Kesunyian Lebaran

Ingatan saya akan keceriaan dan kegembiraan lebaran semasa kecil tidak terlalu banyak. Momen-momen berkumpul dengan sepupu-sepupu pun tak saya cecap terlalu lama. Setelah berkumpul di rumah mbah kung hingga siang, mulailah sepupu-sepupu saya ikut orang tuanya mudik ke kota tempat tinggal kakek-nenek dari pihak menantu mbah kung saya.

Sedangkan saya bersama adik dan kakak stay di rumah mbah kung. Ayah saya sebagai menantu dari mbah kung, jarang mudik. Mengingat lokasi kampung halaman Ayah yang lumayan jauh di pulau Sumtera. Selain itu durasi liburan sekolah ketika lebaran terlalu singkat jika harus ditukarkan dengan prosesi mudik ke kampung halaman Ayah. Jadilah saya bersama kakak dan adik saya menjadi penjaga kandang di Malang ketika lebaran. Menemani mbah Kung dan mbah Uti menjalani suasana hari-hari lebaran di Malang.

Belum lagi setelah mbah Kung dan mbah Uti saya meninggal di penghujung abad 20. Suasana lebaran yang saya rasakan di Malang semakin sunyi.

Malang sebagai kota pelajar memang ramai oleh pendatang yang menuntut ilmu di universitas atau pun sekolah tinggi yang tersebar di Malang. Namun ketika musim liburan datang seperti lebaran, maka sekonyong-konyong Malang menjadi kota yang begitu sepi.

Ketika malam hanya terdengar suara jangkrik yang di hari-hari biasa suaranya teredam oleh deru kendaraan bermotor. Ketika siang suasana di kampung saya mendadak senyap, hanya terdengar satu dua suara kendaraan berlalu-lalang.

Hingga tujuh tahun lalu, akhirnya saya merasai mudik rutin ke kampung halaman. Iya, sejak tujuh tahun lalu saya merantau ke Ibu kota menjemput jalan rezeki.

Suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman selama di perjalanan mudik mulai saya rasakan. Bertemu dengan kedua orang tua, beserta saudara-saudara.

Semenjak menikah dan memiliki anak, rasa suka cita yang dihadirkan oleh rasa rindu kampung halaman semakin menjadi-jadi. Pasalnya anak dan istri saya menetap di Malang.

Memang rasa rindu itu menyayat-nyayat hati ketika sedang di perantauan. Namun, ketika rasa rindu itu terbayarkan dengan pertemuan, rasanya begitu tak terlukiskan.

Apa hendak di kata, lebaran tahun ini saya merasakan lebaran paling sunyi yang pernah saya alami. Memang saya melepas rindu bersama istri dan anak, namun ada sesuatu yang hilang dalam momen lebaran ini.

Pertama, baru tahun ini saya merayakan lebaran tanpa disertai oleh kedua orang tua. Kedua orang tua saya sedang menjalankan ibadah umroh. Keduanya berangkat sepekan sebelum lebaran dan menghabiskan momen idul fitri di Mekkah selama sepekan.

Praktis di rumah kedua orang tua, saya hanya mendapati adik lelaki satu-satunya. Apalagi kami berdua tidak menyukai formalitas. Jadi tak ada itu basa-basi lebay ucapan idul fitri antara saya dan adik saya. Seperti ada telepati jika kami sudah saling memaafkan, itu pun saya tak pernah merasa adik saya melakukan kesalahan kepada saya. Alhamdulillah walau ketika kecil kami sesekali bertengkar, namun ketika beranjak dewasa kehidupan saya berserta saudara kandung adem ayem saja.

Bulik dan Paklik saya pun yang tinggal di Malang hanya ada dua. Itu pun jarak rumahnya berdekatan, jadi selow saja untuk bersilaturrahim.

Kedua, lebaran tahun 2017 ini benar-benar total jaga rumah. Ibu mertua saya baru saja selesai menjalani opname sepekan menjelang lebaran. Saat ini sedang menjalani masa pemulihan.

Kebetulan saya sebagai anak mantu yang berasal dari Malang, bahkan masih satu Kecamatan. Sedangkan anak mantu lainnya berasal dari luar kota. Jadi saya beserta istri harus mendermakan waktu untuk menemani masa pemulihan Ibu mertua.

Di tahun-tahun sebelumnya, ketika lebaran tiba, keluarga besar istri saya rutin melakukan silaturahim ke kempung keluarga besarnya. Baru tahun ini ketika hari H lebaran tiba, saya beserta istri berdiam diri di rumah saja. Sesekali saudara dari pihak istri saya datang bersilaturrahim dan sekaligus membesuk Ibu mertua yang sedang dalam masa pemulihan.

