratakan, karena bergantung pada lingkungan orang yang bertanya itu tumbuh dan berkembang.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang bagaimana sebaiknya bertanya pada orang lain. Karena apapun pertanyaan dari orang lain, keputusan untuk cuek, bete, santai atau marah kan tergantung pada yang pilihan kita. Emosi itu pilihan kok…

Tapi saya ingin memberi alternatif jawaban kalau pertanyaan itu muncul dari wanita dan anda juga seorang wanita.

Kalau yang bertanya juga single,

Markonah : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Kokomun : Kabar baik. Owh kamu udah laku ya? Dikasi harga berapa kemarin?

Kalau yang nanya sudah menikah,

Surtini : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Bu Dendhy : Baik donk. Kan tinggal nunggu kamu siap punya madu.

Kalau yang nanya nenek-nenek,

Mak Bongky : Hello, apa kabar? Sudah laku?
Mantili : Baik, Nek. Nenek udah dapat panggilan?
Mak Bongky : Lho panggilan dari siapa?
Mantili : Panggilan untuk pulang ke rahmatullah.

Kamu punya ide jawaban lain yang lebih awuwuwu?

Anyway, dialog diatas itu hanya ide aja sih… Lumayanlah buat bikin jera si penanya. Karena ada sebagian orang yang nggak sadar kalau pertanyaan pembuka percakapannya membuat suasana menjadi awkward dan memberi pukulan telak pada benteng pertahanan bendungan air mata.

Apalagi kalau setelah itu dengan polosnya dia bilang,

“Wooii nyet, aku butuh bantuanmu nih”.

Ngoaaahahahahaha mending yang nanya disuru mbecak hijrah ke planet Mars.


Okay sekian saja guest post ini tersaji. Moga ada manfaat yang bisa dipetik. Sebelum mengakhiri ada sedikit titipan quote dari ingatan saya perihal pernikahan ini,

Pernikahan bukanlah perlombaan, tak perlu gusar balapan mencapai garis finis pelaminan. Jika saat ini sudah bisa merasai kebahagiaan tanpa menjalani pernikahan, lantas buat apa mati-matian mengikuti perlombaan?

Quote di atas bukan hendak mengutarakan bahwa pernikahan itu tidak penting. Namun sebuah pesan untuk menyuntikkan kesadaran diri saat ini sudah mencapai tahap apak kebutuhan terhadap pernikahan, wajib, sunnah, mubah, makruh atau bahkan haram.

Hmmm giamana mau menikah mimpi basah saja belum.

Salam,

Kepala KUA wilayah Atlantis

Advertisements

Kerjakan yang Di Depan Mata, Lupakan Keinginan

Sebelum tulisan bagus ini menguap dan terlupakan, maka saya harus iseng untuk mengabadikannya di dalam blog ini. Memang ini terasa tidak orisinal. Paling tidak saya masih orisinal dalam memberikan kata pengantar walau hanya beberapa kalimat.

Jadi, inti hikmah yang bisa saya tangkap dari tulisan berikut ini adalah ketika punya impian atau keinginan, jangan ambisius banget laah yaa. Selow ajah. Begitu yang saya tangkap dari cerita Gus Banan ini.

Selama membacanya saya manggut-manggut menyetujui dan merefleksikannya terhadap kehidupan yang sudah saya lalui. Yaa memang leres sekali apa yang beliau sampaikan.

Ruh tulisan ini, terangkum dalam quote yang beberapa kali di ulang oleh Gus Banan seperti di bawah ini:

Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini


SEBAIK-BAIK IKHTIYAR USAHA ADALAH YANG PEROLEH KESADARAN

#SebuahCerpen

“Sesudah memasuki usia balig, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, di mana ia juga jatuh cinta padaku. Ia cinta pertamaku, bahkan ihtilām (mimpi basah) pertamaku juga dirinya yang ada dalam mimpi. Kami sama-sama jatuh cinta ja”laran seka kulina” (karena terbiasa bersama).”

