Follower Banyak Itu Mengerikan

Hal yang patut digarisbawahi adalah follower banyak tak selalu menguntungkan. Memang sih pada era segala hal bisa dikapitalisasi, memiliki jumlah follower banyak merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Kita tengok saja selebgram yang banyak bermunculan belakangan ini. Dengan mengambil sampel secara random, saya dapati akun-akun selebgram memiliki pengikut puluhan hingga ratusan ribu. Pada level artis beken yang sering muncul di acara tivi, film atau pun video klip maka jumlah follower bisa mencapai angka fantastis, jutaan.

Maka jangan heran bila online shop berdatangan untuk menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Lantas, apakah hal ini salah? Entahlah, jika pertanyaan ini dilontarkan kepada peserta acara cerdas cermat yang dipandu oleh Helmy Yahya pun saya yakin mereka akan menjawab secara normatif, yaitu relatif.

Hubungan online shop dengan selebgram ini boleh lah dikategorikan sebagai hubungan simbiosis mutualisme. Online shop-nya untung karena produknya dipromosikan, dengan harapan omset penjualan produk atau jasa meningkat. Sedangkan bagi selebgram sendiri, keuntungan materi yang cukup lumayan bisa diraih.

Bukan hanya selebgram ya, selebtwit pun dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu menjadi endorser beberapa produk. Namun belakangan ini saya melihat di Twitter jasa endorser mulai tergantikan oleh buzzer. Buzzer ini secara beramai-ramai melakukan promosi atas suatu produk yang ingin diperkenalkan.


Promosi Produk, Jasa, Kelakuan dan Pemikiran di Media Sosial

Di lain sisi, saya melihat jika produk yang dipromosikan oleh seorang selebgram, selebtwit, ataupun buzzer bertentangan dengan kenyataan, maka sejatinya terjadi semacam ke-tak-elokan moral di dalamnya. Maksudnya suatu produk A dipromosikan secara positif, padahal di dapurnya dirasani kalau produk A itu jelek.

Ambil contoh sederhana, ketika launching suatu produk kuliner XYZ, maka mau tak mau si selebgram, selebtwit, dan buzzer tentu akan bilang produk kuliner XYZ itu enak gak kalah dengan produk sejenis. Bahkan kadang sedikit lebay. Semacam kehilangan obyektifitas atas produk yang sedang dipromosikan. Mana ada kecap nomer dua.

Itu baru dari segi produk yang sedang dipasarkan atau dipromosikan. Bagaimana jika suatu pendapat, tindakan, pemikiran, narasi yang sedang disampaikan oleh selebgram, selebtwit, dan buzzer? Menurut saya, nilai pertanggungjawabannya lebih berat daripada mempromosikan suatu produk.

Jika selebgram atau selebtwit dengan ratusan ribu follower setia bahkan fanatik melakukan suatu tindakan tidak terpuji kemudian disebarkan di media sosialnya, bisa jadi follower setianya akan mengikuti apa yang dilakukan. Contohnya? hmm buanyaaaak. Karena follower setia dan fanatik itu menganggap apa yang dilakukan oleh idolanya itu keren. Benar atau salah, bermoral atau tidak itu urusan nanti, yang penting keren dulu.

Suatu tindakan buruk yang kemudian ditiru oleh orang lain, maka karma akibat keburukannya akan kembali kepada si pelaku mula. Lebih kurang seperti itu alur sebab akibat yang saya pahami.

Kehidupan bermedia sosial memiliki potensi interaksi dengan manusia-manusia lain yang tidak bisa kita prediksi persebarannya. Maka dari itu adalah bijaksana jika kita menebarkan kebaikan-kebaikan saja di akun-akun media sosial yang kita miliki. Ini menurut saya bukan sebuah pencitraan. Menjadi pencitraan jika kebaikan atau inspirasi yang disampaikan bertentangan dengan keseharian.


Mawas Diri Dalam Berkelakuan di Media Sosial

Lantas apakah tulisan ini semacam wujud keirian saya karena gagal menjadi selebgram? Hmmm bisa jadi iya, namun justru karena saya menyadari benih-benih yang tidak baik bersemi dalam hati maka secepat mungkin saya harus bisa meredamnya. Maka menuliskan tentang keresahan hati ini merupakan cara paling sederhana untuk meredamnya. Menetralkannya.

Bahkan semenjak saya dirasuki oleh pemikiran bahwa memiliki follower banyak itu mengerikan, jadinya semakin tidak tertarik menjadi seleb media sosial. Walaupun menjadi seleb media sosial ataupun tidak sama-sama memiliki potensi penyebaran kebaikan dan keburukan, menjadi sosok yang berada pada spotlight banyak orang itu untuk saya tidak mengenakkan. Semacam ada kebebasan yang terenggut.

Tapi entahlah, ini hanya perasaan saya saja. Pada titik tertentu, saya malah ingin menghilang dari peredaran media sosial kebanyakan yang kerap saya gunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path.

Bersepi-sepi saja menulis, menuangkan pemikiran. Seperti halnya menulis dan membaca konten-konten menarik dan bergizi di Medium ini, merupakan sebentuk pelarian dari kejenuhan media sosial kebanyakan.