Belum lagi rumah mertua saya berada di kompleks perumahan yang terbilang sepi. Makin lengkaplah kesunyian lebaran yang saya rasakan tahun ini.

Ternyata suasana sunyi ketika lebaran itu menghadirkan rasa nelongso di hati. Tapi kemudian rasa nelongso yang saya hadapi ini belum ada apa-apanya ketika saya mendapati sebagian orang harus tetap bekerja di masa-masa lebaran ini, seperti pekerja wisata, rumah makan, pom bensin, minimarket dan pelayanan publik lainnya. Salam hormat kepada setiap individu yang menegasikan momen lebarannya demi pelayanan publik.

Salam,
DiPtra


featured image by Tim Marshall on Unsplash
Advertisements

Menjadi Pendiam

Menjadi pendiam itu ternyata menyenangkan juga. Semacam mengurangi interaksi dengan orang lain. Mengurangi interaksi dengan orang lain, secara tidak langsung juga mengurangi potensi salah paham. Salah paham ini nantinya memunculkan potensi masalah yang cukup runyam. Macam kesalahpahaman Nabi Musa A.S terhadap perilaku Nabi Khidir A.S.

Berkurangnya potensi masalah berkorelasi dengan meningkatnya ketenangan hidup. Hidup ayem tentrem tanpa banyak gonjang-ganjing.

Bahkan ketika memutuskan untuk memperbanyak diam saja, masalah masih satu persatu datang menghampiri. Apalagi jika memperbanyak ucap dalam interaksi dengan sesama.

Dengan pemikiran agak nyeleneh ini, saya selama dua pekan ini berangsur-angsur mulai mengurangi interaksi di dunia maya. Untuk media sosial sudah cukup lama saya kurangi intensitas penggunaanya. Namun, untuk aplikasi chatting khususnya pada macam-macam grup Whatsapp yang saya ikuti, interaksi yang saya jalani masih cukup intens.

Maka, selama dua pekan ini saya benar-benar mengurangi interaksi chatting dalam grup Whatsapp. Sejak 2015 sudah cukup banyak grup Whatsapp yang saya ikuti. Apalagi dengan model grup Whatsapp dengan lalu lintas obrolan yang begitu padat. Saya kerap kehilangan jejak pada obrolan Whatsapp dengan lalu lintas yang begitu padat. Mau ikut nimbrung kadang sungkan juga. Apalagi kalo dicuekin, rasanya pedih haha.

Tapi untunglah semenjak baligh dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya sudah biasa dicuekin oleh cewek yang sedang menjadi inceran. Yaa iyalah wong incerannya Marsha Timothy.

Memang benar sih saya sedang merasakan kenyamanan beberapa hari ini ketika memutuskan menjadi sedikit pendiam. Mengurangi banyak cakap. Lagipula saya sedang kehilangan semangat untuk berkomunikasi atau membuka komunikasi dengan orang baru.

Eh menjadi pendiam di dunia maya maksud saya nih yaa. Berlagak menjadi misterius dengan menjadi pendiam. Menjadi pendiam mungkin sering disalahartikan sebagai sifat angkuh. Padahal penyebab seseorang menjadi pendiam sangat beragam.

Tiba-tiba saya kok kepikiran menjadi pendiam ini sebagai salah satu perwujudan puasa dalam hal lisan. Teringat juga akan penyebab tergelincirnya manusia dalam debu-debu perseteruan juga diakibatkan lisan yang tidak terjaga. Lisannya ga disekolahin.
Pada tahap yang lebih parah, banyak manusia terperosok ke lembah neraka dikarenakan lisan. Lisan yang tajam menyayat hati dan perasaan. Luka di permukaan kulit boleh lah menjadi kering dan sembuh dalam jangka waktu tiga hari. Namun luka yang tergores di hati bisa sepanjang hidup menunggu kesembuhan.

Tengoklah percekcokan yang kerap terjadi dalam bahtera rumah tangga. Permasalahan ucapan lisan yang menyayat hati kerap menjadi pemicunya.
Dalam era digital seperti saat ini, lisan memiliki perpanjangan ucap pada jemari tangan. Jika kita mengamati pergerakan topik di media sosial, selalu saja ada kegaduhan yang diperbincangkan. Jika ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakmampuan menahan jemari tangan untuk menuliskan hal-hal pedas.

Coba kita ingat-ingat kembali kisah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang mengulum batu kerikil demi menjaga lisannya. Ketika hendak bercakap-cakap, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq terlebih dahulu mengeluarkan batu kerikil yang ada di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh beliau adalah sebentuk kehati-hatian atas amanah lisan.