“Sejak SD kami berdua bersaing ketat dalam prestasi, kompak dan sinergi. Setelah di SMP di mana usia kami mulai pubertas, kami jadi saling jatuh cinta. Waktu sekolah SMP baru 3 bulan, aku disuruh orang tua pindah sekolah, orang tua ingin sekolahku sambil mondok. Karena aku enggan pisah dengan cinta pertamaku, aku tidak mau pindah sekolah. Orang tuaku akhirnya mengalah. Ternyata di belakang hari, walau kami berdua tau sama-sama cinta, tapi kami tidak bisa menyatu. Cinta kami masih ukuran cinta monyet, miss komunikasi terjadi, sehingga kami bertahan dengan ego kami masing-masing. Kami seperti Tom and Jarry. Tujuanku bertahan satu sekolah untuk bisa dekat dengannya, justru aku malah jadi jauh.”

“Baru setelah kami tidak lagi satu sekolah, kami saling mencari, karena kami saling mencintai sangat mendalam. Namun tetap tidak bisa pacaran, entah mengapa setelah jarak kami jauh, kami sangat sulit berkomunikasi. Dan hingga kami dewasa, kami berdua tidak bisa pacaran. Apalagi waktu itu belum zaman handphone, komunikasi kami sangat terbatas. Setelah handphone ramai, aku terhubung dengan ia, ternyata ia sudah menikah. Cinta pun hingga saat ini hanya menjadi rasa yang perlahan terlepas tanpa bisa memiliki.”

“Sisi lain dari hidupku, setelah SMA dan perguruan tinggi, aku di pondok pesantren. Aku anak yang gemilang di urusan leader dan akademis, karena dari SD pun aku sudah menonjol. Ambisiku besar, jika aku tidak bisa punya pengaruh di publik, aku kesal dan tidak tahan menahan rasa terpinggirkan. Tapi aku malah mengalami keadaan sebaliknya, semua ambisi-ambisiku sangat susah aku capai. Ingin jadi ketua OSIS gagal, hingga di kampus aku ingin jadi presiden BEM juga gagal total.”

“Di SMA dan kampus kuliah, aku kebetulan bareng seorang pesaing, bahkan di pondok pesantren kami juga bareng, leader dan kecerdasannya seimbang denganku, tapi semua karir publik ia yang dapatkan. Ia jadi selebritis, pacar pun berdatangan melamarnya. Baik ketua OSIS, presiden BEM, hingga jabatan bergengsi di pesantren, termasuk menjadi Lurah Pondok, ia yang meraih. Aku cuma jadi kutu mati. Potensiku hancur, aku yang leader-nya kuat di organisasi publik paling di posisi departemen kebersihan, paling banter departemen pendidikan. Entah apa jalan yang dikehendaki Tuhan sehingga menyiksaku seperti ini.”
“Seperti apa rasa hatiku hidup seperti itu? Semua yang aku hasrati justru dijauhkan dariku? Mulai dari wanita yang kucintai sampai karir publik yang kuminati dijauhkan sejauh-jauhnya dariku. Tentu nangis batin yang kuperoleh. Yang ingin kupegang malah lepas.”

“Akhirnya aku hanya dapat mengerjakan apa yang ada di depan mata. Yang kupegang tidak pernah lepas hanya buku dan kitab pelajaran. Itu yang akhirnya menjadi pelampiasan emosi terpendamku. Siang malam aku hanya fokus di pelajaran, hingga bertahun-tahun. Hingga aku lupa sendiri dengan kegiatan BEM dan organisasi publik di pesantren. Dan ternyata, aku lulus dengan IP tertinggi, aku menjadi satu-satunya santri dan mahasiswa yang dapat bea siswa S2 ke Universitas Al-Azhār Mesir.”

“Mulai saat itu namaku meroket di kampus dan pesantren. Sana-sini mengenalku. Aku jadi paham kalau pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini.” Karena dari urusan cinta sampai karir, semua yang kuingini malah kabur.”