Paling tidak saya ingin menyeleksi apa-apa yang akan dikonsumsi oleh pikiran saya. Bukan hal-hal random tak terkendali yang memenuhi beranda media sosial.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Salam,
DiPtra


Photo by Camila Damásio on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Advertisements

Media Sosial dan Mati Kendat

Istilah mati kendat kali pertama saya dengar ketika pindahan rumah puluhan tahun lalu, di Malang. Saya lupa siapa orang yang menginformasikan perihal mati kendat ini. Di depan rumah baru yang saya tempati itu terdapat sebuah gang kecil. Desas-desus tetangga yang saya dapatkan bahwa gang kecil itu angker karena pernah ada yang mati kendat di sekitaran situ.


Kematian Chester Bennington dengan cara bunuh diri pada 20 July lalu kembali mengingatkan saya akan ingatan horor mati kendat di gang kecil itu. Chester mati kendat di kediamannya, Los Angles.

Padahal belum mengering berita tentang kematian gantung diri Chris Cornell bulan Mei lalu. Gara-gara berita itu, saya jadi tahu siapa itu Chris Cornell. Ternyata dia adalah pentolan grup rock band terkenal, Audio Slave. meeehh selama ini saya cuman tau teriakan khasnya di lagu Like a Stone tapi enggak tahu nama yang nyanyi.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, Chester dan Chris mati bunuh diri dikarenakan oleh depresi. Dr. Christine Moutier yang bekerja di American Foundation for Suicide Prevention menyatakan bahwa 90 persen orang yang melakukan percobaan bunuh diri memiliki gangguan kejiwaan.

Masih menurut Dr. Christine Moutier, musisi yang meninggal bunuh diri karena depresi memiliki kesamaan karakter, yaitu sama-sama perfeksionis. Saya baru tahu jika perfeksionis bisa menuntun pada kondisi depresi secara kejiawaan.

Sebagai orang dengan tipikal thinking introvert saya juga memiliki kecenderungan untuk perfeksionis. Karena sudah secara bawaan lahir saya cukup rese’ terhadap detail. Tapi entahlah, rasa-rasanya saya pernah mengalami gejala depresi.


Belum lama ini ada berita viral tentang orang yang melakukan live show bunuh diri melalui Facebook. Untunglah saya tak sempat melihat tayangan itu dan pihak Facebook bergerak cepat menghapus rekamannya.

Ada Amanda Todd yang meninggal bunuh diri karena depresi akibat bullying di media sosial. Yaa, belakangan ini perihal bullying ini semakin menguat terjadi di media sosial.

Media sosial yang ditujukan sebagai wadah untuk bersosialisasi malah menjadi wadah untuk saling mem-bully. Media sosial malah menjadi tempat yang kurang nyaman untuk ditinggali.

Media sosial jika tidak disikapi dengan bijaksana malah menimbulkan keresahan dan kecemasan. Di mana keresahan dan kecemasan ini nantinya akan menuntun pada depresi.

Manusia memiliki tendensi untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Sehingga sering kali tidak merasa puas dengan kehidupan yang ada di genggamannya sekarang. Maka, media sosial yang cenderung meng-ekspose kehidupan pribadi menyuburkan kecenderungan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Merasa kehidupan yang sedang dijalani tidak sempurna.

Rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, apalagi jika si tetangga kerap memamerkan rumput hijaunya di media sosial. Pemaparan kehidupan pribadi yang terus-menerus ini tentu akan memicu kecemburuan sosial. Karena di media sosial kita cenderung hanya menampilakan hal yang enak-enak saja.

Dari tulisan di Psychology Today menerangkan bahwa kecemburan terhadap teman atau orang yang ada di media sosial akan menuntun pada depresi. Melalui beberpa studi yang dilakukan bahwa orang-orang yang menutup atau berhenti menggunakan Facebook merasa bahwa mereka telah membuang waktunya. Mereka merasa kurang produktif akibat media sosial.

Saya pun merasakan hal yang sama ketika memutuskan untuk berhenti sejenak menggunakan media sosial. Ada rasa lega ketika mendapati diri terbebas dari scrolling tanpa henti newsfeed atau timeline media sosial. Lega kerena menyadari durasi waktu yang terbuang karena terlalu asik berinteraksi di media sosial.

Hal lainnya, media sosial yang saya anggap sebagai tempat untuk bersosialisasi malah sesekali menghadirkan kesepian yang kurang disadari. Entahlah apakah orang lain juga merasakan hal yang sama.

Memang media sosial sangat berguna untuk tetap menjaga silaturrahim dengan keluarga dan teman-teman saya. Namun pada beberapa kesempatan ketika terlalu asik bermain media sosial tiba-tiba ada rasa kesepian menghampiri. Bagaimana pun aktifitas fisik tidak bisa digantikan oleh aktifitas maya.

Menurut terawangan saya, rasa kesepian memiliki potensi yang kuat untuk membuat depresi. Karena perasaan depresi yang berujung pada tindakan bunuh diri, sering kali akibat tidak adanya pihak yang bisa dan mau mendengar kepedihan jiwa orang yang depresi.

Dalam tulisannya, mas Endri menyebutkan bahwa kasus percobaan bunuh diri pada lelaki memang lebih sedikit, namun persentase kematian akibat bunuh diri pada lelaki cenderung lebih besar. Lelaki lebih cenderung diam ketika sedang ada masalah.

