Durasi Tidur yang Tercaplok Media Sosial

Begitulah kiranya, selepas pulang kerja badan menjadi lelah. Tentulah butuh hiburan sesaat sesampainya di kamar kosan. Tak ada televisi di kamar saya. Hiburan paling dekat dengan jangkaun tangan adalah smartphone.

Tak bisa dipungkiri, hubungan saya dengan smartphone ini boleh dibilang hubungan love and hate yang tiada akhirnya. Kadang bisa seharian mengakrabinya, kadang juga bosen banget menggunakannya. Perasaan bosen ini hadir kala waktu banyak teebuang tanpa disadari untuk bermeseraan dengan smartphone. Mungkin ini yang disebut dengan cinta buta.

Seenjak saya sudah berhenti menjadi seorang gamer maka kegiatan saya bersama smartphone tak jauh-jauh dari urusan bermain media sosial. Ada segitiga bermuda media sosial yang menjadi titik-titik porosnya. Jadi, maksud segitiga bermuda media sosial adalah berpindah-pindah dari satu aplikasi media sosial ke media sosial lainnya. Dari titik A ke titik B lalu ke titik C dan kembali lagi ke titik A, begitu seterusnya tanpa disadari waktu telah berlalu beberapa jam lamanya.

Sebagian mendefinisikan titik-titik poros itu dengan Facebook-Twitter-Path. Sebagiannya lagi Instagram-Snapchat-Facebook. Ada juga kombinasi Instagram-Tumblr-Wordpress. Kombiansi titik poros yang lain tentu masih ada.

Besesuaian dengan judul tulisan ini, akibat terjerumus dalam pusaran segitiga bermuda media sosial ini, konsekuensi yang sering saya alami adalah lupa waktu tidur. Karena keasyikan bermain media sosial di malam hari ujug-ujug saja tanpa terasa sudah mendekati dini hari. Parah.

Apalagi sejak beberapa hari yang lalu. Aplikasi Facebook kembali saya install dalam smartphone. Tak butuh waktu lama, Facebook kembali mengisi keseharian. Yak benar, sisa-sisa candu Facebook belum sepenuhnya hilang ternyata. Menyedihkan.

Awalnya saya mengira bakal imun dengan godaan Facebook. Ternyata oh ternyata tampilan antar muka Facebook di aplikasi smartphone semakin menawan. Jadilah scroll tanpa akhir di newsfeed Facebook menjadi keasyikan tersendiri.

Pentingnya Kesadaran

Salah satu pelajaran yang dapat saya sarikan dari berlatih mindfulness beberapa waktu lalu adalah peningkatan kesadaran atas aktifitas yang sedang dilakukan. Lebih kurang tiga hari saya merasa ada yang salah dengan aktifitas keseharian. Khususnya terkait dengan pemanfaatan waktu sehari-hari.

Waktu-waktu produktif saya mulai diambil alih kembali oleh media sosial, khususnya Facebook. Kesadaran terambilnya waktu-waktu produktif ini ketika saya mulai mendapati saya tidur sekitaran jam satu malam hanya demi mantengin timeline media sosial.

Akibatnya durasi waktu tidur saya menjadi berkurang. Karena di pagi harinya saya harus mulai melakukan aktifitas sehari-hari sebagai karyawan eight to five. Durasi tidur saya dicaplok oleh media sosial. Benar kiranya ketiak beraktifitas dengan smarphone sebelum tidur membuat rasa kantuk susah datang, dan saya mengalami sendiri hal ini.1

Pagi hari ketika sedang bekerja di kantor, otomatis rasa kantuk tak tertahankan menyertai. Pekerjaan yang harus diselesaikan, jadinya malah tak maksimal pengerjaannya.

Facebook atau media sosial bukanlah kambing hitam atas permasalahan ini. Masalahnya ada pada kemampuan saya dalam menentukan prioritas hal-hal yang seharusnya saya kerjakan. Kedua, saya belum sembuh benar dari kecanduan media sosial. Dengan kata lain, developer media sosial sukses membuat aplikasi yang membuat penggunanya kecanduan. Mereka suskses memasang pasung tak kasat mata pada leher-leher penggunanya agar terus menunduk menatap layar smarphone.

Dengan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri saya sendiri, maka dengan penuh keyakinan saya kembali menghapus aplikasi Facebook dari smartphone saya.

Pesan terakhir sekaligus penegas terhadap tulisan kali ini adalah, berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Tingkatkan kesadaran diri dalam menggunakannya. Media sosial memang dirancang sedemikian rupa agar menjadi candu bagi penggunanya.

Lalu apakah kamu punya tips sendiri berkaitan dengan cara mengatasi kacanduan media sosial? Silahkan dibagikan tipsnya di kolom komentar yaa.

