Durasi Tidur yang Tercaplok Media Sosial

Begitulah kiranya, selepas pulang kerja badan menjadi lelah. Tentulah butuh hiburan sesaat sesampainya di kamar kosan. Tak ada televisi di kamar saya. Hiburan paling dekat dengan jangkaun tangan adalah smartphone.

Tak bisa dipungkiri, hubungan saya dengan smartphone ini boleh dibilang hubungan love and hate yang tiada akhirnya. Kadang bisa seharian mengakrabinya, kadang juga bosen banget menggunakannya. Perasaan bosen ini hadir kala waktu banyak teebuang tanpa disadari untuk bermeseraan dengan smartphone. Mungkin ini yang disebut dengan cinta buta.

Seenjak saya sudah berhenti menjadi seorang gamer maka kegiatan saya bersama smartphone tak jauh-jauh dari urusan bermain media sosial. Ada segitiga bermuda media sosial yang menjadi titik-titik porosnya. Jadi, maksud segitiga bermuda media sosial adalah berpindah-pindah dari satu aplikasi media sosial ke media sosial lainnya. Dari titik A ke titik B lalu ke titik C dan kembali lagi ke titik A, begitu seterusnya tanpa disadari waktu telah berlalu beberapa jam lamanya.

Sebagian mendefinisikan titik-titik poros itu dengan Facebook-Twitter-Path. Sebagiannya lagi Instagram-Snapchat-Facebook. Ada juga kombinasi Instagram-Tumblr-Wordpress. Kombiansi titik poros yang lain tentu masih ada.

Besesuaian dengan judul tulisan ini, akibat terjerumus dalam pusaran segitiga bermuda media sosial ini, konsekuensi yang sering saya alami adalah lupa waktu tidur. Karena keasyikan bermain media sosial di malam hari ujug-ujug saja tanpa terasa sudah mendekati dini hari. Parah.

Apalagi sejak beberapa hari yang lalu. Aplikasi Facebook kembali saya install dalam smartphone. Tak butuh waktu lama, Facebook kembali mengisi keseharian. Yak benar, sisa-sisa candu Facebook belum sepenuhnya hilang ternyata. Menyedihkan.

Awalnya saya mengira bakal imun dengan godaan Facebook. Ternyata oh ternyata tampilan antar muka Facebook di aplikasi smartphone semakin menawan. Jadilah scroll tanpa akhir di newsfeed Facebook menjadi keasyikan tersendiri.

Pentingnya Kesadaran

Salah satu pelajaran yang dapat saya sarikan dari berlatih mindfulness beberapa waktu lalu adalah peningkatan kesadaran atas aktifitas yang sedang dilakukan. Lebih kurang tiga hari saya merasa ada yang salah dengan aktifitas keseharian. Khususnya terkait dengan pemanfaatan waktu sehari-hari.

Waktu-waktu produktif saya mulai diambil alih kembali oleh media sosial, khususnya Facebook. Kesadaran terambilnya waktu-waktu produktif ini ketika saya mulai mendapati saya tidur sekitaran jam satu malam hanya demi mantengin timeline media sosial.

Akibatnya durasi waktu tidur saya menjadi berkurang. Karena di pagi harinya saya harus mulai melakukan aktifitas sehari-hari sebagai karyawan eight to five. Durasi tidur saya dicaplok oleh media sosial. Benar kiranya ketiak beraktifitas dengan smarphone sebelum tidur membuat rasa kantuk susah datang, dan saya mengalami sendiri hal ini.1

Pagi hari ketika sedang bekerja di kantor, otomatis rasa kantuk tak tertahankan menyertai. Pekerjaan yang harus diselesaikan, jadinya malah tak maksimal pengerjaannya.

Facebook atau media sosial bukanlah kambing hitam atas permasalahan ini. Masalahnya ada pada kemampuan saya dalam menentukan prioritas hal-hal yang seharusnya saya kerjakan. Kedua, saya belum sembuh benar dari kecanduan media sosial. Dengan kata lain, developer media sosial sukses membuat aplikasi yang membuat penggunanya kecanduan. Mereka suskses memasang pasung tak kasat mata pada leher-leher penggunanya agar terus menunduk menatap layar smarphone.