Maka bila kamu seorang lelaki, maka tak perlu malu untuk bercerita atau bahkan menangis jika sedang ada masalah. Atau jika mulai merasakan kesepian, keresahan dan kegalauan akibat media sosial maka berceritalah. Minimal menulis di buku harian untuk menumpahkannya. Atau bisa juga menulis di blog, karena dari pengalaman saya menulis memiliki manfaat terapi mental.

Jika media sosial terlalu meracuni keseharianmu dan mulai terpikirkan untuk mati kendat, maka lebih baik kamu kendatin saja akun media sosialmu untuk sementara.

Semoga bermanfaat.

salam,
DiPtra

originally published on diptra.id

Durasi Tidur yang Tercaplok Media Sosial

Begitulah kiranya, selepas pulang kerja badan menjadi lelah. Tentulah butuh hiburan sesaat sesampainya di kamar kosan. Tak ada televisi di kamar saya. Hiburan paling dekat dengan jangkaun tangan adalah smartphone.

Tak bisa dipungkiri, hubungan saya dengan smartphone ini boleh dibilang hubungan love and hate yang tiada akhirnya. Kadang bisa seharian mengakrabinya, kadang juga bosen banget menggunakannya. Perasaan bosen ini hadir kala waktu banyak teebuang tanpa disadari untuk bermeseraan dengan smartphone. Mungkin ini yang disebut dengan cinta buta.

Seenjak saya sudah berhenti menjadi seorang gamer maka kegiatan saya bersama smartphone tak jauh-jauh dari urusan bermain media sosial. Ada segitiga bermuda media sosial yang menjadi titik-titik porosnya. Jadi, maksud segitiga bermuda media sosial adalah berpindah-pindah dari satu aplikasi media sosial ke media sosial lainnya. Dari titik A ke titik B lalu ke titik C dan kembali lagi ke titik A, begitu seterusnya tanpa disadari waktu telah berlalu beberapa jam lamanya.

Sebagian mendefinisikan titik-titik poros itu dengan Facebook-Twitter-Path. Sebagiannya lagi Instagram-Snapchat-Facebook. Ada juga kombinasi Instagram-Tumblr-Wordpress. Kombiansi titik poros yang lain tentu masih ada.

Besesuaian dengan judul tulisan ini, akibat terjerumus dalam pusaran segitiga bermuda media sosial ini, konsekuensi yang sering saya alami adalah lupa waktu tidur. Karena keasyikan bermain media sosial di malam hari ujug-ujug saja tanpa terasa sudah mendekati dini hari. Parah.

Apalagi sejak beberapa hari yang lalu. Aplikasi Facebook kembali saya install dalam smartphone. Tak butuh waktu lama, Facebook kembali mengisi keseharian. Yak benar, sisa-sisa candu Facebook belum sepenuhnya hilang ternyata. Menyedihkan.

Awalnya saya mengira bakal imun dengan godaan Facebook. Ternyata oh ternyata tampilan antar muka Facebook di aplikasi smartphone semakin menawan. Jadilah scroll tanpa akhir di newsfeed Facebook menjadi keasyikan tersendiri.

Pentingnya Kesadaran

Salah satu pelajaran yang dapat saya sarikan dari berlatih mindfulness beberapa waktu lalu adalah peningkatan kesadaran atas aktifitas yang sedang dilakukan. Lebih kurang tiga hari saya merasa ada yang salah dengan aktifitas keseharian. Khususnya terkait dengan pemanfaatan waktu sehari-hari.

Waktu-waktu produktif saya mulai diambil alih kembali oleh media sosial, khususnya Facebook. Kesadaran terambilnya waktu-waktu produktif ini ketika saya mulai mendapati saya tidur sekitaran jam satu malam hanya demi mantengin timeline media sosial.

Akibatnya durasi waktu tidur saya menjadi berkurang. Karena di pagi harinya saya harus mulai melakukan aktifitas sehari-hari sebagai karyawan eight to five. Durasi tidur saya dicaplok oleh media sosial. Benar kiranya ketiak beraktifitas dengan smarphone sebelum tidur membuat rasa kantuk susah datang, dan saya mengalami sendiri hal ini.1

Pagi hari ketika sedang bekerja di kantor, otomatis rasa kantuk tak tertahankan menyertai. Pekerjaan yang harus diselesaikan, jadinya malah tak maksimal pengerjaannya.

Facebook atau media sosial bukanlah kambing hitam atas permasalahan ini. Masalahnya ada pada kemampuan saya dalam menentukan prioritas hal-hal yang seharusnya saya kerjakan. Kedua, saya belum sembuh benar dari kecanduan media sosial. Dengan kata lain, developer media sosial sukses membuat aplikasi yang membuat penggunanya kecanduan. Mereka suskses memasang pasung tak kasat mata pada leher-leher penggunanya agar terus menunduk menatap layar smarphone.

Dengan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri saya sendiri, maka dengan penuh keyakinan saya kembali menghapus aplikasi Facebook dari smartphone saya.

Pesan terakhir sekaligus penegas terhadap tulisan kali ini adalah, berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Tingkatkan kesadaran diri dalam menggunakannya. Media sosial memang dirancang sedemikian rupa agar menjadi candu bagi penggunanya.

