Follower Banyak Itu Mengerikan

Hal yang patut digarisbawahi adalah follower banyak tak selalu menguntungkan. Memang sih pada era segala hal bisa dikapitalisasi, memiliki jumlah follower banyak merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Kita tengok saja selebgram yang banyak bermunculan belakangan ini. Dengan mengambil sampel secara random, saya dapati akun-akun selebgram memiliki pengikut puluhan hingga ratusan ribu. Pada level artis beken yang sering muncul di acara tivi, film atau pun video klip maka jumlah follower bisa mencapai angka fantastis, jutaan.

Maka jangan heran bila online shop berdatangan untuk menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Lantas, apakah hal ini salah? Entahlah, jika pertanyaan ini dilontarkan kepada peserta acara cerdas cermat yang dipandu oleh Helmy Yahya pun saya yakin mereka akan menjawab secara normatif, yaitu relatif.

Hubungan online shop dengan selebgram ini boleh lah dikategorikan sebagai hubungan simbiosis mutualisme. Online shop-nya untung karena produknya dipromosikan, dengan harapan omset penjualan produk atau jasa meningkat. Sedangkan bagi selebgram sendiri, keuntungan materi yang cukup lumayan bisa diraih.

Bukan hanya selebgram ya, selebtwit pun dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu menjadi endorser beberapa produk. Namun belakangan ini saya melihat di Twitter jasa endorser mulai tergantikan oleh buzzer. Buzzer ini secara beramai-ramai melakukan promosi atas suatu produk yang ingin diperkenalkan.


Promosi Produk, Jasa, Kelakuan dan Pemikiran di Media Sosial

Di lain sisi, saya melihat jika produk yang dipromosikan oleh seorang selebgram, selebtwit, ataupun buzzer bertentangan dengan kenyataan, maka sejatinya terjadi semacam ke-tak-elokan moral di dalamnya. Maksudnya suatu produk A dipromosikan secara positif, padahal di dapurnya dirasani kalau produk A itu jelek.

Ambil contoh sederhana, ketika launching suatu produk kuliner XYZ, maka mau tak mau si selebgram, selebtwit, dan buzzer tentu akan bilang produk kuliner XYZ itu enak gak kalah dengan produk sejenis. Bahkan kadang sedikit lebay. Semacam kehilangan obyektifitas atas produk yang sedang dipromosikan. Mana ada kecap nomer dua.

Itu baru dari segi produk yang sedang dipasarkan atau dipromosikan. Bagaimana jika suatu pendapat, tindakan, pemikiran, narasi yang sedang disampaikan oleh selebgram, selebtwit, dan buzzer? Menurut saya, nilai pertanggungjawabannya lebih berat daripada mempromosikan suatu produk.

Jika selebgram atau selebtwit dengan ratusan ribu follower setia bahkan fanatik melakukan suatu tindakan tidak terpuji kemudian disebarkan di media sosialnya, bisa jadi follower setianya akan mengikuti apa yang dilakukan. Contohnya? hmm buanyaaaak. Karena follower setia dan fanatik itu menganggap apa yang dilakukan oleh idolanya itu keren. Benar atau salah, bermoral atau tidak itu urusan nanti, yang penting keren dulu.

Suatu tindakan buruk yang kemudian ditiru oleh orang lain, maka karma akibat keburukannya akan kembali kepada si pelaku mula. Lebih kurang seperti itu alur sebab akibat yang saya pahami.

Kehidupan bermedia sosial memiliki potensi interaksi dengan manusia-manusia lain yang tidak bisa kita prediksi persebarannya. Maka dari itu adalah bijaksana jika kita menebarkan kebaikan-kebaikan saja di akun-akun media sosial yang kita miliki. Ini menurut saya bukan sebuah pencitraan. Menjadi pencitraan jika kebaikan atau inspirasi yang disampaikan bertentangan dengan keseharian.


Mawas Diri Dalam Berkelakuan di Media Sosial

Lantas apakah tulisan ini semacam wujud keirian saya karena gagal menjadi selebgram? Hmmm bisa jadi iya, namun justru karena saya menyadari benih-benih yang tidak baik bersemi dalam hati maka secepat mungkin saya harus bisa meredamnya. Maka menuliskan tentang keresahan hati ini merupakan cara paling sederhana untuk meredamnya. Menetralkannya.

Bahkan semenjak saya dirasuki oleh pemikiran bahwa memiliki follower banyak itu mengerikan, jadinya semakin tidak tertarik menjadi seleb media sosial. Walaupun menjadi seleb media sosial ataupun tidak sama-sama memiliki potensi penyebaran kebaikan dan keburukan, menjadi sosok yang berada pada spotlight banyak orang itu untuk saya tidak mengenakkan. Semacam ada kebebasan yang terenggut.

Tapi entahlah, ini hanya perasaan saya saja. Pada titik tertentu, saya malah ingin menghilang dari peredaran media sosial kebanyakan yang kerap saya gunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path.

Bersepi-sepi saja menulis, menuangkan pemikiran. Seperti halnya menulis dan membaca konten-konten menarik dan bergizi di Medium ini, merupakan sebentuk pelarian dari kejenuhan media sosial kebanyakan.

Paling tidak saya ingin menyeleksi apa-apa yang akan dikonsumsi oleh pikiran saya. Bukan hal-hal random tak terkendali yang memenuhi beranda media sosial.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Salam,
DiPtra


Photo by Camila Damásio on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Advertisements

Kerjakan yang Di Depan Mata, Lupakan Keinginan

Sebelum tulisan bagus ini menguap dan terlupakan, maka saya harus iseng untuk mengabadikannya di dalam blog ini. Memang ini terasa tidak orisinal. Paling tidak saya masih orisinal dalam memberikan kata pengantar walau hanya beberapa kalimat.

Jadi, inti hikmah yang bisa saya tangkap dari tulisan berikut ini adalah ketika punya impian atau keinginan, jangan ambisius banget laah yaa. Selow ajah. Begitu yang saya tangkap dari cerita Gus Banan ini.

Selama membacanya saya manggut-manggut menyetujui dan merefleksikannya terhadap kehidupan yang sudah saya lalui. Yaa memang leres sekali apa yang beliau sampaikan.

Ruh tulisan ini, terangkum dalam quote yang beberapa kali di ulang oleh Gus Banan seperti di bawah ini:

Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini


SEBAIK-BAIK IKHTIYAR USAHA ADALAH YANG PEROLEH KESADARAN

#SebuahCerpen

“Sesudah memasuki usia balig, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, di mana ia juga jatuh cinta padaku. Ia cinta pertamaku, bahkan ihtilām (mimpi basah) pertamaku juga dirinya yang ada dalam mimpi. Kami sama-sama jatuh cinta ja”laran seka kulina” (karena terbiasa bersama).”