Dengan menyadari apa yang sedang terjadi pada diri saya sendiri, maka dengan penuh keyakinan saya kembali menghapus aplikasi Facebook dari smartphone saya.

Pesan terakhir sekaligus penegas terhadap tulisan kali ini adalah, berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial. Tingkatkan kesadaran diri dalam menggunakannya. Media sosial memang dirancang sedemikian rupa agar menjadi candu bagi penggunanya.

Lalu apakah kamu punya tips sendiri berkaitan dengan cara mengatasi kacanduan media sosial? Silahkan dibagikan tipsnya di kolom komentar yaa.

Salam,
DiPtra

 


Featured images by Annie Spratt on Unsplash

Advertisements

Esensi Membaca

IMG_5669

Beberapa pekan lalu ada event  bazar buku yang dilangsungkan dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Ada Islamic Book Fair dan Big Bad Wolf Book Sale yang menyajikan buku-buku berkualitas kepada masyarakat.

Dulu saya gemar mendatangi event-event pameran buku semacam ini. Namun belakangan ini tidak. Terakhir, saya mendatangi event Islamic Book Fair di bilangan Senayan Jakarta beberapa tahun lalu.

Manusia menyemut, memadati tiap-tiap stand penjual buku. Bahkan untuk bergerak saja sulit. Bagi saya, membeli dan berburu buku dalam kondisi terlalu ramai dan penuh sesak terasa kurang nyaman.

Sejak saat itu, saya tidak lagi mendatangi event bazar buku hingga saat ini. Rutinitas membeli buku pun juga saya kurangi. Saya mulai memikirkan efek dari aktivitas membaca yang saya lakukan selama ini.

Sering kali ketergesaan membaca dalam rangka menamatkan sebuah buku membuat saya kurang menikmati apa yang sedang saya baca. Saya mulai mempertanyakan apa esensi membaca, baik itu membaca buku atau pun artikel online.

Poin ke lima dari tulisan Milena di Medium1, cukup beresonansi dengan apa yang saya rasakan terkait esensi dari membaca. Bahwa selama ini saya merasa tergila-gila mencari hal baru yang menarik dari apa yang saya baca. Ketika menyelesaikan suatu bacaan yang menarik dan menerima pesan yang disampaikan tak lama kemudian saya mencari-cari lagi bacaan yang lebih menarik. Apa yang saya rasakan ini semacam kehausan intelektual tak berujung.

Hal ini saya rasakan ketika membaca banyak sekali tips-tips menarik dalam artikel. Berpindah dari satu artikel ke artikel lainnya. Berpindah dari artikel motivasi ke artikel motivasi lainnya. Berpindah dari satu novel ke novel lainnya.

Tapi kemudian saya mempertanyakan apakah saya sudah merenungkan dengan tenang apa yang sudah saya baca? Apakah saya sudah mengimplementasikan segudang tips-tips menarik dari artikel atau buku yang sudah saya baca? Ataukah hasrat banyak membaca ini hanya sebentuk kompulsif terhadap pengetahuan? Sangat mungkin banyak-banyakan membaca ini menjadi semacam perlombaan tanpa disadari.

Praktik, praktik, praktik inilah hal yang ingin saya garis bawahi. Kurangnya praktik dari apa–apa yang sudah saya baca. Jadi, untuk saat ini esensi membaca bagi saya adalah mendapatkan sudut pandang baru dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, menuliskan mindfulnote dalam blog ini adalah sebentuk pengimplementasian dari buku Zen Habits: Mastering The Art of Change yang sedang saya baca.

Frantic reading makes us encounter an interesting idea, saying: “Hmm, this is interesting,” and move on in the search of next shiny solution for our problems. However, when we read slowly, carefully, when we highlight, contemplate on what we’ve read, when we try the ideas from the books ourselves, that’s when the books have the biggest potential to transform us.