Entah apa kira-kira yang bakal dilakukan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq jika mendapati perilaku interaksi manusia di abad digital internet ini. Mengulum guna kerikil guna menjaga lisan tentu tidak relevan dengan kondisi komunikasi bermedium digital seperti saat ini. Puasa dari bentuk-bentuk interaksi digital di internet mungkin bisa menjadi salah satu solusinya.

Berkaitan dengan produktifitas ketika mengurangi aktifitas lisan baik secara offline maupun online, maka saya merasakan peningkatan. Waktu-waktu yang biasanya tersita untuk berinteraksi secara digital terkonversi pada kegiatan lain seperti membaca ataupun menulis. Kebetulan saja saya mempunyai hobi membaca.

Selain itu, dengan memperbanyak diam membuat saya memiliki waktu lebih luang untuk kembali bertafakkur. Sejenak beruzlah dari keriuhan, khususnya keriuhan dari media sosial.

Akhirul kalam semoga tulisan ini tidak terlalu panjang. Jika ada salah kata mohonlah kiranya dimaafkan. Dibukakan keluasan hatinya untuk memaafkan apa-apa yang sudah pernah saya tuliskan selama ngeblog beberapa waktu ini.

Salam,
DiPtra


Featured images by Claudia Soraya on Unsplash

Puasanya Ular, Puasanya Ulat

Setelah hampir menelan paman bulat-bulat, ular python itu akhirnya ditangkap juga. Bersyukur paman tidak kurang satu apa pun ketika dibelit oleh ular python dewasa berukuran jumbo itu.

Setelah ditangkap, ular python itu meringkuk sayu dalam kandang ular dadakan di belakang rumah paman. Sedianya, kandang itu diperuntukkan sebagai tempat ayam bernaung.

Tak terbayang betapa ngerinya ketika paman dililit oleh ular python itu, sebuah pengalaman dzikrul maut yang nyata adanya. Tentu saja lilitan ular python itu masih kalah ngeri dengan lilitan ular spesies hutang luar negri yang membelit negara ini.

Tentu saya hanya menyaksikan seonggok ular python berbadan tambun sedang tertidur. Mungkin ular ini semacam bertapa untuk menjadi manusia seperti kisah legendaris Siluman Ular Putih.

Rupanya beberapa hari sebelum bertapa, ular python itu memakan seekor anak kambing atau ayam. Entahlah saya agak lupa bagian ini, yang jelas ular python itu puasa setelah “pesta besar” memakan daging-dagingan. Nyam-nyam.

Jadi begini, setelah mempelajari pelajaran biologi atau setelah melihat tayangan fauna di NatGeo saya jadi tau bahwa ular pun berpuasa. Rupanya ular berpuasa dalam rangka berganti kulit. Ular harus mengganti kulitnya secara berkala karena tubuh ular yang tumbuh dari waktu ke waktu juga beradaptasi terhadap cuaca untuk menjaga kelembapan kulitnya. Untunglah belum ada spesies ular yang terinspirasi untuk mendirikan pabrik lotion pelembab kulit.

Selepas masa puasa ular puasa untuk berganti kulit, ternyata bentuk ular masih tetap, mungkin hanya mengalami perubahan volume tubuh. Namanya pun masih sama, ular.

Apa yang dimakan pun tak berubah, bahkan cara memakannya pun masih tetap. Cara jalan ular pun masih sama melata di atas bumi dengan perutnya selepas puasa. Dan tabiat ular pun tetap, mematuk dengan licik, menelan mangsanya mentah-mentah.

Lain halnya ketika melihat puasa yang dilakukan oleh ulat. Terjadi perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan oleh ulat.

Bentuk dan nama ulat berubah menjadi kupu-kupu selepas puasa di dalam kepompong. Makanannya pun berubah, dari semula memakan dedaunan dan dianggap sebagai hama, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang menghisap nektar bunga. Sifatnya juga berubah dari tamak terhadap dedaunan menjadi selektif terhadap bunga sekaligus membantu proses penyerbukan bunga.

Hal yang paling ekstrim adalah perubahan dari cara bergeraknya. Ulat yang semula hanya bisa melata,  setelah masa puasa usai menjadi bersayap dan mampu terbang dengan anggunnya.

Dari dua perbandingan model puasa ini bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan model puasa yang dijalani oleh ular, toh sudah sunnatullah-nya ular berpuasa semacam itu. Tak ada perubahan signifikan selepas masa puasa yang dilakukan ular.