“Sejak SD kami berdua bersaing ketat dalam prestasi, kompak dan sinergi. Setelah di SMP di mana usia kami mulai pubertas, kami jadi saling jatuh cinta. Waktu sekolah SMP baru 3 bulan, aku disuruh orang tua pindah sekolah, orang tua ingin sekolahku sambil mondok. Karena aku enggan pisah dengan cinta pertamaku, aku tidak mau pindah sekolah. Orang tuaku akhirnya mengalah. Ternyata di belakang hari, walau kami berdua tau sama-sama cinta, tapi kami tidak bisa menyatu. Cinta kami masih ukuran cinta monyet, miss komunikasi terjadi, sehingga kami bertahan dengan ego kami masing-masing. Kami seperti Tom and Jarry. Tujuanku bertahan satu sekolah untuk bisa dekat dengannya, justru aku malah jadi jauh.”

“Baru setelah kami tidak lagi satu sekolah, kami saling mencari, karena kami saling mencintai sangat mendalam. Namun tetap tidak bisa pacaran, entah mengapa setelah jarak kami jauh, kami sangat sulit berkomunikasi. Dan hingga kami dewasa, kami berdua tidak bisa pacaran. Apalagi waktu itu belum zaman handphone, komunikasi kami sangat terbatas. Setelah handphone ramai, aku terhubung dengan ia, ternyata ia sudah menikah. Cinta pun hingga saat ini hanya menjadi rasa yang perlahan terlepas tanpa bisa memiliki.”

“Sisi lain dari hidupku, setelah SMA dan perguruan tinggi, aku di pondok pesantren. Aku anak yang gemilang di urusan leader dan akademis, karena dari SD pun aku sudah menonjol. Ambisiku besar, jika aku tidak bisa punya pengaruh di publik, aku kesal dan tidak tahan menahan rasa terpinggirkan. Tapi aku malah mengalami keadaan sebaliknya, semua ambisi-ambisiku sangat susah aku capai. Ingin jadi ketua OSIS gagal, hingga di kampus aku ingin jadi presiden BEM juga gagal total.”

“Di SMA dan kampus kuliah, aku kebetulan bareng seorang pesaing, bahkan di pondok pesantren kami juga bareng, leader dan kecerdasannya seimbang denganku, tapi semua karir publik ia yang dapatkan. Ia jadi selebritis, pacar pun berdatangan melamarnya. Baik ketua OSIS, presiden BEM, hingga jabatan bergengsi di pesantren, termasuk menjadi Lurah Pondok, ia yang meraih. Aku cuma jadi kutu mati. Potensiku hancur, aku yang leader-nya kuat di organisasi publik paling di posisi departemen kebersihan, paling banter departemen pendidikan. Entah apa jalan yang dikehendaki Tuhan sehingga menyiksaku seperti ini.”
“Seperti apa rasa hatiku hidup seperti itu? Semua yang aku hasrati justru dijauhkan dariku? Mulai dari wanita yang kucintai sampai karir publik yang kuminati dijauhkan sejauh-jauhnya dariku. Tentu nangis batin yang kuperoleh. Yang ingin kupegang malah lepas.”

“Akhirnya aku hanya dapat mengerjakan apa yang ada di depan mata. Yang kupegang tidak pernah lepas hanya buku dan kitab pelajaran. Itu yang akhirnya menjadi pelampiasan emosi terpendamku. Siang malam aku hanya fokus di pelajaran, hingga bertahun-tahun. Hingga aku lupa sendiri dengan kegiatan BEM dan organisasi publik di pesantren. Dan ternyata, aku lulus dengan IP tertinggi, aku menjadi satu-satunya santri dan mahasiswa yang dapat bea siswa S2 ke Universitas Al-Azhār Mesir.”

“Mulai saat itu namaku meroket di kampus dan pesantren. Sana-sini mengenalku. Aku jadi paham kalau pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini.” Karena dari urusan cinta sampai karir, semua yang kuingini malah kabur.”

“Aku peminat bujang tua, karena memang minat besarku pada akademis dan ilmu. Minat di dunia publik sudah musnah terkubur. Ketika sudah di Mesir, ketika aku yang sudah kenyang dijejali gagal memperoleh jabatan publik, di sana pun aku langsung konsentrasi pada pelajaran, namun kali ini di Mesir aku sambil kerja, karena biaya kuliah dari pemerintah, tapi biaya hidup aku harus nanggung sendiri. Dan ketika aku telah lupa dengan jabatan publik mahasiswa, kini di Mesir justru jabatan itu mengejar diriku. Tapi aku sudah tidak minat. Cuma karena ditarik-tarik jadi mau tidak mau harus kumakan.”

“Pulang ke Indonesia pun, aku yang vokal ceramah tidak laku-laku ceramah. Santri juga waktu itu belum punya. Aku yang lulusan S2 A-Al-Azhār fakultas sastra Arab boro-boro jadi penceramah kondang dan kyai besar. Aku melamar jadi dosen kesana-kemari, akhirnya diterima jadi dosen di perguruan tinggi swasta. Di kampung aku yang punya ambisi jadi penceramah tidak laku-laku. Paham dengan pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini,” aku mulai ngajar ngaji anak-anak kampung. Dan aku tekuni benar. Rasa ingin jadi kyai besar aku endapkan. Terus aku tekuni, dan 2 tahun kemudian mulai ada santri minta jadi santriku. Lagi-lagi, aku sudah nikmat ngajar di internal pesantrenku dan di kampus, undangan ceramah berdatangan padaku.”

“Dan sebenarnya, selama aku digerus-gerus tidak pernah ketemu dengan yang kuingini, di sana egoku hancur dan buram, yang akhirnya lamat-lamat kutemukan Tuhan. Dan saat sekarang ketika orang-orang menyaksikanku mapan dan sukses, aku sendiri sudah hanya di dalam Tuhan. Dunia-dunia gemilang di sekitarku hanya tinja pupuk hidupku. Tinja tapi kumanfaatkan untuk pupuk.”

“Dan ternyata, informasi yang kuterima, temanku yang dulu di kampus dan pesantren jadi leader hebat, kini malah ia terpuruk, hidup jadi orang biasa, tidak punya pengaruh apa-apa, aku dengar ia sekarang di Arab Saudi jadi TKI karena harus menanggung sulitnya penghidupan. Padahal ia dulu aku kira akan jadi tokoh hebat di antero Indonesia. Alhasil, hidup itu hanya Tuhan yang bisa eksis, ditemukannya Tuhan bila ego keinginan remuk. Ketika keinginan ego kita dituruti oleh Tuhan, hakikatnya kita digelapkan dari Zat-Nya. Karena itu sebaik-baik ikhtiyar usaha ialah yang peroleh kesadaran atau hikmah, peroleh hasil bukanlah perolehan utama.”