Salam..
DiPtra

Mindfulnote

Dari buku Zen Habits: Mastering The Art of Change, Leo Babauta menyarankan untuk mengambil satu habit atau kebiasaan yang ingin dicapai. Dari beberapa contoh habit yang dia tawarkan untuk dibiasakan, saya memilih habit berlatih mindfulness. Karena berlatih mindfulness merupakan fondasi yang kuat untuk mencapai kebiasaan-kebiasaan lain yang diinginkan.

Secara sederhana, berlatih mindfulness adalah berlatih mengamati pergerakan pikiran dengan cara memfokuskan diri pada aliran nafas. Dengan kata lain, mindfulness adalah seni untuk mengelola pikiran. Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari latihan mindfulness, salah satunya adalah bisa meredakan stres.

Untuk mengingatkan saya agar berlatih mindfulness di pagi hari, maka saya memasang wallpaper bertuliskan “Just Breath” di  handphoneWallpaper yang saya pasang di handphone  saya adalah sebagai berikut.

Just Breath Wallpaper

Pada bab 10 buku Zen Habits: Mastering The Art of Change, salah satu tugas yang harus dilakukan adalah membuat jurnal harian tentang perkembangan habit yang ingin dicapai. Lebih baik lagi jika jurnal harian yang dibuat, dituangkan kedalam media blog dan diketahui orang banyak.

Tujuan membuat jurnal secara online atau blog adalah untuk membangun akuntabilitas. Dengan membuat pernyataan dan laporan perkembangan secara online, maka mau tidak mau kita akan terpicu untuk mempertahankan kebiasaan baik yang sedang ingin kita capai.

Pada mulanya, Leo Babauta membuat blog Zen Habits dengan tujuan sebagai jurnal online tentang perkembangan habitnya. Selain itu, dia juga berbagi tentang bagaimana cara merubah kebiasaan dan menyederhanakan hidup. Selama ini, Leo juga menyarankan pembaca blognya untuk membuat blog mengenai kebiasaan yang ingin mereka capai.

Berdasarkan pemikiran itulah, saya memberanikan diri untuk membuat jurnal online tentang perkembangan kebiasaan yang ingin saya capai, yaitu berlatih mindfulness. Sebenarnya sudah 15 hari ini saya rutin berlatih mindfulness. Tentang waktu yang saya tetapkan untuk berlatih mindfulness adalah sekitar jam 6 pagi.

Oh iya mengenai bagaimana metode latihan mindfulness yang saya lakukan selama beberapa hari ini akan saya ceritakan pada jurnal esok hari. Satu hal yang pasti, hasil latihan mindfulness hari ini adalah perenungan kembali motivasi awal membuat blog ini, yaitu berbagi pengalman seputar gaya hidup minimalis.

Untuk selanjutnya, saya ingin kembali menulis secara lebih sistematis dan rutin mengenai gaya hidup minimalis. Mengingat tagline blog ini kembali mengusung tentang gaya hidup minimalis. Semoga dimudahkan jalannya menuliskan tentang hal ini.

salam..
DiPtra

Alasan-Alasan Menggunakan Mapping Domain pada WordPress.com

Sambil menanti propagasi1 name server kelar, ada baiknya saya nulis tentang alasan-alasan menggunakan mapping domain pada WordPress.com. Karena beberapa waktu yang lalu saya kepikiran untuk memindahkan konten di hosting server lama. Saya ingin menggunakan subdomain yang sudah saya gunakan di WordPress.com terhubung dengan domain yang sudah saya miliki..

Ada beberapa alasan yang membuat saya pingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com. Selama ini menggunakan beberapa hosting lokal, bahkan sempat nyobain platform Ghost dengan mengorbankan tulisan-tulisan di tahun 2015-2016. Demi percobaan pindah paltform, tulisan saya amblas , lebih tepatnya sih bukan amblas yaa, tapi lebih ke males repost ke blog wordpress lagi.

Oke paling tidak ada 4 alasan yang membuat saya ingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com, antara lain:

1. Plugin Jetpack

Plugin Jetpack yang berfungsi untuk menghubungkan selfhosted WordPress dengan WordPress.com sering kali ngadat. Mungkin karena koneksi antara hosting yang saya sewa dengan plugin Jetpack kurang bagus.