Lalu apakah kamu punya tips sendiri berkaitan dengan cara mengatasi kacanduan media sosial? Silahkan dibagikan tipsnya di kolom komentar yaa.

Salam,
DiPtra

 


Featured images by Annie Spratt on Unsplash

Ngapain Dolan Media Sosial?

Kehadiran media sosial adalah kejelian developer penggiat internet dalam membidik kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi. Lebih kurang sudah satu dekade ini media sosial berkembang dengan begitu cepat.

Banyak bermunculan start up yang membuat wadah berupa media sosial. Beberapa sukses mendulang pengunjung atau pengguna aktif, namun banyak juga yang gagal tidak mendulang kehampaan, layu sebelum berkembang.

Bahkan perusahaan sekelas Google pun berulang kalo gagal membuat platform media sosial. Jadi bukanlah suatu jaminan jika perusahaan besar juga bakalan sukses bermain di ranah media sosial.

Dari beragam media sosial, baik yang masih eksis maupun sudah tutup usia, saya melihat kesamaan layanan. Berbagi informasi dalam bentuk apa pun. Mulai dari informasi yang bermanfaat sampai informasi receh penebar hoax.

Pendirian media sosial oleh start up teknologi sebenarnya memiliki tujuan yang hampir serupa, yaitu memonetisasi trafik pengunjung yang memggunakan layanannya. Cara paling umum untuk memonetisasi trafik adalah dengan menebar iklan sebagai media promosi produk.

Dari tujuan yang hampir seragam ketika start up teknologi membangun media sosial, mari kita sejenak mempertanyakan kepada diri kita sendiri apa tujuan kita bermain media sosial. Apakah lebih banyak mengandung manfaat atau malah berkubang dalam kesia-sian atas nama membunuh waktu.

Seperti kehadiran Friendster yang pertama kali, tak ada tujuan jelas ketika menggunakannya. Hanya untuk penampakan dalam memperkenalkan diri secara online. Begitu juga ketika kali pertama menggunakan Facebook, entahlah tak ada tujuan khusus dalam membuat akun.

Waktu berjalan, tujuan saya dalam penggunaan media sosial juga mengalami perubahan. Dulu ketika masih lajang dan Facebook belum diserang akun alay dan palsu, tuuan saya begitu sederhana, menebar jejaring pesona untuk menggait lawan jenis. Saya lelaki normal. Bukan hanya Facebook, hampir setiap ada media sosial baru muncul, saya sebisa mungkin membuat akunnya.

Kini, setelah tujuan utama bermain media sosial terpenuhi, pesona bermain media sosial memudar. Saya menikah, kemudian buat apa lagi menebar jejaring pesona di media sosial? Yang ada malah saya mulai sedikit demi sedikit mengurangi jejak data personal di media sosial.

Masa-masa saat tulisan ini saya torehkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika media sosial bakal berkembang seperti sekarang. Bahkan media sosial mulai menjadi kebutuhan pokok akan informasi kebanyakan orang. Menguasai hajat hidup orang banyak.

Entahlah, tulisan ini hanya berupa opini atas pengamatan pribadi. Bisa saja saya terlalu berlebihan dalam menilai pengaruh media sosial. Khususnya dalam hal penetrasi media sosial dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari.

Jadi, sebenarnya ngapain sih kita dolan media sosial?

Salam,
DiPtra

Mengenang Friendster

Memang Facebook saat ini adalah media sosial paling moncer. Namun pada tahun 2002, Facebook belumlah sesuatu yang memiliki eksistensi. Dunia internet barulah meggeliat. Saat itu, pergerakan pengguna media sosial diawali oleh Friendster yang merebak bak cendawan di musim penghujan.

Friendster adalah media sosial besutan Jonathan Abrams seorang programer berkebangsaan Kanada. Nama Friendster sendiri diambil dari utak-atik kata “friend” dan “Napster”, di mana Napster saat itu adalah situs peer-to-peer terpopuler untuk berbagi musik.

Saya sendiri mulai menggunakan Friendster sekitar tahun 2004. Navis, salah seorang teman kuliah saya menceritakan asiknya bermain Friendster. Membuat profil online agar dikenal di dunia maya. Friendsterlah yang menyulut jiwa narsis kebanyakan anak muda saat itu, termasuk saya.

Selain menyulut jiwa narsis yang menggelegak dalam usia muda, Friendster juga menyibak sisi-sisi alay yang saya miliki. Untunglah Friendster sudah tidak beroperasi sejak 14 Juni 2015. Jadi jejak-jejak kealayan generasi saya sudah terkubur.

http _mashable.com_wp-content_uploads_2014_01_Screen-Shot-2014-01-29-at-1.09.47-PM-640x298
Halaman depan Friendster via Mashable.com
Lantas apa saja sih kenangan keasyikan kala bermain Friendster sebelum dia meninggal? Berkut ini saya coba sajikan berdasarkan pengalaman pribadi, keseruan bermain Friendster saat itu.

Perlombaan Jumlah Teman

Saat itu rasanya seru sekali memiliki jumlah teman hingga mencapai angka ribuan. Dengan beberapa teman kuliah saya semacam melakukan perlombaan dalam menambah jumlah teman.

Khususnya teman-teman berjenis kelamin perempuan dengan profil kece dan foto selfie yang menawan. Tingkat kegaulan seseorang dinilai dari banyaknya jumlah teman di Friendster.