Hal yang sama terjadi kepada manusia ketika menjalani puasa. Secara fisik tak ada perubahan signifikan pada manusia selepas menjalani puasa. Paling banter bobot tubuh menjadi turun dan lipatan lemak di perut yang mengendur.

Tapi manusia dikenal dan dikenang bukan dari fisiknya semata. Namun lebih kepada karakter, perilaku, dan amal perbuatannya. Maka dari itu, senyampang fisik kita meniru model puasa ular, paling tidak ruhani kita berpuasa meniru model puasa ulat.

Yang sebelumnya super nggaphlek’i yang menyebalkan dan sak karep’e dhewe, paling tidak berubah menjadi nggaphlek’i yang menyenangkan dan dirindukan. Karena jauh di lubuk hati beberapa teman-teman baik saya, tidak rela jika sisi-sisi ke-nggaphlek’i-an yang saya miliki raib begitu saja.

Tiba-tiba dua bilah sayap nggaphlek’i di punggung saya mulai tumbuh. Sayangnya, bentuknya tak simetris. Sebelah kanan berupa sayap kelabu kelelawar, sebelah kirinya lagi sayap pembalut yang dikenakan ketika malam biar tidak mudah bocor di atas kasur.

Saya ingin puasa menulis, tapi tak sampai lama. Paling tidak hingga lebaran usai. Lebaran tahun 2156. Oke fix saya harus tidur.

Salam…
DiPtra si lelaki nggaphlek’i

Meehh..!!

Akhirnya saya merasai juga perasaan muak yang teramat sangat ketika hendak memulai untuk menulis. Efeknya hingga beberapa hari yang lalu tak ada satu pun tulisan yang ter-publish di blog ini.

Tapi untunglah pekerjaan utama saya bukan penulis. Jadi tak perlu terlalu dirisaukan karena belum ada kaitan dengan ngepul-nya dapur jika saya ujug-ujug muak untuk menulis.

Mungkin saya perlu mengunjungi dokter jiwa untuk menyelesaikan permasalahan ini. Tapi saya khawatir dokter jiwa yang saya kunjungi malah ikutan muak menerima curhatan saya. Toh selama ini dokter jiwa menahan kemuakannya ketika mendengar curhatan pasiennya.

Tapi tenang sajalah, ketika tulisan ini ter-publish di halaman utama blog, berarti saya belum berhenti menulis. Paling tidak saya belum memberikan bendera putih tanda menyerah terhadap rasa muak.

Namun, walau rasa muak ini melanda, saya merasa plong beberapa hari ini. Hmmm, menyenangkan. Seperti mendapatkan suntikan bergalon-galon endorphin di otak.

Demi mengatasi rasa muak ini saya sampai melakukan pelarian dengan menonton film secara marathon kemarin. Dimulai dari jam tiga sore hingga jam sepuluh malam.

Pertama, saya nonton film The Mummy yang dibintangi oleh Tom Cruise. Saya rasa, karakter Tom Cruise yang serius di serial Mission Imposible kurang cocok ketika memainkan peran slengekan Nick Morton. Akting tokoh-tokoh lainnya juga terasa kurang ngeblend. Eh tetapi dari segi susunan cerita, film ini cukup bagus kok. Semoga di sekuel selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Film kedua yang saya tonton adalah Wonder Woman. Gal Gadot pas banget lah memerankan tokoh ini. Sebagai pendatang baru dalam film super hero memang dibutuhkan pemeran baru yang belum identik dengan tokoh apa pun di film lainnya. Dari segi alur sangat bagus sekali walaupun pada akhir cerita saya bisa menebak pola ceritanya. Yaitu mengenai Ares yang menyamar menjadi siapa. Mirip dengan gaya ke-ngglethekan di serial Harry Potter.

Anyway walaupun sudah marathon nonton film di bioskop tidak juga membuat rasa muak untuk menulis hilang begitu saja. Saya muak menulis karena selama tiga pekan terakhir terlalu banyak menulis. Berhalaman-halaman dokumen MS-Word harus saya selesaikan. Alhamdulillah selesai juga.

Kabar baiknya adalah dokumen MS-Word beratus-ratus halaman yang saya tulis itu sudah sampai di tangan penerbit sesuai dengan deadline waktu yang diberikan. Ya saya tinggal menunggu kabar selanjutnya saja dari penerbit.

Tapi sebagai penulis blog karbitan, saya juga tak ingin hanya menyampaikan berita yang baik-baik saja. Saya harus jujur menyampaikan sesuatu apa adanya. Yaitu, di balik berita baik yang dikabarkan, ada berita buruk yang menanti untuk disampaikan.