Salam,
DiPtra

 


Featured images by Annie Spratt on Unsplash

Advertisements

Ngapain Dolan Media Sosial?

Kehadiran media sosial adalah kejelian developer penggiat internet dalam membidik kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi. Lebih kurang sudah satu dekade ini media sosial berkembang dengan begitu cepat.

Banyak bermunculan start up yang membuat wadah berupa media sosial. Beberapa sukses mendulang pengunjung atau pengguna aktif, namun banyak juga yang gagal tidak mendulang kehampaan, layu sebelum berkembang.

Bahkan perusahaan sekelas Google pun berulang kalo gagal membuat platform media sosial. Jadi bukanlah suatu jaminan jika perusahaan besar juga bakalan sukses bermain di ranah media sosial.

Dari beragam media sosial, baik yang masih eksis maupun sudah tutup usia, saya melihat kesamaan layanan. Berbagi informasi dalam bentuk apa pun. Mulai dari informasi yang bermanfaat sampai informasi receh penebar hoax.

Pendirian media sosial oleh start up teknologi sebenarnya memiliki tujuan yang hampir serupa, yaitu memonetisasi trafik pengunjung yang memggunakan layanannya. Cara paling umum untuk memonetisasi trafik adalah dengan menebar iklan sebagai media promosi produk.

Dari tujuan yang hampir seragam ketika start up teknologi membangun media sosial, mari kita sejenak mempertanyakan kepada diri kita sendiri apa tujuan kita bermain media sosial. Apakah lebih banyak mengandung manfaat atau malah berkubang dalam kesia-sian atas nama membunuh waktu.

Seperti kehadiran Friendster yang pertama kali, tak ada tujuan jelas ketika menggunakannya. Hanya untuk penampakan dalam memperkenalkan diri secara online. Begitu juga ketika kali pertama menggunakan Facebook, entahlah tak ada tujuan khusus dalam membuat akun.

Waktu berjalan, tujuan saya dalam penggunaan media sosial juga mengalami perubahan. Dulu ketika masih lajang dan Facebook belum diserang akun alay dan palsu, tuuan saya begitu sederhana, menebar jejaring pesona untuk menggait lawan jenis. Saya lelaki normal. Bukan hanya Facebook, hampir setiap ada media sosial baru muncul, saya sebisa mungkin membuat akunnya.

Kini, setelah tujuan utama bermain media sosial terpenuhi, pesona bermain media sosial memudar. Saya menikah, kemudian buat apa lagi menebar jejaring pesona di media sosial? Yang ada malah saya mulai sedikit demi sedikit mengurangi jejak data personal di media sosial.

Masa-masa saat tulisan ini saya torehkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya jika media sosial bakal berkembang seperti sekarang. Bahkan media sosial mulai menjadi kebutuhan pokok akan informasi kebanyakan orang. Menguasai hajat hidup orang banyak.

Entahlah, tulisan ini hanya berupa opini atas pengamatan pribadi. Bisa saja saya terlalu berlebihan dalam menilai pengaruh media sosial. Khususnya dalam hal penetrasi media sosial dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari.

Jadi, sebenarnya ngapain sih kita dolan media sosial?

Salam,
DiPtra

Mengenang Friendster

Memang Facebook saat ini adalah media sosial paling moncer. Namun pada tahun 2002, Facebook belumlah sesuatu yang memiliki eksistensi. Dunia internet barulah meggeliat. Saat itu, pergerakan pengguna media sosial diawali oleh Friendster yang merebak bak cendawan di musim penghujan.

Friendster adalah media sosial besutan Jonathan Abrams seorang programer berkebangsaan Kanada. Nama Friendster sendiri diambil dari utak-atik kata “friend” dan “Napster”, di mana Napster saat itu adalah situs peer-to-peer terpopuler untuk berbagi musik.

Saya sendiri mulai menggunakan Friendster sekitar tahun 2004. Navis, salah seorang teman kuliah saya menceritakan asiknya bermain Friendster. Membuat profil online agar dikenal di dunia maya. Friendsterlah yang menyulut jiwa narsis kebanyakan anak muda saat itu, termasuk saya.

Selain menyulut jiwa narsis yang menggelegak dalam usia muda, Friendster juga menyibak sisi-sisi alay yang saya miliki. Untunglah Friendster sudah tidak beroperasi sejak 14 Juni 2015. Jadi jejak-jejak kealayan generasi saya sudah terkubur.

http _mashable.com_wp-content_uploads_2014_01_Screen-Shot-2014-01-29-at-1.09.47-PM-640x298
Halaman depan Friendster via Mashable.com
Lantas apa saja sih kenangan keasyikan kala bermain Friendster sebelum dia meninggal? Berkut ini saya coba sajikan berdasarkan pengalaman pribadi, keseruan bermain Friendster saat itu.