“Teman pesaingku itu ternyata ketika berjaya tidaklah sewaspada diriku. Ketika aku takut pacaran karena takut keinginanku tidak terijabah, justru ia gonta-ganti pacar karena merasa maksiat tidak ngaruh untuk karir dan ilmunya. Jadi begitulah Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia jauhkan keinginan si hamba, agar si hamba memakan yang tidak ia hasrati, ketika si hamba memakan yang tidak ia hasrati, itu hakikatnya si hamba hanya menikmati Tuhan.” []


Dicerpenkan dari tutur seorang tamu spiritualis, ia seorang dosen muda di beberapa kampus, juga kyai muda pemangku pesantren. #RepostCerpen


Oke, saya tahu beberapa hari ini menjelang hari kemerdekaan Indonesia, tapi kok saya tak kunjung menelorkan tulisan berkaitan dengan kemerdekaan. Malah me-repost tulisan orang lain di blog ini. Hmmm iya siih memang sudah lama juga saya ndak nulis di sini, menyapa kawan-kawan wordpress.

Begitulah, kali ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan untuk tidak menulis ataupun menulis di blog ini. Bahkan saya merasa merdeka untuk mengisi atau tidak mengisi kemerdekaan. Ahhh dasar lelaki egois.

Salam..
dia si Lelaki Egois Berwajah Ndangdut


Featured image by Shane Rounce on Unsplash

Ngapain Dolan Media Sosial?

Kehadiran media sosial adalah kejelian developer penggiat internet dalam membidik kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi. Lebih kurang sudah satu dekade ini media sosial berkembang dengan begitu cepat.

Banyak bermunculan start up yang membuat wadah berupa media sosial. Beberapa sukses mendulang pengunjung atau pengguna aktif, namun banyak juga yang gagal tidak mendulang kehampaan, layu sebelum berkembang.

Bahkan perusahaan sekelas Google pun berulang kalo gagal membuat platform media sosial. Jadi bukanlah suatu jaminan jika perusahaan besar juga bakalan sukses bermain di ranah media sosial.

Dari beragam media sosial, baik yang masih eksis maupun sudah tutup usia, saya melihat kesamaan layanan. Berbagi informasi dalam bentuk apa pun. Mulai dari informasi yang bermanfaat sampai informasi receh penebar hoax.

Pendirian media sosial oleh start up teknologi sebenarnya memiliki tujuan yang hampir serupa, yaitu memonetisasi trafik pengunjung yang memggunakan layanannya. Cara paling umum untuk memonetisasi trafik adalah dengan menebar iklan sebagai media promosi produk.

Dari tujuan yang hampir seragam ketika start up teknologi membangun media sosial, mari kita sejenak mempertanyakan kepada diri kita sendiri apa tujuan kita bermain media sosial. Apakah lebih banyak mengandung manfaat atau malah berkubang dalam kesia-sian atas nama membunuh waktu.

Seperti kehadiran Friendster yang pertama kali, tak ada tujuan jelas ketika menggunakannya. Hanya untuk penampakan dalam memperkenalkan diri secara online. Begitu juga ketika kali pertama menggunakan Facebook, entahlah tak ada tujuan khusus dalam membuat akun.

Waktu berjalan, tujuan saya dalam penggunaan media sosial juga mengalami perubahan. Dulu ketika masih lajang dan Facebook belum diserang akun alay dan palsu, tuuan saya begitu sederhana, menebar jejaring pesona untuk menggait lawan jenis. Saya lelaki normal. Bukan hanya Facebook, hampir setiap ada media sosial baru muncul, saya sebisa mungkin membuat akunnya.

Kini, setelah tujuan utama bermain media sosial terpenuhi, pesona bermain media sosial memudar. Saya menikah, kemudian buat apa lagi menebar jejaring pesona di media sosial? Yang ada malah saya mulai sedikit demi sedikit mengurangi jejak data personal di media sosial.

Masa-masa saat tulisan ini saya torehkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika media sosial bakal berkembang seperti sekarang. Bahkan media sosial mulai menjadi kebutuhan pokok akan informasi kebanyakan orang. Menguasai hajat hidup orang banyak.

Entahlah, tulisan ini hanya berupa opini atas pengamatan pribadi. Bisa saja saya terlalu berlebihan dalam menilai pengaruh media sosial. Khususnya dalam hal penetrasi media sosial dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari.

Jadi, sebenarnya ngapain sih kita dolan media sosial?

Salam,
DiPtra

Kesunyian Lebaran

Ingatan saya akan keceriaan dan kegembiraan lebaran semasa kecil tidak terlalu banyak. Momen-momen berkumpul dengan sepupu-sepupu pun tak saya cecap terlalu lama. Setelah berkumpul di rumah mbah kung hingga siang, mulailah sepupu-sepupu saya ikut orang tuanya mudik ke kota tempat tinggal kakek-nenek dari pihak menantu mbah kung saya.

Sedangkan saya bersama adik dan kakak stay di rumah mbah kung. Ayah saya sebagai menantu dari mbah kung, jarang mudik. Mengingat lokasi kampung halaman Ayah yang lumayan jauh di pulau Sumtera. Selain itu durasi liburan sekolah ketika lebaran terlalu singkat jika harus ditukarkan dengan prosesi mudik ke kampung halaman Ayah. Jadilah saya bersama kakak dan adik saya menjadi penjaga kandang di Malang ketika lebaran. Menemani mbah Kung dan mbah Uti menjalani suasana hari-hari lebaran di Malang.

Belum lagi setelah mbah Kung dan mbah Uti saya meninggal di penghujung abad 20. Suasana lebaran yang saya rasakan di Malang semakin sunyi.

Malang sebagai kota pelajar memang ramai oleh pendatang yang menuntut ilmu di universitas atau pun sekolah tinggi yang tersebar di Malang. Namun ketika musim liburan datang seperti lebaran, maka sekonyong-konyong Malang menjadi kota yang begitu sepi.

Ketika malam hanya terdengar suara jangkrik yang di hari-hari biasa suaranya teredam oleh deru kendaraan bermotor. Ketika siang suasana di kampung saya mendadak senyap, hanya terdengar satu dua suara kendaraan berlalu-lalang.

Hingga tujuh tahun lalu, akhirnya saya merasai mudik rutin ke kampung halaman. Iya, sejak tujuh tahun lalu saya merantau ke Ibu kota menjemput jalan rezeki.

Suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman selama di perjalanan mudik mulai saya rasakan. Bertemu dengan kedua orang tua, beserta saudara-saudara.

Semenjak menikah dan memiliki anak, rasa suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman semakin menjadi-jadi. Pasalnya anak dan istri saya menetap di Malang.

Memang rasa rindu itu menyayat-nyayat hati ketika sedang di perantauan. Namun, ketika rasa rindu itu terbayarkan dengan pertemuan, rasanya begitu tak terlukiskan.

Apa hendak di kata, lebaran tahun ini saya merasakan lebaran paling sunyi yang pernah saya alami. Memang saya melepas rindu bersama istri dan anak, namun ada sesuatu yang hilang dalam momen lebaran ini.

Pertama, baru tahun ini saya merayakan lebaran tanpa disertai oleh kedua orang tua. Kedua orang tua saya sedang menjalankan ibadah umroh. Keduanya berangkat sepekan sebelum lebaran dan menghabiskan momen idul fitri di Mekkah selama sepekan.

Praktis di rumah kedua orang tua, saya hanya mendapati adik lelaki satu-satunya. Apalagi kami berdua tidak menyukai formalitas. Jadi tak ada itu basa-basi lebay ucapan idul fitri antara saya dan adik saya. Seperti ada telepati jika kami sudah saling memaafkan, itu pun saya tak pernah merasa adik saya melakukan kesalahan kepada saya. Alhamdulillah walau ketika kecil kami sesekali bertengkar, namun ketika beranjak dewasa kehidupan saya berserta saudara kandung adem ayem saja.

Bulik dan Paklik saya pun yang tinggal di Malang hanya ada dua. Itu pun jarak rumahnya berdekatan, jadi selow saja untuk bersilaturrahim.

Kedua, lebaran tahun 2017 ini benar-benar total jaga rumah. Ibu mertua saya baru saja selesai menjalani opname sepekan menjelang lebaran. Saat ini sedang menjalani masa pemulihan.

Kebetulan saya sebagai anak mantu yang berasal dari Malang, bahkan masih satu Kecamatan. Sedangkan anak mantu lainnya berasal dari luar kota. Jadi saya beserta istri harus mendermakan waktu untuk menemani masa pemulihan Ibu mertua.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika lebaran tiba, keluarga besar istri saya rutin melakukan silaturahim ke kempung keluarga besarnya. Baru tahun ini ketika hari H lebaran tiba, saya beserta istri berdiam diri di rumah saja. Sesekali saudara dari pihak istri saya datang bersilaturrahim dan sekaligus membesuk Ibu mertua yang sedang dalam masa pemulihan.

Belum lagi rumah mertua saya berada di kompleks perumahan yang terbilang sepi. Makin lengkaplah kesunyian lebaran yang saya rasakan tahun ini.

Ternyata suasana sunyi ketika lebaran itu menghadirkan rasa nelongso di hati. Tapi kemudian rasa nelongso yang saya hadapi ini belum ada apa-apanya ketika saya mendapati sebagian orang harus tetap bekerja di masa-masa lebaran ini, seperti pekerja wisata, rumah makan, pom bensin, minimarket dan pelayanan publik lainnya. Salam hormat kepada setiap individu yang menegasikan momen lebarannya demi pelayanan publik.

Salam,
DiPtra


featured image by Tim Marshall on Unsplash

Menjadi Pendiam

Menjadi pendiam itu ternyata menyenangkan juga. Semacam mengurangi interaksi dengan orang lain. Mengurangi interaksi dengan orang lain, secara tidak langsung juga mengurangi potensi salah paham. Salah paham ini nantinya memunculkan potensi masalah yang cukup runyam. Macam kesalahpahaman Nabi Musa A.S terhadap perilaku Nabi Khidir A.S.

Berkurangnya potensi masalah berkorelasi dengan meningkatnya ketenangan hidup. Hidup ayem tentrem tanpa banyak gonjang-ganjing.

Bahkan ketika memutuskan untuk memperbanyak diam saja, masalah masih satu persatu datang menghampiri. Apalagi jika memperbanyak ucap dalam interaksi dengan sesama.

Dengan pemikiran agak nyeleneh ini, saya selama dua pekan ini berangsur-angsur mulai mengurangi interaksi di dunia maya. Untuk media sosial sudah cukup lama saya kurangi intensitas penggunaanya. Namun, untuk aplikasi chatting khususnya pada macam-macam grup Whatsapp yang saya ikuti, interaksi yang saya jalani masih cukup intens.

Maka, selama dua pekan ini saya benar-benar mengurangi interaksi chatting dalam grup Whatsapp. Sejak 2015 sudah cukup banyak grup Whatsapp yang saya ikuti. Apalagi dengan model grup Whatsapp dengan lalu lintas obrolan yang begitu padat. Saya kerap kehilangan jejak pada obrolan Whatsapp dengan lalu lintas yang begitu padat. Mau ikut nimbrung kadang sungkan juga. Apalagi kalo dicuekin, rasanya pedih haha.

Tapi untunglah semenjak baligh dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya sudah biasa dicuekin oleh cewek yang sedang menjadi inceran. Yaa iyalah wong incerannya Marsha Timothy.

Memang benar sih saya sedang merasakan kenyamanan beberapa hari ini ketika memutuskan menjadi sedikit pendiam. Mengurangi banyak cakap. Lagipula saya sedang kehilangan semangat untuk berkomunikasi atau membuka komunikasi dengan orang baru.

Eh menjadi pendiam di dunia maya maksud saya nih yaa. Berlagak menjadi misterius dengan menjadi pendiam. Menjadi pendiam mungkin sering disalahartikan sebagai sifat angkuh. Padahal penyebab seseorang menjadi pendiam sangat beragam.

Tiba-tiba saya kok kepikiran menjadi pendiam ini sebagai salah satu perwujudan puasa dalam hal lisan. Teringat juga akan penyebab tergelincirnya manusia dalam debu-debu perseteruan juga diakibatkan lisan yang tidak terjaga. Lisannya ga disekolahin.
Pada tahap yang lebih parah, banyak manusia terperosok ke lembah neraka dikarenakan lisan. Lisan yang tajam menyayat hati dan perasaan. Luka di permukaan kulit boleh lah menjadi kering dan sembuh dalam jangka waktu tiga hari. Namun luka yang tergores di hati bisa sepanjang hidup menunggu kesembuhan.