Berita buruknya adalah, ketika sedang merasa muak saya kerap berhalusinasi. Jadi, beberapa paragraf di atas sebagiannya benar dan sebagiannya adalah halusinasi. Harap dimaklumi ya…

Salam..
DiPtra

Puasa Nafsu, Puasa Jiwa

040617

Bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan untuk mendidik jiwa. Sebelumnya sepemahaman saya, nafsu dan jiwa memiliki definisi yang sama. Hanya saja, ketika berbicara tentang nafsu maka akan lebih memiliki kecenderungan bermakna ego yang memiliki konotasi negatif. Ketika berbicara jiwa maka sepemahaman saya, jiwa memiliki makna yang netral. Bergantung kata sifat yang melekatinya seperti jiwa yang sehat, jiwa yang tenang, jiwa yang sakit.

Setelah membahas puasa mulut, puasa perut dan puasa otak, puasa pikiran maka macam-macam puasa itu memiliki kaitan dengan puasa nafsu atau puasa jiwa. Pada fase pertama puasa mulut, puasa perut bertujuan untuk melemahkan dan menakar ulang kebutuhan akan jasad terhadap makanan.

Penakaran ulang terhadap makanan yang berbentuk pengurangan asupan makanan, ternyata mampu meningkatkan kinerja otak untuk mengingat dan berpikir. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya melalui penelitian yang dilakukan oleh Matt Mattson.

Seperti yang kita ketahui bersama, secara garis besar keinginan nafsu yang berkaitan dengan badan terbagi menjadi tiga macam. Nafsu untuk merasai makanan yang enak, nafsu untuk selalu merasa kenyang dan nafsu untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Ketika puasa, ketiga macam keinginan badani ini dibatasi, dikekang sedemikian rupa. Karena nafsu kerap memperalat tiga macam keinginan ini untuk memuaskan hasratnya hingga melebihi batas. Ketika nafsu tidak dikekang maka dia tidak akan pernah puas menuntut makanan-makanan yang nikmat. Maka rasa kenyang pun menjadi melebihi batas yang semestinya. Perut yang kenyangan akan mendorong kepda kemalasan dan biasanya berujung pada keinginan untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Maka melalui pendidikan terhadap badan dengan puasa, sebenarnya adalah cara untuk melatih nafsu agar menjadi jiwa yang tenang. Selanjutnya dengan nafsu atas keinginan badani yang dibatasi, maka efek yang dirasakan adalah peningkatan kemampuan berpikir dan mengingat. Peningkatan kemampuan berpikir ini akan membuat kita mampu berpikir secara lebih jernih dan obyektif. Sehingga pikiran mampu menuntun jiwa untuk melakukan kebaikan dan memperhalus rasa.

Pada gilirannya nanti, jasad yang sehat disertai dengan pikiran yang sehat sehingga menghasilkan jiwa yang tenang merupakan produk yang diharapkan selepas puasa Ramadhan usai. Karena puasa Ramadhan semata-mata bukanlah puasa yang parsial. Namun puasa Ramadhan adalah puasa yang bersifat holistik yang mampu merangkul kebutuhan manusia akan jasad yang sehat, pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang. Sehingga di penghujung Ramadan nanti kita bisa beridul fitri dengan ketakwaan, insyaa Allah.

Oh iya,beberpa waktu lalu sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada yang bertanya kepada saya tentang target Ramadhan saya tahun ini. Saya berpikir keras apa gerangan target Ramadhan saya tahun ini. Target Ramdhan pada umumnya sih seperti mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali, shalat taraweh berjama’ah selama bulan Ramadhan, berinfaq senilai sekian rupiah, i’tikaf di sepuluh malam terakhir dan sebagainya.

Well, saya tak kunjung menjawab pertanyaan teman saya ini. Karena target puasa Ramadhan saya tahun ini receh sekali, yaitu mencapai bobot badan lima puluh delapan kilogram. Halah, receh bingiiits kan terget Ramadhan saya walau sudah menulis macam-macam jenis puasa yang ndhakik-ndhakik dari tanggal satu kemarin.

Heuheuheu tunggu saja, masih ada postingan ndhakik-ndhakik di hari-hari selanjutnya. Jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tuliskan.

Salam..
DiPtra lelaki ndhakik-ndhakik

Puasa Otak, Puasa Pikiran

030617

Terjadi perlambatan akumulasi amyloid pada otak tikus percobaan dengan melakukan pengurangan asupan nutrisinya. Perlambatan akumulasi amyloid ini adalah hal yang baik, mengingat pada penderita alzheimer didapati akumulasi amyloid dalam jumlah yang cukup banyak. Hasil penelitian ini dikemukakan oleh Matt Mattson dalam sebuah kuliah umum acara TED. Matt Mattson merupakan seorang peneliti tentang penuaan pada suatu institut.