Perlombaan Jumlah Teman

Saat itu rasanya seru sekali memiliki jumlah teman hingga mencapai angka ribuan. Dengan beberapa teman kuliah saya semacam melakukan perlombaan dalam menambah jumlah teman.

Khususnya teman-teman berjenis kelamin perempuan dengan profil kece dan foto selfie yang menawan. Tingkat kegaulan seseorang dinilai dari banyaknya jumlah teman di Friendster.

Ternyata perilaku ini masih berlaku pada media sosial yang ada sekarang ini. Jumlah follower dijadikan sebagai patokan kepopuleran seseorang. Menambah jejaring pertemanan untuk meluaskan pergaulan.

Stalking Calon Gebetan

Hal ini masih berlaku juga kok di era media sosial sekarang. Karena begitu terkenalnya Friendster saat itu, dan hampir setiap anak gaul memiliki akun Friendster, maka aktifitas stalking atau mematai-matai cewek yang sedang menjadi inceran aman dilakukan.

Sebelum melakukan pedekate lebih lanjut melihat-lihat profil Friendster adalah sebuah keharusan. Jika profil Friendsternya keren maka akan semakin bersemangat untuk mengejar sang pujaan hati.

Namun jangan salah, Friendster juga memuaskan hasrat para penggemar rahasia memata-matai sang pujaan hati. Paling tidak kerinduan terhadap pujaan hati dan kepengecutan untuk mengungkapkan isi hati terakomodasi dengan baik oleh Friendster.

friendster_hipwee
Profil Sandra Dewi
Meeh kalo stalking Sandra Dewi sih macam pungguk merindukan bulan.

Utak-atik Profil

Keasyikan lainnya adalah mengutak-atik profil Friendster yang dimiliki. Mengganti background profil dengan gambar yang keren adalah sebuah keharusan.

Menambahkan animasi flash pada halaman profil bisa meningkatkan level kekerenan sebesar 75%. Mengganti foto profil dengan gaya paling alay adalah sebuah keharusan.

Tak hanya itu, meng-update deskripsi di halaman profile adalah sebuah keharusan. Saat itu saya begitu polos, tidak menyadari bakal adanya akun-akun dengan profil palsu.

Ngerjain Teman Melalui Bulletin dan Hacking Akun

Dulu ada fitur bulletin di Friendster. Fungsinya mirip seperti wall atau newsfeed miliki Facebook.

Untuk ngerjain seorang teman, biasanya saya membuat judul bulletin dengan menyangkut nama teman yang menjadi terget keusilan. Namun, saat itu jumlah feed yang muncul di bulletin dibatasi.

Momen bermain Friendster juga merupakan awal-awal persinggungan saya dengan dunia internet. Saat itu termhacking” nampak begitu keren. Sebagai anak alay penggiat Friendster maka aktifitas ngehacking akun seseorang menjadi keasyikan tersendiri.

Saat itu, akun profil Friendster rawan untuk di-inject script jahat untuk mengambil alih atau men-deface profile Friendster. Tapi untunglah saat itu akun Friendster belum terkoneksi dengan aktifitas  finansial.


Lebih kurang begitulah keasyikan ketika bermain Friendster jaman dulu yang tentu masih bisa dinikmati pada macam-macam media sosial yang ada sekarang. Friendster menjadi pionir dalam meletakkan batu pertama bangunan media sosial.

Berdasarkan pengamatan saya pribadi ada beberapa hal yang menjadi penyebab kemunduran Friendster. Salah satu penyebab utamanya adalah perkembangan Facebook yang begitu pesat.

Saya pun saat itu merasakan Friendster mulai membosankan. Dari masa lebih kurang tiga tahun menggunakan Friendster saya merasakan pertumbuhan fitur Friendster yang stagnan. Saat itu Friendster hanya mengubah tata letak halaman profil. Sedangkan Facebook yang mulai menggeliat dengan cepat menyuntikkan fitur-fitur interaksi antar penggunanya dengan baik.

Mark Zuckerberg jeli melihat peluang bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah berinteraksi secara sosial. Salah satu inti bangunan media sosial adalah interaksi antar penggunanya, bukan semata-mata kekerenan halaman profil akun media sosial.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca artikel nostalgia ini. Lalu apakah kamu punya kenangan dan keasyikan tersendiri terhadap Friendster sang pionir media sosial di awal millenium ini?

Salam,
DiPtra


Featured images by Sidharth Bhatia on Unsplash