Tengoklah percekcokan yang kerap terjadi dalam bahtera rumah tangga. Permasalahan ucapan lisan yang menyayat hati kerap menjadi pemicunya.
Dalam era digital seperti saat ini, lisan memiliki perpanjangan ucap pada jemari tangan. Jika kita mengamati pergerakan topik di media sosial, selalu saja ada kegaduhan yang diperbincangkan. Jika ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakmampuan menahan jemari tangan untuk menuliskan hal-hal pedas.

Coba kita ingat-ingat kembali kisah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang mengulum batu kerikil demi menjaga lisannya. Ketika hendak bercakap-cakap, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq terlebih dahulu mengeluarkan batu kerikil yang ada di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh beliau adalah sebentuk kehati-hatian atas amanah lisan.

Entah apa kira-kira yang bakal dilakukan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq jika mendapati perilaku interaksi manusia di abad digital internet ini. Mengulum guna kerikil guna menjaga lisan tentu tidak relevan dengan kondisi komunikasi bermedium digital seperti saat ini. Puasa dari bentuk-bentuk interaksi digital di internet mungkin bisa menjadi salah satu solusinya.

Berkaitan dengan produktifitas ketika mengurangi aktifitas lisan baik secara offline maupun online, maka saya merasakan peningkatan. Waktu-waktu yang biasanya tersita untuk berinteraksi secara digital terkonversi pada kegiatan lain seperti membaca ataupun menulis. Kebetulan saja saya mempunyai hobi membaca.

Selain itu, dengan memperbanyak diam membuat saya memiliki waktu lebih luang untuk kembali bertafakkur. Sejenak beruzlah dari keriuhan, khususnya keriuhan dari media sosial.

Akhirul kalam semoga tulisan ini tidak terlalu panjang. Jika ada salah kata mohonlah kiranya dimaafkan. Dibukakan keluasan hatinya untuk memaafkan apa-apa yang sudah pernah saya tuliskan selama ngeblog beberapa waktu ini.

Salam,
DiPtra


Featured images by Claudia Soraya on Unsplash

Butuh Berapa Banyak Nasihat?

Saya pernah kepikiran suatu pertanyaan berkaitan dengan nasihat. Kira-kira, kita ini butuh berapa banyak nasihat untuk menjadi orang baik, orang sukses, orang berhasil? Pertanyaan ini  terlontar ketika saya mendapati diri saya begitu bosan waktu membaca quote ataupun artikel-artikel yang berisi nasihat atau motivasi.

Hingga bertanya-tanya apakah saya sudah menjadi orang yang keras kepala sehingga merasa bosan dengan motivasi. Jangan-jangan kerak pada cermin hati saya sudah sedemikian tebalnya sehingga mental saja ketika membaca tulisan bermuatan nasihat. Atau lebih menyeramkan lagi jika saya tergolong kedalam makhluk berwatak sombong yang tak tersentuh dengan nasihat.

Sampai-sampai, saya mengajukan pertanyaan ini kepada teman-teman saya. Untuk menjadi baik kita butuh berapa banyak nasihat?

Ternyata ribuan nasihat pun tidak akan berguna jika tidak ada keinginan untuk berubah. Tak hanya ribuan, bahkan jutaan nasihat pun tak mampu menggerakkan orang yang memang tidak mau berubah.

Jika melihat banyaknya nasihat yang berterbangan di jagat literasi analog maupun digital, rasanya nasihat itu tak ada habisnya. Ada saja yang menuliskan nasihat agar dibaca orang lain, ada juga yang membagikannya ulang. Sebagian sekedar mencuplik kata-kata bijak yang ada dalam suatu tulisan genre nasihat.

Buku-buku genre nasihat pun tak pernah habis di rak-rak toko buku. Selalu ada saja buku yang berisi nasihat baru ataupun buku nasihat lama dengan kemasan baru.

Bisa jadi nasihat yang terus bermunculan hadir ini sebagai salah satu indikasi banyak manusia yang tak ingin berubah. Berkali-kali membaca dan mendenagar nasihat tapi tak kunjung ada perubahan dalam hidup.

Atau bisa jadi seperti yang sedang saya alami, terlalu bosan membaca tulisan ber-genre nasihat. Sehingga menjadi kebas terhadap nasihat yang didapatkan.

Bisa juga otak saya kacanduan oleh nasihat, sehingga ketagihan mencari nasihat-nasihat baru yang memuaskan dahaga kebijaksanaan sesaat. Setiap mendapat nasihat baru, ada suntikan dopamine menjalar di dalam otak.

Tapi tidak menutup kemungkinan kebutuhan akan nasihat ini sebagai sebentuk usaha untuk menjaga konsistensi dalam berlaku baik. Mengkondisikan diri dalam aura kebaikan agar tidak terperosok ke lubang keburukan.

Memang tabiatnya manusia sih ya yang selalu membutuhkan alarm berupa nasihat. Karena tabiat dasar manusia memang pelupa.

Dari jaman dahulu Tuhan selalu mengutus nabi dan rasul kepada umat manusia. Salah satu tujuan pengutusan nabi dan rasul adalah untuk memberikan nasihat kepada manusia. Memang kebanyakan manusia suka nggandhemi, isuk dele sore tempe.

Terus terang, saya menulis ini untuk menasihati diri sendiri yang sedang merasa kebas terhadap nasihat. Waleh terhadap nasihat. Agak gemes juga terhadap diri sendiri yang kerap mbalelo terbujuk oleh rayuan iblis setelah mendengar nasihat.

Pada sisi yang lainnya, saya juga merasa gemes dengan orang-orang yang kerap membagikan nasihat untuk pencitraan. Tak ada perubahan signifikan dalam kehidupannya setelah membagikan nasihat. Bahkan yang paling parah adalah ketika saya mendapati orang yang dulunya begitu galak menyampaikan nasihat, memberikan judgement atas perilaku orang lain, eh ndilalah di kemudian hari, dia sendiri melanggar nasihat yang dia sampaikan sendiri.

Ini kan namanya nggaphlek’i kuadarat. Iyaaa, macem saya ini tipikal manusia nggaphlek’i kuadrat. Suka sekali mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Apa kamu juga merasakan unsur-unsur nggaphlek’i kuadrat bersemayam dalam dirimu? Bahahaha saya bukan bermaksud mennyindir lhoo yaa. Tapi yaa kalo merasa tersindir saya mohon maaf mumpung aroma suasana lebaran masih terendus.

Yak dari tulisan singkat ini, saya ingin menarik satu kesimpulan. Sebenarnya bukan perkara ketagihan nasihat atau kebas terhadap nasihat, tapi sepemahaman saya saat ini, salah satu sifat nasihat layaknya seperti obat. Dibutuhkan resep dan dosis tertentu pada nasihat agar kemanjurannya dapat dirasakan olah penerima nasihat.