Selain itu, traffic dan komentator blog ini kebanyakan berasal dari wordpress.com. Mapping domani sebagai sarana mempermudah proses interaksi.

2. Hosting

Ongkos sewa hosting yang selama ini saya pakai, lebih mahal daripada ongkos mapping domain. Memang dengan menggunakan hosting sendiri, akan lebih bebas dalam pengaturannya. Namun, dengan harga yang lebih murah, fitur mapping domain dari wordpress.com saya rasa lebih baik. Sebagai contoh, dengan menggunakan mapping domain makan kita akan mendapatkan space sebesar 3GB. Sedangkan dengan harga yang lebih kurang sama di hosting lokal yang saya gunakan, saya hanya mendapat space 500MB

Selain itu kecepatan akses server dengan menggunakan fitur mapping domain lebih cepat. Terutama jika saya akses wordpress dari aplikasi. Ketika masih menggunakan hosting sendiri, jika mengakses blog dari aplikasi terasa sekali lambatnya.

3. Kepraktisan

Dengan meggunakan mapping domain, maka urusan install wordpress di hosting, perawatan hosting, otomatis tidak saya alami. Belum lagi kalau hosting tiba-tiba down huehue menangislah saya.

Selain itu kebutuhan saya saat ini hanya ingin ngeblog dengan menggunakan TLD. Saya membutuhkan kepraktisan yang ditawarkan oleh wordpress.com2

4. Backup

Urusan backup sebenarnya bisa dilakukan di hosting sendiri, namun ini relatif ribet. Selain itu, saya ingin menghindari kekhilafan. Misalkan saya khilaf untuk memperpanjang sewa hosting atau domain, maka tulisan-tulisan yang pernah saya buat akan tetap ada di wordpress.com. Tulisan saya akan tetap ada di subdomain wordpress.com3 yang saya mapping ke diptra.com.

Memang sih bakal ada kelemahan ketika menggunakan mapping4 domain. Karena saya hanya menggunakan fitur mapping domain maka akan muncul iklan jika blog saya dibuka melalui browser. Tapi jika dibuka melalui aplikasi wordpress.com, iklan tidak akan muncul.

Kebebasan untuk meng-install plugin dan custom themes juga menjadi sebuah keterbatasan. Khususnya untuk themes yang tidak tersedia di wordpress.com. Tapi hal ini tidak menjadi masalah karena free themes yang disediakan oleh wordpress.com sekaran sudah relatif bagus dan sesuai kebutuhan saya.

Oh iya berikut ini pricing atau daftar harga yang ditawarkan oleh wordpress.com ketika kita ingin meng-upgrade layanan..

cutom domain
pricing layanan wordpress.com

Loh kok tidak ada fitur mapping domain dari gambar layanan di atas..? Iya nampaknya WordPress.com menyembunyikan fitur mapping domain pada daftar harga layanannya. Padahal, sebelumnya fitur mapping domain ini secara default tersedia pada daftar layanan yang ditawarkan. Bahkan, dulu sekali fitur mapping domain ini gratis.

Saya sudah mencari dan menelisik link-link yang ada di wordpress.com guna mencari fitur mapping domain ini, dan tidak ketemu juga. Membaca help di forum pun tidak saya temukan. Namun dengan sedikit trik yang lumayan ehem-ehem akhirnya saya menemukan secara tidak sengaja fitur mapping domain yang dihilangkan ini.

Nampaknya, wordpress.com sengaja mengarahkan user yang ingin meng-upgrade layanannya agar menggunakan fitur Personal ataupun Premium. Padalah untuk layananmapping domain ini hanya membutuhkan biaya sebesar 13 USD per tahun.

Lantas bagaimanakah trik ehem-ehem yang saya lakukan sehingga menemukan juga fitur mapping domain yang hilang ini..?

Hmmm sudah malam, saya harus pulang. Karena sejak laptop saya rusak, saya ngeblog menggunakan notebook kantor. heuhehueh dasar enggak professional.