“Aku peminat bujang tua, karena memang minat besarku pada akademis dan ilmu. Minat di dunia publik sudah musnah terkubur. Ketika sudah di Mesir, ketika aku yang sudah kenyang dijejali gagal memperoleh jabatan publik, di sana pun aku langsung konsentrasi pada pelajaran, namun kali ini di Mesir aku sambil kerja, karena biaya kuliah dari pemerintah, tapi biaya hidup aku harus nanggung sendiri. Dan ketika aku telah lupa dengan jabatan publik mahasiswa, kini di Mesir justru jabatan itu mengejar diriku. Tapi aku sudah tidak minat. Cuma karena ditarik-tarik jadi mau tidak mau harus kumakan.”

“Pulang ke Indonesia pun, aku yang vokal ceramah tidak laku-laku ceramah. Santri juga waktu itu belum punya. Aku yang lulusan S2 A-Al-Azhār fakultas sastra Arab boro-boro jadi penceramah kondang dan kyai besar. Aku melamar jadi dosen kesana-kemari, akhirnya diterima jadi dosen di perguruan tinggi swasta. Di kampung aku yang punya ambisi jadi penceramah tidak laku-laku. Paham dengan pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini,” aku mulai ngajar ngaji anak-anak kampung. Dan aku tekuni benar. Rasa ingin jadi kyai besar aku endapkan. Terus aku tekuni, dan 2 tahun kemudian mulai ada santri minta jadi santriku. Lagi-lagi, aku sudah nikmat ngajar di internal pesantrenku dan di kampus, undangan ceramah berdatangan padaku.”

“Dan sebenarnya, selama aku digerus-gerus tidak pernah ketemu dengan yang kuingini, di sana egoku hancur dan buram, yang akhirnya lamat-lamat kutemukan Tuhan. Dan saat sekarang ketika orang-orang menyaksikanku mapan dan sukses, aku sendiri sudah hanya di dalam Tuhan. Dunia-dunia gemilang di sekitarku hanya tinja pupuk hidupku. Tinja tapi kumanfaatkan untuk pupuk.”

“Dan ternyata, informasi yang kuterima, temanku yang dulu di kampus dan pesantren jadi leader hebat, kini malah ia terpuruk, hidup jadi orang biasa, tidak punya pengaruh apa-apa, aku dengar ia sekarang di Arab Saudi jadi TKI karena harus menanggung sulitnya penghidupan. Padahal ia dulu aku kira akan jadi tokoh hebat di antero Indonesia. Alhasil, hidup itu hanya Tuhan yang bisa eksis, ditemukannya Tuhan bila ego keinginan remuk. Ketika keinginan ego kita dituruti oleh Tuhan, hakikatnya kita digelapkan dari Zat-Nya. Karena itu sebaik-baik ikhtiyar usaha ialah yang peroleh kesadaran atau hikmah, peroleh hasil bukanlah perolehan utama.”

“Teman pesaingku itu ternyata ketika berjaya tidaklah sewaspada diriku. Ketika aku takut pacaran karena takut keinginanku tidak terijabah, justru ia gonta-ganti pacar karena merasa maksiat tidak ngaruh untuk karir dan ilmunya. Jadi begitulah Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia jauhkan keinginan si hamba, agar si hamba memakan yang tidak ia hasrati, ketika si hamba memakan yang tidak ia hasrati, itu hakikatnya si hamba hanya menikmati Tuhan.” []


Dicerpenkan dari tutur seorang tamu spiritualis, ia seorang dosen muda di beberapa kampus, juga kyai muda pemangku pesantren. #RepostCerpen


Oke, saya tahu beberapa hari ini menjelang hari kemerdekaan Indonesia, tapi kok saya tak kunjung menelorkan tulisan berkaitan dengan kemerdekaan. Malah me-repost tulisan orang lain di blog ini. Hmmm iya siih memang sudah lama juga saya ndak nulis di sini, menyapa kawan-kawan wordpress.

Begitulah, kali ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan untuk tidak menulis ataupun menulis di blog ini. Bahkan saya merasa merdeka untuk mengisi atau tidak mengisi kemerdekaan. Ahhh dasar lelaki egois.

Salam..
dia si Lelaki Egois Berwajah Ndangdut


Featured image by Shane Rounce on Unsplash