Lebih lanjut, Matt Mattson mengungkapkan bahwa pengurangan asupan nutirisi pada tikus percobaan, mampu meningkatkan kemampuan tikus dalam mengingat. Selain itu, terjadi perlambatan degenerasi otak dalam memproduksi dopamin pada tikus percobaan. Bahkan, dengan pengurangan asupan nutrisi pada tikus percobaan, didapati usia tikus percobaan meningkat 30 hingga 40 persen.

Apa yang dilakukan pada tikus percobaan ini adalah sebentuk simulasi pengaruh kuantitas asupan nutrisi terhadap otak. Hal yang sama bisa juga terjadi bila diterapkan kepada manusia. Sudah menjadi rahasia umum tentang kisah-kisah keajaiban orang-orang yang melakukan puasa. Salah satunya adalah keajaiban puasa dalam meningkatkan kecerdasan.

Penelitian yang dilakukan oleh Matt Mattson bisa dijadikan sebagai bukti empiris bahwa puasa mampu meningkatkan kecerdasan. Dengan berpuasa, kemampuan otak dalam mengingat akan meningkat. Maka dari itu, selain baik untuk kesehatan, puasa juga memiliki manfaat yang sanga besar bagi fungsi kerja otak.

Baiklah semoga paparan singkat mengenai penaruh puasa terhadap fungsi kerja otak ini bermanfaat. Ada baiknya saya akhiri tulisan ini.

Hmmm lalu puasa pikiran seperti yang tertera di judul gimana tuh maksudnya? Yaa entahlah saya kok agak males yaa membahasnya. Mungkin di lain kesempatan yaa. Eeh  karena ini adalah bulan puasa, ga baik membuat orang penasaran.

Selain dilarang untuk mengkonsumsi makanan, minuman, dan rokok ketika berpuasa, aktifitas negatif lainnya juga dianjurkan untuk tidak dilakukan. Ancaman melakukan hal-hal tercela ketika sedang berpuasa adalah berkurangnya keutamaan dan pahala dari puasa yang sedang dijalani. Puasanya hanya mendapatkan lapar dan haus. Minimal sih terjadi pengurangan berat badan, itu pun kalo waktu buka dan sahurnya enggak kalap. Yaa kalo pas buka dan sahurnya kalap alamat deh terjadi peningkatan berat badan selama puasa Ramadhan.

Mari sekrang kita coba gathuk-gathuk-kan antara fakta bahwa puasa meningkatan kemampuan otak untuk mengingat dengan larangan melakukan hal-hal tercela ketika sedang berpuasa. Iyaa saya tau sebagian kaum cerdik cendikia menolak keras falsafah gathuk-menggathukkan ini. Tapi saya ikhlas didepak dari golongan cerdik cendikia hanya karena sedikit menggunakan falsafah gothak-gathuk ini.

Ketika melakukan hal-hal tercela seperti ghibah, ngadu domba, fitnah, debat bin engkel-engkelan, melihat hal yang enggak-enggak, baca atau liat berita enggak bener di internet atau televisi, selama berpuasa bisa jadi hal-hal buruk itu akan lebih menempel di memori otak daripada ketika sedang tidak berpuasa. Karena selama berpuasa otak meningkat kemampuannya dalam mengingat.

Lantas apa sih efek buruk dari otak yang kebanyakan menyimpan hal-hal yang negatif, hal-hal yang buruk? Yaa salah satunya sih efek buruknya bisa dijelaskan dengan (lagi-lagi) analogi teko dan isinya. Deretan data dalam memori dalam otak bagaikan isi teko. Deretan data ini kelak akan menjadi landasan seseorang dalam bertindak maupun dalam merespon suatu kejadian. Katanya motivator-motivator atau coach-coach siih, apa yang terjadi pada diri kita sebenarnya adalah efek dari respon yang kita berikan pada kejadian yang dialami.

Ketika dikritik lalu memberikan respon negatif jadinya malah adu debat saling menjatuhkan. Nyari benernya sendiri. Nyari kelemahan lawan debatnya sampai menyerang terhadap pribadinya bukan argumennya, seperti debat-debat yang pernah saya simak dalam gala twitwar di Twitter dulu. Maka dari itu, seperti kemarin sudah saya sampaikan puasa informasi ada baiknya dilakukan untuk mengurangi potensi terbukanya pintu informasi yang negatif. Bad news is a good news.