Salam..
Dia si manusia tengil


  1. Propagasi domain adalah waktu yang diperlukan sebuah domain untuk tersambung dengan server hosting. Masa propagasi ini bervariasi, mulai dalam hitungan menit maupun hari. Biasanya Domain Propagation Period dapat berlangsung 1×24 jam. Tetapi kadang bisa mencapai 1×48 jam tergantung ISP yang digunakan. 
  2. https://wordpress.com/com-vs-org/ 
  3. subdomain wordpress.com yang saya mapping adalah https://artpid.wordpress.com 
  4. Mapping domain adalah mengarahakan suatu domain menuju server hosting yang sudah ditentukan sebelumnya 

Bye ThinkPad

Sedih..? Pastinya. Notebook Lenovo ThinkPad seri Edge 120 yang sehari-hari saya gunakan akhirnya menemui ajalnya. Notebook 11,6 inch berwana hitam yang saya beli bulan Oktober tahun 2011. Layarnya tidak mau menyala.

Mungkin karena engsel sebelah kiri notebook ini agak sedikit somplak. Baut penguat engselnya sudah tidak bekerja dengan baik. Jadinya ketika layar monitor dibuka, engsel sebelah kiri yang somplak itu mengaga. Bisa jadi ada kabel putus di jalur kabel yang melewati engsel somplak itu.

Dari segi fitur, notebook ini sudah ketinggalan jaman. Belum lagi bobotnya yang lumayan berat, berasa antep waktu ditenteng dalam tas ransel. Tapi, walau sudah masuk kedalam golongan udzur, notebook ini masih kuat untuk diajak berlari dan menari lincah menulis kata-kata. Tapi kalo diajakin bermain game berat dari sisi grafis, maka notebook ini akan dengan cepat mengalami dehidrasi kecepatan berhitung secara grafis. Modar istilahku sing aneh-aneh metu.

Dari hasil evaluasi penggunaan notebook selama ini, saya menarik kesimpulan bahawa saya sebenarnya tidak membutuhkan laptop. Akan tetapi yang saya butuhkan adalah belaian kasih sayang all in one desktop computer (AIO PC). AIO PC adalah PC Desktop dengan desain monitor dan CPU yang menjadi satu. Desain AIO PC Desktop nampak ringkas dan tidak memakan tempat dalam ruangan

Contoh AIO PC Desktop source Dell.com
Selama masa baktinya, notebook ini sangat jarang sekali saya bawa jalan-jalan. Jadi fitur utama notebook yang seharusnya luwes untuk mobile kesana-kemari tidak maksimal. Padahal, di awal membeli notebook ini saya beharap bakal sering jalan-jalan sambil menenteng notebook, melakukan aktivitas bersama notebook sambil ngupi-ngupi gitulah. Apa hendak di kata, ternyata saya merasa kurang praktis dan nyaman menenteng notebook kemana-mana.

Saya lebih merasa nyaman mengerjakan aktivitas bersama notebook di dalam kamar kosan. Merasa lebih fokus daripada melakukan akivitas bersama notebook di area publik.

Bisa jadi notebook ini tidak akan saya servis agar bisa berfungsi lagi. Untuk urusan ngeblog dan browsing informasi di internet, maka sementara ini saya mengandalkan notebook fasilitas dari kantor saja. Selain itu saya ingin memfungsikan kamar kosan benar-benar hanya untuk istirahat dan membaca buku.

Mengurangi kuantitas paparan layar elektronik dalam keseharian. Karena dari pagi hingga sore, bahkan malam, pekerjaan saya mau tidak mau mengaruskan saya terpapar oleh radiasi layar monitor secara intens. Masak sih waktu untuk istirahat di rumah masih mau terganggu dan terpapar oleh layar monitor..?

Memfungsikan kembali kamar sebagai tempat beristirahat.