Ternyata perilaku ini masih berlaku pada media sosial yang ada sekarang ini. Jumlah follower dijadikan sebagai patokan kepopuleran seseorang. Menambah jejaring pertemanan untuk meluaskan pergaulan.

Stalking Calon Gebetan

Hal ini masih berlaku juga kok di era media sosial sekarang. Karena begitu terkenalnya Friendster saat itu, dan hampir setiap anak gaul memiliki akun Friendster, maka aktifitas stalking atau mematai-matai cewek yang sedang menjadi inceran aman dilakukan.

Sebelum melakukan pedekate lebih lanjut melihat-lihat profil Friendster adalah sebuah keharusan. Jika profil Friendsternya keren maka akan semakin bersemangat untuk mengejar sang pujaan hati.

Namun jangan salah, Friendster juga memuaskan hasrat para penggemar rahasia memata-matai sang pujaan hati. Paling tidak kerinduan terhadap pujaan hati dan kepengecutan untuk mengungkapkan isi hati terakomodasi dengan baik oleh Friendster.

friendster_hipwee
Profil Sandra Dewi
Meeh kalo stalking Sandra Dewi sih macam pungguk merindukan bulan.

Utak-atik Profil

Keasyikan lainnya adalah mengutak-atik profil Friendster yang dimiliki. Mengganti background profil dengan gambar yang keren adalah sebuah keharusan.

Menambahkan animasi flash pada halaman profil bisa meningkatkan level kekerenan sebesar 75%. Mengganti foto profil dengan gaya paling alay adalah sebuah keharusan.

Tak hanya itu, meng-update deskripsi di halaman profile adalah sebuah keharusan. Saat itu saya begitu polos, tidak menyadari bakal adanya akun-akun dengan profil palsu.

Ngerjain Teman Melalui Bulletin dan Hacking Akun

Dulu ada fitur bulletin di Friendster. Fungsinya mirip seperti wall atau newsfeed miliki Facebook.

Untuk ngerjain seorang teman, biasanya saya membuat judul bulletin dengan menyangkut nama teman yang menjadi terget keusilan. Namun, saat itu jumlah feed yang muncul di bulletin dibatasi.

Momen bermain Friendster juga merupakan awal-awal persinggungan saya dengan dunia internet. Saat itu termhacking” nampak begitu keren. Sebagai anak alay penggiat Friendster maka aktifitas ngehacking akun seseorang menjadi keasyikan tersendiri.

Saat itu, akun profil Friendster rawan untuk di-inject script jahat untuk mengambil alih atau men-deface profile Friendster. Tapi untunglah saat itu akun Friendster belum terkoneksi dengan aktifitas  finansial.


Lebih kurang begitulah keasyikan ketika bermain Friendster jaman dulu yang tentu masih bisa dinikmati pada macam-macam media sosial yang ada sekarang. Friendster menjadi pionir dalam meletakkan batu pertama bangunan media sosial.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi ada beberapa hal yang menjadi penyebab kemunduran Friendster. Salah satu penyebab utamanya adalah perkembangan Facebook yang begitu pesat.

Saya pun saat itu merasakan Friendster mulai membosankan. Dari masa lebih kurang tiga tahun menggunakan Friendster saya merasakan pertumbuhan fitur Friendster yang stagnan. Saat itu Friendster hanya mengubah tata letak halaman profil. Sedangkan Facebook yang mulai menggeliat dengan cepat menyuntikkan fitur-fitur interaksi antar penggunanya dengan baik.

Mark Zuckerberg jeli melihat peluang bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi secara sosial. Salah satu inti bangunan media sosial adalah interaksi antar penggunanya, bukan semata-mata kekerenan halaman profil akun media sosial.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca artikel nostalgia ini. Lalu apakah kamu punya kenangan dan keasyikan tersendiri terhadap Friendster sang pionir media sosial di awal millenium ini?

Salam,
DiPtra


Featured images by Sidharth Bhatia on Unsplash

Tema Bulanan

Semenjak awal Mei lalu, tanpa saya sadari saya menerapkan tema bulanan yang ingin saya tuliskan di blog ini. Di Bulan Mei, saya sudah menuliskan secara rutin selama tiga puluh satu hari hal-hal yang berkaitan dengan mindfulness.

Bulan selanjutnya saya mencoba memfokuskan diri untuk menulis perihal bernafaskan spirit puasa. Rencana awalnya saya ingin menulis rutin setiap hari mengenai puasa Ramadhan seperti tahun lalu. Namun rupanya kemalasan menulis bersenyawa dengan kesibukan kerja membuat saya tertatih-tatih untuk menulis.

Belum lagi ketika kemuakan untuk menulis menghinggapi alam semangat saya. Rasanya saat itu saya pingin hiatus menulis selama satu bulan.

Namun rupanya ketika perlahan-lahan saya mulai membaca buku, hasrat untuk mulai menulis hadir kembali.

Menjelang akhir Ramadhan saya mulai menikmati interaksi dengan Al-Qur’an. Membaca tartil teks bahasa Arab Al-Qur’an sembari membaca terjemahannya setelah itu. Ternyata ada keasyikan tersendiri ketika mendalami terjemahan Al-Qur’an. Betapa selama ini saya hanya membaca Al-Qur’an tanpa memahami arti di belakangnya.