Maka dari itu, temukan resep dan dosis nasihat yang tepat untuk dirimu sendiri. Jangan sok-sokan membagikan nasihat tentang parenting padahal dirimu sendiri masih kebingungan menentukan pasangan hidup.

Oh iya, tulisan ini juga saya maksudkan sebagai perwujudan ayat ketiga surat Al-Ashr. Semoga bermanfaat.

Salaaaa….mmm,
DiPtra.


Featured Photo by Ben White on Unsplash

Puasanya Ular, Puasanya Ulat

Setelah hampir menelan paman bulat-bulat, ular python itu akhirnya ditangkap juga. Bersyukur paman tidak kurang satu apa pun ketika dibelit oleh ular python dewasa berukuran jumbo itu.

Setelah ditangkap, ular python itu meringkuk sayu dalam kandang ular dadakan di belakang rumah paman. Sedianya, kandang itu diperuntukkan sebagai tempat ayam bernaung.

Tak terbayang betapa ngerinya ketika paman dililit oleh ular python itu, sebuah pengalaman dzikrul maut yang nyata adanya. Tentu saja lilitan ular python itu masih kalah ngeri dengan lilitan ular spesies hutang luar negri yang membelit negara ini.

Tentu saya hanya menyaksikan seonggok ular python berbadan tambun sedang tertidur. Mungkin ular ini semacam bertapa untuk menjadi manusia seperti kisah legendaris Siluman Ular Putih.

Rupanya beberapa hari sebelum bertapa, ular python itu memakan seekor anak kambing atau ayam. Entahlah saya agak lupa bagian ini, yang jelas ular python itu puasa setelah “pesta besar” memakan daging-dagingan. Nyam-nyam.

Jadi begini, setelah mempelajari pelajaran biologi atau setelah melihat tayangan fauna di NatGeo saya jadi tau bahwa ular pun berpuasa. Rupanya ular berpuasa dalam rangka berganti kulit. Ular harus mengganti kulitnya secara berkala karena tubuh ular yang tumbuh dari waktu ke waktu juga beradaptasi terhadap cuaca untuk menjaga kelembapan kulitnya. Untunglah belum ada spesies ular yang terinspirasi untuk mendirikan pabrik lotion pelembab kulit.

Selepas masa puasa ular puasa untuk berganti kulit, ternyata bentuk ular masih tetap, mungkin hanya mengalami perubahan volume tubuh. Namanya pun masih sama, ular.

Apa yang dimakan pun tak berubah, bahkan cara memakannya pun masih tetap. Cara jalan ular pun masih sama melata di atas bumi dengan perutnya selepas puasa. Dan tabiat ular pun tetap, mematuk dengan licik, menelan mangsanya mentah-mentah.

Lain halnya ketika melihat puasa yang dilakukan oleh ulat. Terjadi perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan oleh ulat.

Bentuk dan nama ulat berubah menjadi kupu-kupu selepas puasa di dalam kepompong. Makanannya pun berubah, dari semula memakan dedaunan dan dianggap sebagai hama, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang menghisap nektar bunga. Sifatnya juga berubah dari tamak terhadap dedaunan menjadi selektif terhadap bunga sekaligus membantu proses penyerbukan bunga.

Hal yang paling ekstrim adalah perubahan dari cara bergeraknya. Ulat yang semula hanya bisa melata,  setelah masa puasa usai menjadi bersayap dan mampu terbang dengan anggunnya.

Dari dua perbandingan model puasa ini bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan model puasa yang dijalani oleh ular, toh sudah sunnatullah-nya ular berpuasa semacam itu. Tak ada perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan ular.

Hal yang sama terjadi kepada manusia ketika menjalani puasa. Secara fisik tak ada perubahan signifikan pada manusia selepas menjalani puasa. Paling banter bobot tubuh menjadi turun dan lipatan lemak di perut yang mengendur.

Tapi manusia dikenal dan dikenang bukan dari fisiknya semata. Namun lebih kepada karakter, perilaku, dan amal perbuatannya. Maka dari itu, senyampang fisik kita meniru model puasa ular, paling tidak ruhani kita berpuasa meniru model puasa ulat.

Yang sebelumnya super nggaphlek’i yang menyebalkan dan sak karep’e dhewe, paling tidak berubah menjadi nggaphlek’i yang menyenangkan dan dirindukan. Karena jauh di lubuk hati beberapa teman-teman baik saya, tidak rela jika sisi-sisi ke-nggaphlek’i-an yang saya miliki raib begitu saja.

Tiba-tiba dua bilah sayap nggaphlek’i di punggung saya mulai tumbuh. Sayangnya, bentuknya tak simetris. Sebelah kanan berupa sayap kelabu kelelawar, sebelah kirinya lagi sayap pembalut yang dikenakan ketika malam biar tidak mudah bocor di atas kasur.

Saya ingin puasa menulis, tapi tak sampai lama. Paling tidak hingga lebaran usai. Lebaran tahun 2156. Oke fix saya harus tidur.

Salam…
DiPtra si lelaki nggaphlek’i

Puasa Nafsu, Puasa Jiwa

040617

Bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan untuk mendidik jiwa. Sebelumnya sepemahaman saya, nafsu dan jiwa memiliki definisi yang sama. Hanya saja, ketika berbicara tentang nafsu maka akan lebih memiliki kecenderungan bermakna ego yang memiliki konotasi negatif. Ketika berbicara jiwa maka sepemahaman saya, jiwa memiliki makna yang netral. Bergantung kata sifat yang melekatinya seperti jiwa yang sehat, jiwa yang tenang, jiwa yang sakit.

Setelah membahas puasa mulut, puasa perut dan puasa otak, puasa pikiran maka macam-macam puasa itu memiliki kaitan dengan puasa nafsu atau puasa jiwa. Pada fase pertama puasa mulut, puasa perut bertujuan untuk melemahkan dan menakar ulang kebutuhan akan jasad terhadap makanan.

Penakaran ulang terhadap makanan yang berbentuk pengurangan asupan makanan, ternyata mampu meningkatkan kinerja otak untuk mengingat dan berpikir. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya melalui penelitian yang dilakukan oleh Matt Mattson.