Salam…
DiPtra

Secede

Sering kali saya temui fase menepi, baik secara suka rela maupun terpaksa, yang dialami oleh tokoh-tokoh terkenal. Contoh yang paling terkenal adalah kisah Kanjeng Nabi Muhammad ketika menepi dari keriuhan kota Makkah. Beliau menepi di gua Hiro hingga momen terkenal itu terjadi. Momen ketika beliau didaulat menjadi pengemban mandat penyampai risalah keesaan melalui perantara Malaikat Jibril.

Syekh Abdul Qodir Jailani sebelum memasuki kota Baghdad juga mengalami fase menepi. Menepi untuk pematangan lahir dan batin sebelum memasuki area dakwah di kota Baghdad.

Buya Hamka pun dipaksa untuk menepi. Sebuah keterpaksaan atas fitnah keji. Fase menepi Buya Hamka ini menghasilkan karya fenomenal tafsir Al-Qur’an 30 juz yang dikenal dengan tafsir Al-Azhar.

Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno, pun kenyang mengalami fase pengasingan. Justru dalam pengasingan semangat juangnya untuk nusantara semakin bergelora.

Muhammad Ainun Nadjib juga memilih jalan sunyi. Sebuah langkah menepi dari hiruk pikuk media. Beliau fokus menyatukan hati-hati manusia Indonesia dalam nuansa cinta.

Sama halnya dengan Ustadz Yusuf Mansur, beliau juga dipaksa menepi di balik jeruji penjara selama beberapa waktu hingga datang cahaya hidayah untuk melanjutkan dakwah.

Dalam kisah pewayangan pun juga terjadi hal yang sama. Kisah Gatotkaca dilemparkan kedalam kawah Candradimuka untuk meningkatkan level kesaktian adalah sebentuk fase menepi. Begitu keluar dari kawah Candradimuka, Gatotkaca menjadi kesatria sakti tanpa tanding di palaga Baratayudha.

Fase menepi merupakan sebentuk fase untuk mengakrabi keheningan1. Sebuah fase untuk meningkatkan kapasitas diri. Fase untuk memperjelas suara hati nurani. Fase terpenting untuk menguatkan tekad.

Maka dari itu, menyediakan waktu untuk menepi guna meningkatkan kapasitas diri adalah sebuah keniscayaan.

vale est tempus secede…

Megakrabi Keheningan

Pilkada DKI sudah selesai, tapi residu pembakarannya masih ada. Residu berupa caci maki, kebencian, ejekan yang kesemuanya sudah memasuki tahap berlebihan. Terlalu hitam-putih ketika menyikapi politik. Bukankah lebih enak jika memandang politik merupakan gabungan rentang warna yang tiada hingga. Keriuhan politik yang peluit kick-off nya dimulai sejak 2014 atau mungkin sebelum itu.

Beneran berat banget menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai Pilkada DKI di media sosial. Gempuran broadcast dari di Whatsapp pun sudah membuah pikiran saya kenyang tentang Pilkada DKI ini.

Setelah tanggal 19 April, semoga ketegangannya mereda. Kembali lagi kerja. Kembali lagi produktif. Tidak kembali lagi nyinyir. Bahkan nyinyir dalam balutan kesantunan malah semakin nampak memuakkan. Apakah ini sebentuk kesantunan yang dibuat-buat..? Emboh.

Entah klimaks atau antiklimaks putaran kedua Pilkada DKI periode ini. Semoga Jakarta tetap aman, pembangunan manusia dan fasilitas umumnya tetap berjalan. Cukup lah yaa menyuarakan unek-uneknya atas keriuhan selama beberapa bulan ini.

Karena menahan diri untuk tidak melontarkan komentar di media internet sepanjang Pilkada DKI ini, saya berlatih untuk diam. Diam untuk lebih memaknai keheningan. Berusaha memasukkan hati dan pikiran dalam area-area keheningan. Mengurangi interaksi di media sosial adalah salah satu hal yang saya lakukan1. Mengurangi gempuran berita-berita seputar pilkada DKI yang bersumber dari media sosial.

Ternyata dalam keheningan saya menemukan ketenangan. Sesuatu yang adem di dalam hati. Ya, mengakrabi keheningan untuk mendengarkan kejelasan suara hati.