Sebagai kesimpulan, maka tidaklah mengherankan ketika berpuasa kita sangat dianjurkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Memeperbanyak sholat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan macam-macam amal shaleh lainnya. Hal ini dilakukan demi memperkuat ingatan dan kesan yang diterima oleh otak akan kegiatan-kegiatan yang baik.

Oke, kali ini benaran saya tutup tulisan saya dengan sebuah pertanyaan, apakah falsafah gathuk-menggathukkan yang saya paparkan barusan ini akan mengeluarkan saya dari kumpulan cerdik cendikia? Hmmm entahlah saya sendiri lupa apakah sudah pernah mendaftarkan diri menjadi anggota cerdik cendikia. Nampaknya saya perlu berpuasa untuk meningkatkan kapasitas memori otak saya.

Salam..
DiPtra si tikus percobaan.

Puasa Informasi

img_5853

Sepekan ini alam begitu mendukung suasana puasa bulan Ramadhan. Baik ketika saya sedang di Malang, maupun ketika sedang berada di Jakarta. Cuaca nampak mendung-mendung sendu. Kalau Malang tidak mengherankan jika bersuasana sejuk. Alhamdulillah Jakarta juga ikut-ikutan sejuk. Entahlah bagaimana dengan keadaan cuaca di lokasi lainnya. Semoga juga ikutan sejuk yaa.

Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan menyapa, saya merasakan Jakarta begitu gerah. Setiap malam hampir bermandikan keringat. Terlebih ketika tidur, bantal terasa anyep.

Cuaca sejuk beberapa hari di bulan Ramadhan ini, semoga membantu menyejukkan suasana gaduh yang sedang terjadi di negri ini. Saya memang sudah lama tak mengikuti perkembangan berita nasional. Tapi abu-abu residu panas perseteruannya masih tetap saya rasakan.

Nampaknya harus beneran menjauhi potensi-potensi paparan residu abu gaduh nasional selama bulan puasa ini. Puasa tarhadap informasi yang sudah mengalami guyuran inflasi.

Oh iya, kelanjutan tulisan tanggal satu kemarin belum saya dapati inspirasi untuk menuliskannya hari ini. Harusnya sih saya nulis tentang puasa otak, puasa pikiran. Tapi yaa kok malah enggak fokus, malah nulis masalah cuaca yang sedang sejuk ini. Kemudian nyambung bahas puasa infromasi. Hmm yaa anggap saja tulisan ini sebagai pengantar dan pemanasan.

Kayaknya sih, untuk mengakomodir keademan selama bulan Ramadhan tahun ini, pengurangan asupan informasi perlu dilakukan. Kan udah setahun lebih nih rakus sama informasi, baik berita nasional, internasional, politik, entertainment, olah raga, gosip artis, teknologi, kriminal, dan sebagainya.

Semacam apatis yaa ga mau tau dengan kondisi negara? huhuehue iya juga sih, jadi semacam mengapatiskan diri. Tapi untuk menghemat energi dan menjaga kewarasan pikiran puasa informasi sekiranya baik, perlu dilakukan.

Puasa informasi bukan berarti sebulan penuh berhenti enggak mengkonsumsi informasi sama sekali. Hanya saja kuantitasnya dikurangi. Mulai dari facebook, twitter, instagram, path, portal berita, line, whatsapp, wordpress mulai saya kurangi penggunaannya. Pada level yang agak sedikit ekstrim, saya menutup sementara akun Facebook dan Instagram.

Sampe kemarin mba Ririen nanyain kenapa kok akun instagram saya raib. Saya jawab aja kalo akun instagram saya ga aktif selama bulan puasa, biar enggak tergoda liat akun-akun IG bening (akun jualan gelas). Halah, padahal kan yaa ga liat instagram akun bening pun, di sekitaran, di jalan-jalan banyak berseliweran makhluk-makhluk bening. Hmm emboh lah, saya masih lelaki normal.

Ngomong-ngomong, apa ya kira-kira manfaat puasa informasi? Saya sudah nulis beberapa paragraf ya kok masih agak buram tujuan puasa informasi apaan. Di awal tadi sih sempat kesinggung kalo manfaat puasa informasi untuk menjaga kekondusifan dan susana adem selama puasa. Kalau puasa Ramadhan kan jelas tujuannya untuk meraih ketakwaan. Lah ini apa bisa kira-kira puasa informasi untuk meraih ketakwaan?

Kayaknya sih bisa, karena puasa informasi bisa mengurangi potensi masuknya informasi-informasi hoax dan berbau ghibah. Lebih tepatnya sih bukan puasa informasi kali yaa, tapi memfilter informasi. Tapi yaa gimana dong, kan ketika proses memfilter itu mau tak mau baca sekilas informasi yang nantinya bakal dikesampingkan.