Saya tahu untuk menyelami kedalaman kandungan Al-Qur’an tidak cukup hanya bermodalkan terjemahan bahasa Indonesia. Tapi sebagai gerbang pembuka kecintaan terhadap pesan-pesan suci ilahi, paling tidak saya harus mengerti arti dalam bahasa Indonesia dari teks bahasa Arab yang disuguhkan di dalam Al-Qur’an.

Ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an itu saya perlahan-lahan menyesali waktu-waktu yang telah berlalu. Khususnya waktu yang ditelan tanpa sadar dan semena-mena oleh macam-macam media sosial.

Seiring dengan kesadaran akan media sosial ini, inginnya sih di bulan Juli ini saya mengetengahkan tema yang berkaitan dengan media sosial. Baru ada bayangan kasar apa saja yang hendak saya bahas berkaitan dengan media sosial di blog ini.

Memang pada beberapa tulisan yang telah lalu saya sesekali membahas tentang media sosial. Maka pada kesempatan kali ini, untuk tema bulanan saya mencoba mengetengahkan pengalaman selama menggunakan media sosial. Keuntungan dan kerugian yang dihasilkan oleh media sosial. Pandangan orang lain berkaitan dengan media sosial rasanya ingin saya ketengahkan dalam blog ini.

Mengingat distraksi yang dihadirkan oleh media sosial dalam kehidupan sehari-hari kita mulai terasa mengganggu. Tujuan pengambilan tema bulanan tentang fenomena media sosial ini bukan hendak memusuhi kehadiran media sosial. Namun lebih kepada self reminder agar lebih bijak dalam berinteraksi di media sosial.

Media sosial memang telah menjadi bagian dalam kehiduan kita. Rasanya agak mustahil jika harus benar-benar mencerabut media sosial dalam kehidupan. Selain itu media sosial tak melulu berdampak negatif, banyak orang yang memperoleh benefit secara materil maupun non meteril ketika berinteraksi dengan media sosial.

Media sosial bersifat netral, niat atau tujuan penggunanya lah yang menentukan arahnya. Masalahnya banyak orang menggunakan media sosial tanpa tujuan yang jelas, banyak yang hanya ikut-ikutan dan sekedar ingin eksis.

Selamat menikmati hujan di bulan Juli.

Salam.
DiPtra


Featured Images by Eric Rothermel on Unsplash

Demi Al-Baqarah

Di era millenial ini, siapa sih yang tidak memiliki akun Facebook atau media sosial lainnya..? Apalagi pada generasi Y dan Z yang lahir pada rentang tahun 1980-2000, kebanyakan pasti memiliki minimal satu akun media sosial.

Akan tetapi saya mendapati kenyataan bahwa salah seorang teman baik saya tidak memilik akun mendia sosial. Dari jaman Friendster memuncaki kelasemen permediasosialan, hingga media sosial didominasi oleh Facebook, tidak pernah saya temui jejak teman baik saya ini di ranah media sosial.

Saya penasaraan apa alasan yang melatarbelakangi keputusan teman baik saya ini tidak memiliki akun media sosial. Hingga suatu ketika, teman saya membeberkan alasannya tidak memiliki akun media sosial. Ketika itu, dia mengutarakan alasannya tidak memiliki akun media sosial adalah untuk menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Sebuah jawaban singkat yang mebutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Saat itu saya tidak mengetahui apa kaitan tidak memiliki akun media sosial dengan menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Ternyata ketika bermain media sosial, potensi godaan atas pandangan mata begitu intens. Di media sosial bertebaran foto-foto wanita cantik dengan alis simetris yang begitu mempesona.

Teman saya ini seorang lelaki tulen dengan seorang istri dan sudah memiliki anak. Adalah sebuah tindakan bijaksana ketika dia memutuskan tidak memiliki akun media sosial guna menjaga pandangan mata. Tanpa bermain media sosial pun, godaan pandang mata ini sudah begitu menjamur di sekeliling kita.

Seperti kisah Imam Syafi’i yang kehilangan sebagian hafalannya ketika tanpa sengaja melihat aurat wanita. Maka menjadi masuk akal ketika teman saya tidak memiliki akun media sosial dengan alasan menjaga pandangan mata.

Penjagaan atas pandangan mata ini sebagai sebentuk penjagaan atas hati. Pandangan mata yang tidak terjaga berpotensi mengeruhkan kejernihan hati. Keruhnya hati akan membuat hafalan Al-Qur’an mudah luntur.

Bila ditelisik lebih jauh, sesungguhnya teman baik saya ini tidak menyentuh dunia media sosial guna menghindari kesia-siaan. Kesia-siaan atas kemungkinan hilangnya hafalan surat Al-Baqarah karena pandangan yang tak terjaga.

Mungkin sebagian kita menganggap apa yang dilakukan oleh teman baik saya ini adalah sesuatu yang ekstrim. Kemudian mengajukan pernyataan-pernyataan bahwa media sosial itu banyak manfaatnya kok. Media sosial itu menambah pergaulan kok. Atau mungkin pernyataan tendensius bahwa dianya saja yang tidak bisa jaga pandangan.