Mengakrabi keheningan juga berarti memperbanyak diam. Saya teringat akan kisah seoarang arifin yang semakin memperbanyak diam di usia senjanya. Murid beliau entah sudah ribuan atau bahkan sudah berbilang jutaan. Tiap orang yang sowan ke kediaman beliau tak banyak diberi nasihat. Beliau malah lebih banyak mendengarkan keluh kesah para tamunya. Hanya membalas sepatah dua patah kalimat. Bagaikan lautan teduh yang mampu menerima segala apa yang dilemparkan kepadanya dan mengembalikan kepada pelemparnya berupa mutiara.

Padahal di masa mudanya, beliau terkenal alim dan zuhud. Pandai dan fasih dalam berorasi dengan alur logika yang jernih. Namun di usia senjanya, dengan ilmu yang mumpuni beliau malah lebih banyak memilih diam. Diam dalam dzikir-dzikirnya yang daim.

Tak seperti saya yang baru tau sedikit sudah banyak omong dan sering lupa berdzikir. Sudah kemrungsung tergesa-gesa memberikan nasihat. Ilmu baru serupa zarah sudah ingin menerjemahkan luasnya lautan. Pemikiran inilah yang sesekali menerbitkan ketakutan untuk menulis dan berbagi melalu blog sederhana ini2.

Apalagi semenjak mendapat 3 reminder berturut-turut dalam sepekan yang menguji keikhlasan. Khususnya keikhlasan dalam menyampaikan pemahaman dan apa yang diketahui. Seolah-olah ingin menyingkir saja, memendam pemahaman untuk diri sendiri.

Mengakrabi keheningan untuk lebih memahami lagi apa-apa yang harus dibagikan dan apa-apa yang harus disimpan untuk diri sendiri. Lebih memilah dan memilih lagi hal-hal yang esensial untuk disampaikan.

Berikut ini ada kutipan menarik dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani…

Pandai berkata-kata tanpa disertai amalan kalbu tak akan berarti apa-apa. Perjalanan sejati adalah perjalanan kalbu dan perbuatan hakiki adalah perbuatan yang punya arti. Hal ini harus dilakukan dengan jiwa raga tetap memerhatikan batas-batas hukum Allah seraya kalbu tetap merendah di hadapan-Nya.

Barangsiapa membuat timbangan bagi dirinya sendiri, ia tidaklah memiliki timbangan. Memperlihatkan amal di hadapan orang lain sama saja dengan tidak beramal apa-apa. Sebaiknya, kebaikan disembunyikan. Jangan perlihatkan kecuali amal wajib yang harus terlihat orang banyak.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sekian nasihat untuk diri sendiri ini, semoga bermanfaat untuk semuanya…

Salam..
DiPtra

Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Lebih kurang kalimat-kalimat seperti itulah yang terlintas di benak saya ketika berjalan menuju kantor, melihat lalu-lalang kendaraan.

Selftalk yang saya lakukan tadi, menjadi semacam pengingat terhadap diri sendiri. Pengingat bahwa dalam menjalani hidup minimalis tak perlu melihat keluar diri, melihat orang lain.

Aseliii laah ini saya alami, ketika mulai menerapkan ide-ide tentang hidup minimalis yang sudah dipelajari, ada gelitikan nakal untuk memberikan penilaian terhadap hidup orang lain. Penilaian bahwa seseorang masih terlalu berlebihan dalam menjalani hidupnya. Padahal yaa belum tentu juga karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda.

Penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang berada di luar diri, ternyata malah mengaburkan suara-suara untuk mengoreksi apa-apa yang berada di dalam diri. Lupa bahwa mempraktekkan hidup minimalis adalah sebuah cara untuk menggali kebahagiaan dari dalam diri.

Continue reading “Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri”

Sedikit Tentang Keseimbangan

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu mencari titik keseimbangannya. Bumi berputar pada porosnya adalah sebentuk usaha mencapai keseimbangan akibat gaya gravitasi antara bumi dan matahari. Bahkan gunung meletus pun termasuk sebentuk penjagaan alam terhadap keseimbangan ekosistem bumi.