Seperti yang kita ketahui bersama, secara garis besar keinginan nafsu yang berkaitan dengan badan terbagi menjadi tiga macam. Nafsu untuk merasai makanan yang enak, nafsu untuk selalu merasa kenyang dan nafsu untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Ketika puasa, ketiga macam keinginan badani ini dibatasi, dikekang sedemikian rupa. Karena nafsu kerap memperalat tiga macam keinginan ini untuk memuaskan hasratnya hingga melebihi batas. Ketika nafsu tidak dikekang maka dia tidak akan pernah puas menuntut makanan-makanan yang nikmat. Maka rasa kenyang pun menjadi melebihi batas yang semestinya. Perut yang kenyangan akan mendorong kepda kemalasan dan biasanya berujung pada keinginan untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Maka melalui pendidikan terhadap badan dengan puasa, sebenarnya adalah cara untuk melatih nafsu agar menjadi jiwa yang tenang. Selanjutnya dengan nafsu atas keinginan badani yang dibatasi, maka efek yang dirasakan adalah peningkatan kemampuan berpikir dan mengingat. Peningkatan kemampuan berpikir ini akan membuat kita mampu berpikir secara lebih jernih dan obyektif. Sehingga pikiran mampu menuntun jiwa untuk melakukan kebaikan dan memperhalus rasa.

Pada gilirannya nanti, jasad yang sehat disertai dengan pikiran yang sehat sehingga menghasilkan jiwa yang tenang merupakan produk yang diharapkan selepas puasa Ramadhan usai. Karena puasa Ramadhan semata-mata bukanlah puasa yang parsial. Namun puasa Ramadhan adalah puasa yang bersifat holistik yang mampu merangkul kebutuhan manusia akan jasad yang sehat, pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang. Sehingga di penghujung Ramadan nanti kita bisa beridul fitri dengan ketakwaan, insyaa Allah.

Oh iya,beberpa waktu lalu sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada yang bertanya kepada saya tentang target Ramadhan saya tahun ini. Saya berpikir keras apa gerangan target Ramadhan saya tahun ini. Target Ramdhan pada umumnya sih seperti mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali, shalat taraweh berjama’ah selama bulan Ramadhan, berinfaq senilai sekian rupiah, i’tikaf di sepuluh malam terakhir dan sebagainya.

Well, saya tak kunjung menjawab pertanyaan teman saya ini. Karena target puasa Ramadhan saya tahun ini receh sekali, yaitu mencapai bobot badan lima puluh delapan kilogram. Halah, receh bingiiits kan terget Ramadhan saya walau sudah menulis macam-macam jenis puasa yang ndhakik-ndhakik dari tanggal satu kemarin.

Heuheuheu tunggu saja, masih ada postingan ndhakik-ndhakik di hari-hari selanjutnya. Jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tuliskan.

Salam..
DiPtra lelaki ndhakik-ndhakik

Puasa Otak, Puasa Pikiran

030617

Terjadi perlambatan akumulasi amyloid pada otak tikus percobaan dengan melakukan pengurangan asupan nutrisinya. Perlambatan akumulasi amyloid ini adalah hal yang baik, mengingat pada penderita alzheimer didapati akumulasi amyloid dalam jumlah yang cukup banyak. Hasil penelitian ini dikemukakan oleh Matt Mattson dalam sebuah kuliah umum acara TED. Matt Mattson merupakan seorang peneliti tentang penuaan pada suatu institut.

Lebih lanjut, Matt Mattson mengungkapkan bahwa pengurangan asupan nutirisi pada tikus percobaan, mampu meningkatkan kemampuan tikus dalam mengingat. Selain itu, terjadi perlambatan degenerasi otak dalam memproduksi dopamin pada tikus percobaan. Bahkan, dengan pengurangan asupan nutrisi pada tikus percobaan, didapati usia tikus percobaan meningkat 30 hingga 40 persen.

Apa yang dilakukan pada tikus percobaan ini adalah sebentuk simulasi pengaruh kuantitas asupan nutrisi terhadap otak. Hal yang sama bisa juga terjadi bila diterapkan kepada manusia. Sudah menjadi rahasia umum tentang kisah-kisah keajaiban orang-orang yang melakukan puasa. Salah satunya adalah keajaiban puasa dalam meningkatkan kecerdasan.

Penelitian yang dilakukan oleh Matt Mattson bisa dijadikan sebagai bukti empiris bahwa puasa mampu meningkatkan kecerdasan. Dengan berpuasa, kemampuan otak dalam mengingat akan meningkat. Maka dari itu, selain baik untuk kesehatan, puasa juga memiliki manfaat yang sanga besar bagi fungsi kerja otak.

Baiklah semoga paparan singkat mengenai penaruh puasa terhadap fungsi kerja otak ini bermanfaat. Ada baiknya saya akhiri tulisan ini.

Hmmm lalu puasa pikiran seperti yang tertera di judul gimana tuh maksudnya? Yaa entahlah saya kok agak males yaa membahasnya. Mungkin di lain kesempatan yaa. Eeh  karena ini adalah bulan puasa, ga baik membuat orang penasaran.

Selain dilarang untuk mengkonsumsi makanan, minuman, dan rokok ketika berpuasa, aktifitas negatif lainnya juga dianjurkan untuk tidak dilakukan. Ancaman melakukan hal-hal tercela ketika sedang berpuasa adalah berkurangnya keutamaan dan pahala dari puasa yang sedang dijalani. Puasanya hanya mendapatkan lapar dan haus. Minimal sih terjadi pengurangan berat badan, itu pun kalo waktu buka dan sahurnya enggak kalap. Yaa kalo pas buka dan sahurnya kalap alamat deh terjadi peningkatan berat badan selama puasa Ramadhan.

Mari sekrang kita coba gathuk-gathuk-kan antara fakta bahwa puasa meningkatan kemampuan otak untuk mengingat dengan larangan melakukan hal-hal tercela ketika sedang berpuasa. Iyaa saya tau sebagian kaum cerdik cendikia menolak keras falsafah gathuk-menggathukkan ini. Tapi saya ikhlas didepak dari golongan cerdik cendikia hanya karena sedikit menggunakan falsafah gothak-gathuk ini.

Ketika melakukan hal-hal tercela seperti ghibah, ngadu domba, fitnah, debat bin engkel-engkelan, melihat hal yang enggak-enggak, baca atau liat berita enggak bener di internet atau televisi, selama berpuasa bisa jadi hal-hal buruk itu akan lebih menempel di memori otak daripada ketika sedang tidak berpuasa. Karena selama berpuasa otak meningkat kemampuannya dalam mengingat.

Lantas apa sih efek buruk dari otak yang kebanyakan menyimpan hal-hal yang negatif, hal-hal yang buruk? Yaa salah satunya sih efek buruknya bisa dijelaskan dengan (lagi-lagi) analogi teko dan isinya. Deretan data dalam memori dalam otak bagaikan isi teko. Deretan data ini kelak akan menjadi landasan seseorang dalam bertindak maupun dalam merespon suatu kejadian. Katanya motivator-motivator atau coach-coach siih, apa yang terjadi pada diri kita sebenarnya adalah efek dari respon yang kita berikan pada kejadian yang dialami.