Untuk pernyataan terakhir, maka saya akan menggunakan pernyataan terkenal dari Bang Napi, bahwa kejahatan bukan saja bisa terjadai karena ada niat, tapi juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah…! Wapadalah..!!

Salam..
DiPtra

Mengurangi Interaksi Media Sosial

Lebih kurang sebulan sudah interaksi saya dengan media sosial berkurang secara drastis. Bukannya dikejar-kejar penagih hutang ataupun penggemar, tapi tindakan saya ini dipengaruhi oleh pemikiran Cal Newport1 tentang media sosial.

Dalam banyak kesempatan, baik itu dalam bentuk tulisan maupun kuliahnya, Cal Newport memberikan saran untuk berhenti menggunakan Media Sosial.

Cal Newport adalah seorang penulis buku dan scientist di MIT. Hingga saat ini dia mengaku belum pernah memiliki akun media sosial.

Seperti tayangan Youtube Cal Newport pada acara TED di akhir tulisan ini, dia memaparkan berbagai argumen untuk berhenti menggunakana media sosial.

Akan tetapi, saya tidak menelan mentah-mentah saran dari Cal Newport. Tidak serta merta saya menghapus semua akun media sosial yang saya miliki. Saya hanya mengurangi interaksi dengan media sosial.

Menghapus aplikasi media sosial di handphone adalah langkah paling sederhana yang dapat saya lakukan untuk mengurangi interaksi di media sosial.

Lalu apakah dampak yang saya rasakan selama mengurangi interaksi denga media sosial?

Lebih kurang ada tiga hal yang saya rasakan ketika mengurangi interaksi dengan media sosial.
Hal yang pertama adalah, saya merasa lebih tenang. Selama ini secara langsung ataupun tidak, kegalauan kerap dipicu oleh informasi yang saya dapatkan dari media sosial.

Kedua, serasa ada waktu tambahan untuk mengerjakan hal lain. Alokasi waktu yang sebelumnya habis untuk bermain media sosial kini dapat saya isi dengan aktivitas lain.

Kudet atau kurang update terhadap informasi adalah hal ketiga yang saya rasakan. Saya jadi telat tahu mengenai berita apa yang sedang hangat dibahas oleh masyarakat.

Tapi walaupun telat mendapatkan update informasi, saya merasa biasa saja. Tak ada lagi FOMO yaitu, kekhawatiran ketinggalan berita.

Dan lagi, informasi yang sedang menjadi trending topic sering kali dibagikan dengan senang hati oleh teman-teman. Baik dibagikan dalam obrolan biasa maupun melalui aplikasi chatting.

Sekian pengalaman saya selama sebulan mengurangi penggunaan media sosial. Apakah kamu ingin mencoba mengurangi penggunaan media sosial, atau kamu merasakan banyak waktu terbuang sia-sia karena media sosial? Bisa deh kamu coba tips yang saya lakukan dalam tulisan ini.

Alis Tak Simetris

Di sela-sela makan siang di kantin bersama Mas Karso, terselip pembahasan mengenai media sosial. Mas Karso berkelakar bahwa hidupnya menjadi lebih tenang semenjak aplikasi Facebook hilang secara tak sengaja dari handphone-nya. Terlalu banyak hate speech korban politik katanya.

Hampir sama dangan yang saya alami, namun saya secara sengaja menghapus aplikasi Facebook dari handphone. Lebih ekstrim lagi, saya meng-unfollow semua yang ada di daftar pertemanan Facebook.

Walau tidak memasang aplikasi Facebook di handphone, sesekali saya masih mengaksesnya melalui browser di laptop. Jadi, ketika membuka Facebook dari browser, enggak peduli artis terkenal, artis abal-abal, anak alay, anak robot, hijaber cantik, hijaber cabe-cabean, mastah asli, mastah aspal, mastah penghisap darah newbie, ustadz beneran, ustadz karbitan semuanya saya babat habis. Saya unfollow dengan bantuan plugin script browser Google Chrome.

Akibatnya Newsfeed Facebook jadi sepi macam kuburan ditinggal mudik lebaran. Malah iklan-iklan dari Facebook keluar membanjiri newsfeed. Walaah podho ae tibake. Maka daripada dicekoki iklan melulu oleh Facebook, saya kembali memilih akun-akun yang oke untuk di-follow dari daftar pertemanan Facebook.

Terkait dengan urusan follow mem-follow ini, saya melalukukan kesalahan pada media sosial lain yang masih ada di bawah naungan Facebook, yaitu Instagram. Entah bagaimana ceritanya, di kolom suggestion Instagram muncul wajah-wajah bening tertutup hijab di foto avatar-nya.

Hmm, sebagai lelaki normal ini adalah godaan yang maha berat. Jempol dan akal menjadi tak sejalan. Jempol mejadi lebih patuh kepada hasrat untuk mem-follow akun-akun bening itu. Sekali kumat bisa lebih dari lima juta akun Instgram bening yang saya follow.

Lamat-lamat beranda Instagram saya dipenuhi akun-akun bening berhijab. Sorot mata teduh dan pakaian warna-warni yang menarik perhatian. Riasan wajah pun tak mau ketinggalan, tampil modis penuh gaya.

Alis kanan dan alis kiri memiliki ketebalan yang sama dan bentuk yang simetris. Kesimetrisan bentuk pinsil alis itu menambah keanggunan wajah yang memang sudah cantik dari sononya. Tapi kemudian saya mulai berfikir, jika alis yang asli perlu dipermak dengan alis pinsil, besar kemungkinan alis aslinya tipis dan segaris.