Begitu juga halnya dengan perilaku dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam proses ekonomi, setiap waktu selalu terjadi proses pencarian keseimbangan antara kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal yang merupakan aktivitas utama perekonomian.

Sejak era revolusi industri bergulir, barang hasil produksi jadi melimpah. Dengan berlimpahnya kapasitas produksi suatu produk, mendorong peningkatan proses distribusi kepada konsumen. Salah satu unsur distribusi barang hasil produksi kepada konsumen adalah advertising atau pariwara.

Sayangnya sering saya dapati pariwara yang mencitrakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi seolah-olah sesuatu yang urgent. Contohnya iklan pemutih wajah, karena sawo matang itu lebih eksotis, halah.

Proses produksi yang  melimpah dan ekspansi aktivitas distribusi yang masif ternyata mampu merubah perilaku masyarakat menjadi konsumtif, konsumsi berlebihan.

Seperti obrolan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus dalam teaser film Minimalism: A Documentary About the Important Things,

Tak ada yang salah dalam hal mengkonsumsi suatu produk, yang menjadi masalah adalah konsumsi berlebih tidak sesuai kebutuhan.

Gerakan minimalism yang mulai banyak dianut masyarakat di Amerika adalah sebentuk kesadaran akan perilaku konsumsi berlebih. Kesadaran akan muslihat advertising memikat pada suatu produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Sebuah kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan. Sebuah gerakan melawan kehidupan konsumtif tanpa makna.

Jadi, boleh dibilang gerakan “minimalism” adalah sebentuk tindakan untuk mencapai keseimbangan atas gaya hidup konsumtif.

Salam…
DiPtra

Terpaku SEO

Kebiasaan nembak keyword ala-ala SEO tetap saya lakukan pada tulisan-tulisan lama di blog ini sejak dua tahun lalu. Jumlah kata dalam tiap artikel pun tetap saya pertahankan, minimal 350 kata dalam satu artikel. Memang sih teknik-teknik SEO yang saya terapkan ada hasilnya, beberapa tulisan saya tentang hidup minimalis sempat nangkring di halaman satu pencarian. Tapi saya merasa ada sesuatu yang hilang ketika menulis.

Memang, model tulisan yang sesuai kriteria algoritma mesin pencari bakal cepat ter-index dan berpeluang besar nangkring di halaman satu pencarian. Namun jika personal blog macam ini terlalu terpaku pada aturan standart tulisan SEO, rasanya seperti memburamkan keotentikan karakter dari penulisnya.

Kemudian sejak awal tahun ini, saya bereksperimen menulis dengan lebih santai dan lepas, tidak terlalu memikirkan kaidah-kaidah SEO. Ada rasa bahagia yang hadir ketika menyelesaikan sebuah tulisan. Inilah salah satu alasan saya menggunakan tagline happiness factory, menggantikan tagline enjoying the less dan hidup minimalis yang saya gunakan sebelumnya.

Sarana berbagi dalam bentuk tulisan adalah salah satu usaha untuk memproduksi unsur kebahagiaan. Tentang mindset mematuhi kaidah algoritma mesin pencari, ada satu hal yang ingin saya robohkan, yaitu tentang aturan jumlah minimal kata sebanyak 350 per-artikel.

Jika memang sedang ingin menulis panjang, maka tulis saja sepanjang ide tulisan masih mengalir. Namun jika sedang tidak mood dan hanya ingin menulis pendek, maka tidak perlu dipanjang-panjangkan. Tulis senatural mungkin.

Lagian, dunia ini sudah penuh dengan aturan. Ngapain juga membebani diri dengan aturan-aturan lain yang dirasa memberatkan. Maka bebaskanlah jiwamu sesuai dengan fitrahmu. Begitu juga halnya jiwa dalam sebuah tulisan.

Sangat mungkin sekali isi tulisan ini mengandung kebenaran, tapi kemungkinan kandungan kesalahannya bisa jadi lebih besar. Jika ada typo mohon dimaafkan.

salam…
dia yang sedang menulis 273 kata.