Ketika dikritik lalu memberikan respon negatif jadinya malah adu debat saling menjatuhkan. Nyari benernya sendiri. Nyari kelemahan lawan debatnya sampai menyerang terhadap pribadinya bukan argumennya, seperti debat-debat yang pernah saya simak dalam gala twitwar di Twitter dulu. Maka dari itu, seperti kemarin sudah saya sampaikan puasa informasi ada baiknya dilakukan untuk mengurangi potensi terbukanya pintu informasi yang negatif. Bad news is a good news.

Sebagai kesimpulan, maka tidaklah mengherankan ketika berpuasa kita sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Memeperbanyak sholat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan macam-macam amal shaleh lainnya. Hal ini dilakukan demi memperkuat ingatan dan kesan yang diterima oleh otak akan kegiatan-kegiatan yang baik.

Oke, kali ini benaran saya tutup tulisan saya dengan sebuah pertanyaan, apakah falsafah gathuk-menggathukkan yang saya paparkan barusan ini akan mengeluarkan saya dari kumpulan cerdik cendikia? Hmmm entahlah saya sendiri lupa apakah sudah pernah mendaftarkan diri menjadi anggota cerdik cendikia. Nampaknya saya perlu berpuasa untuk meningkatkan kapasitas memori otak saya.

Salam..
DiPtra si tikus percobaan.

Puasa Informasi

img_5853

Sepekan ini alam begitu mendukung suasana puasa bulan Ramadhan. Baik ketika saya sedang di Malang, maupun ketika sedang berada di Jakarta. Cuaca nampak mendung-mendung sendu. Kalau Malang tidak mengherankan jika bersuasana sejuk. Alhamdulillah Jakarta juga ikut-ikutan sejuk. Entahlah bagaimana dengan keadaan cuaca di lokasi lainnya. Semoga juga ikutan sejuk yaa.

Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan menyapa, saya merasakan Jakarta begitu gerah. Setiap malam hampir bermandikan keringat. Terlebih ketika tidur, bantal terasa anyep.

Cuaca sejuk beberapa hari di bulan Ramadhan ini, semoga membantu menyejukkan suasana gaduh yang sedang terjadi di negri ini. Saya memang sudah lama tak mengikuti perkembangan berita nasional. Tapi abu-abu residu panas perseteruannya masih tetap saya rasakan.

Nampaknya harus beneran menjauhi potensi-potensi paparan residu abu gaduh nasional selama bulan puasa ini. Puasa tarhadap informasi yang sudah mengalami guyuran inflasi.

Oh iya, kelanjutan tulisan tanggal satu kemarin belum saya dapati inspirasi untuk menuliskannya hari ini. Harusnya sih saya nulis tentang puasa otak, puasa pikiran. Tapi yaa kok malah enggak fokus, malah nulis masalah cuaca yang sedang sejuk ini. Kemudian nyambung bahas puasa infromasi. Hmm yaa anggap saja tulisan ini sebagai pengantar dan pemanasan.

Kayaknya sih, untuk mengakomodir keademan selama bulan Ramadhan tahun ini, pengurangan asupan informasi perlu dilakukan. Kan udah setahun lebih nih rakus sama informasi, baik berita nasional, internasional, politik, entertainment, olah raga, gosip artis, teknologi, kriminal, dan sebagainya.

Semacam apatis yaa ga mau tau dengan kondisi negara? huhuehue iya juga sih, jadi semacam mengapatiskan diri. Tapi untuk menghemat energi dan menjaga kewarasan pikiran puasa informasi sekiranya baik, perlu dilakukan.

Puasa informasi bukan berarti sebulan penuh berhenti enggak mengkonsumsi informasi sama sekali. Hanya saja kuantitasnya dikurangi. Mulai dari facebook, twitter, instagram, path, portal berita, line, whatsapp, wordpress mulai saya kurangi penggunaannya. Pada level yang agak sedikit ekstrim, saya menutup sementara akun Facebook dan Instagram.

Sampe kemarin mba Ririen nanyain kenapa kok akun instagram saya raib. Saya jawab aja kalo akun instagram saya ga aktif selama bulan puasa, biar enggak tergoda liat akun-akun IG bening (akun jualan gelas). Halah, padahal kan yaa ga liat instagram akun bening pun, di sekitaran, di jalan-jalan banyak berseliweran makhluk-makhluk bening. Hmm emboh lah, saya masih lelaki normal.

Ngomong-ngomong, apa ya kira-kira manfaat puasa informasi? Saya sudah nulis beberapa paragraf ya kok masih agak buram tujuan puasa informasi apaan. Di awal tadi sih sempat kesinggung kalo manfaat puasa informasi untuk menjaga kekondusifan dan susana adem selama puasa. Kalau puasa Ramadhan kan jelas tujuannya untuk meraih ketakwaan. Lah ini apa bisa kira-kira puasa informasi untuk meraih ketakwaan?

Kayaknya sih bisa, karena puasa informasi bisa mengurangi potensi masuknya informasi-informasi hoax dan berbau ghibah. Lebih tepatnya sih bukan puasa informasi kali yaa, tapi memfilter informasi. Tapi yaa gimana dong, kan ketika proses memfilter itu mau tak mau baca sekilas informasi yang nantinya bakal dikesampingkan.

Entahlah untuk hal ini saya merasa semacam emboh. Mau nyaranin puasa informasi tapi yaa kok kontradiktif, dengan mempublish postingan ini berarti saya memberi godaan untuk memakan informasi yang saya sajikan. Lak mbulet karepe dhewe.

Tadinya saya pingin membuat tulisan akrobatik macam tulisan Cak Nun di buku Tuhan pun Berpuasa. Buku ini buku favorit saya, karena banyak memberikan kedalaman-kedalaman permenungan tetang puasa. Begitu menimati ketika membacanya. Namun ketika mencoba menyintesakannya dengan bahasa sendiri rasanya kok jadi acak kadul. Oh iya, beda pengalaman jaaaauuuuuhhh baaanggeeett sama beliau.

Tapi yaaa kembali lagi puasa informasi ini khusus saya terapkan untuk diri sendiri. Nanti kalo saya ajak-ajak yang lain dan saya bilang bisa meningkatkan iman dan takwa malah dapat tudingan yang aneh-aneh. Daripada kena tudingan aneh-aneh, mending kena tudingan yang ena~ena.

Salam
DiPtra. Mohon maaf bila ada typo dan kalimat yang tidak lengkap 😀