Selama bermain Instagram sesekali saya temui wanita dengan bentuk alis pinsil terlalu tebal, jadinya malah mirip alis Sinchan. Ada juga bentuk pinsil alis yang tak simetris. Antara alis kanan dan kiri entah tebal sebelah atau panjang sebelah. Tapi saya lebih sering menemui bentuk pinsil alis yang tak proporsional ketika jalan-jalan di mall. Tapi belum pernah menemui bentuk pinsil alis yang menutupi sepertiga jidat, haha.

Ahh betapa tren lukis alis ini begitu menjamur sekarang. Tutorial-tutorial make up bertebaran di Youtube. Membuat para wanita berlomba mempercantik diri untuk tampil di muka publik. Padahal kecantikan alami tanpa make up menurut saya lebih menarik. Kalaupun perlu ber-make up-ria tak perlu lah berlebihan.

Kembali kepada bahasan akun-akun bening berhijab di Instagram. Nah, saya cukup menyesal mem-follow akun-akun bening berhijab di Instagram. Mereka memang cantik mempesona tapi hanya bisa dilihat. Ini kan namanya ilusi. Semacam melakukan hal yang sia-sia.

Kebanyakan akun bening berhijab yang saya follow adalah brand ambassador atau pun meng-endorse sebuah produk. Jadi semacam kesia-siaan juga produk yang mereka rekomendasikan untuk saya, karena kebanyakan produk-produk untuk wanita.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka satu persatu saya unfollow massal akun-akun bening berhijab dari daftar pertemanan Instagram. Ternyata proses unfollow lebih lama daripada proses follow, karena membutuhkan konfirmasi ulang.

Alhamdulillah akun-akun bening berhijab beralis simeteris sudah kelar saya unfollow. Tak lama saya mengunggah sebuah doa’a di Instagram. Doa yang agak sedikit konyol sebenarnya. Tapi semoga dikabulkan, haha..

Sekian semoga menghibur..

Salam..
Dia yang sedang berlindung dari akun-akun instagram bening…

Kematian Perlahan Media Sosial

death-of-twitter-1death-of-twitter-2

Gambar di atas adalah ilustrasi metafora perjalanan media sosial karya Brad Colbow.1 Awalnya media sosial adalah tempat berkumpul di dunia maya yang seru. Tak lama berselang, tempat berkumpul itu menjadi semakin ramai.

Hukum pasar pun berlaku, di mana ada keramaian di situ ada peluang untuk mendulang uang. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar, namun jika pasar menjadi terlalu ramai, maka setiap orang saling berebut mencari perhatian agar lapaknya laku.

Maka terjadilah penawaran untuk beriklan dari pengelola media sosial agar dagangan di lapak bisa menarik perhatian banyak uang. Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa untuk berinteraksi menggunakan media sosial, tak perlu mengeluarkan biaya. Mungkin hanya perlu keluar biaya listrik dan pulsa internet.

Produk yang dijual oleh media sosial adalah database penggunanya. Dengan sasaran audiens yang lebih tertarget, maka pengguna media sosial adalah sasaran empuk bagi para pengiklan produk. Yaa, tanpa sadar data kita dijual oleh media sosial. Sebagian orang ada yang nyaman-nyaman saja ketika data mereka diperjualbelikan, sebagiannya lagi merasa risih.

Bahkan Path yang sebelumnya tidak menampilkan iklan di timeline-nya, kini mulai ikut-ikutan menampilkan iklan.

Saya termasuk golongan yang risih melihat gempuran iklan yang membanjiri media sosial. Apalagi tampilan iklan model pop up di website yang menutupi konten yang saya butuhkan. Atau mungkin kebanyakan orang tidak menyukai iklan..? Hmm entahlah.

Beberapa tahun yang lalu, Facebook masih belum mendominasi pasar media sosial. Saat itu, media sosial masih dikuasai oleh Friendster dan Myspace. Kemudian Friendster diserang oleh pasukan alay.

Akhirnya, banyak teman saya yang berpindah menggunakan Facebook dan Twitter. Kala itu Facebook dan Twitter masih belum menampilkan iklan. Tampilan newsfeed atau timeline kala itu masih mode sekuensial berurut waktu.

fb_2008
Tampilan Facebook tahun 2008 via telegraph.co.uk

Sekarang, hampir semua media sosial menggunakan mode algoritma engagement dalam menampilkan feed-nya. Jadi status update yang muncul di timeline kita yaa orangnya yang itu-itu saja.

Menilik beberapa media sosial yang sudah ditinggalkan penggunanya seperti MySpace, Friendster atau Plurk. Bahkan ada media sosial yang sudah tutup seperti Multiply. Maka dari itu, kurangnya hak pengelolaan penuh atas konten di media sosial, mendorong beberapa orang, termasuk saya, untuk menggulirkan blog.

Tidak menutup kemungkinan media sosial yang kini sedang berjaya akan menghentikan layanannya di waktu mendatang. Beberapa waktu yang lalu, Twitter menghentikan layanan video sharing miliknya, Vine.2

Jadi sudah waktunya untuk membangun blog sendiri.