Entahlah untuk hal ini saya merasa semacam emboh. Mau nyaranin puasa informasi tapi yaa kok kontradiktif, dengan mempublish postingan ini berarti saya memberi godaan untuk memakan informasi yang saya sajikan. Lak mbulet karepe dhewe.

Tadinya saya pingin membuat tulisan akrobatik macam tulisan Cak Nun di buku Tuhan pun Berpuasa. Buku ini buku favorit saya, karena banyak memberikan kedalaman-kedalaman permenungan tetang puasa. Begitu menimati ketika membacanya. Namun ketika mencoba menyintesakannya dengan bahasa sendiri rasanya kok jadi acak kadul. Oh iya, beda pengalaman jaaaauuuuuhhh baaanggeeett sama beliau.

Tapi yaaa kembali lagi puasa informasi ini khusus saya terapkan untuk diri sendiri. Nanti kalo saya ajak-ajak yang lain dan saya bilang bisa meningkatkan iman dan takwa malah dapat tudingan yang aneh-aneh. Daripada kena tudingan aneh-aneh, mending kena tudingan yang ena~ena.

Salam
DiPtra. Mohon maaf bila ada typo dan kalimat yang tidak lengkap 😀

Puasa Perut, Puasa Mulut

img_5835

Puasa menahan lapar dan haus termasuk dalam kasta puasa paling rendah. Sebatas puasa untuk mendidik perut agar kembali menakar ulang tentang rasa lapar. Ibarat timbangan, puasanya perut adalah sebentuk pengkalibrasian jarum timbangan agar tepat berada di titik nol ketika tanpa beban dan pergerakan jarumnya sesuai kadar bebannya.

Maka setelah beberapa hari puasa menahan lapar dan haus pengkalibrasian rasa lapar, kenyang dan cukup mulai terasa kesetimbangannya. Coba perhatikan rasa kenyang yang dirasakan oleh perut ketika memakan santapan takjil. Setelah seharian perut kosong, hanya dengan memakan sajian takjil, dahaga di tenggorokan lenyap dan keroncongan dalam perut mulai senyap.

Sajian takjil biasanya tak lebih dari minuman dan sedikit makanan ringan atau buah-buahan. Yah, sajian takjil paling umum sih berupa teh manis hangat dan beberapa butir kurma. Jika agak sedikit khilaf satu dua buah gorengan ikut menyelinap kedalam mulut.

Puasa selama lima hari ini, saya mulai merasai dampak kalibrasi antara rasa lapar dengan rasa kenyang. Betapa rasa lapar cukup dijinakkan dengan makanan serupa sajian takjil sederhana, tak perlu makanan berat. Bahkan jika berpuka puasa perut langsung dihajar dengan makanan berat, perut akan kelimpungan.

Perut jadi kelimpungan karena setelah seharian diistirahatkan, ujug-ujug disuruh bekerja berat menggiling makanan berat. Alhasil kelimpungan perut didemonstrasikan dalam wujud rasa begah yang dirasakan.

Kejadian perut yang merasa cukup dengan sajian sederhana takjil merupakan indikasi bahwa perut sebenarnya tidak terlalu banyak menuntut. Asal perut diisi, dan mulai berfungsi untuk menggiling material mentah energi. Perut tidak bisa membedakan antara makanan sederhana dengan makanan mewah.

Jadi, fungsi puasa bagi perut adalah untuk kembali mengkalibrasi takaran antara rasa lapar dengan kenyang. Juga berfungsi untuk menyadari kembali bahwa kebutuhan perut sangatlah sederhana. Asal diisi dia akan diam, tak lagi ribut berdemonstrasi.

Selanjutnya meningkat perihal puasa mulut. Puasa berfungsi untuk memperkuat jalinan kasih sayang antara perut dan mulut. Ini maksudnya bagaimana?

Jadi begini, penyebab perut buncit berlebihan gelambir lemak sebenarnya lebih disebabkan oleh mulut. Perut hanya mengolah input makanan yang diterimanya. Jadi perut yang mulai membuncit selain disebabkan oleh perlambatan kecepatan metabolisme tubuh karena faktor usia, juga disebabkan oleh miskomunikasi antara mulut dengan perut.

Perut hanya mampu menampung dan mengolah makanan dalam kapasitas tertentu. Perut memiliki batasan. Sedangkan mulut yang berfungsi sebagai pengolah awal dan pintu masuk makanan tidak memahami batasan ruang. Parameter yang dikenal oleh mulut adalah rasa-rasa makanan. Rasa makanan yang diterjemahkan mulut sebagai rasa gurih, manis, asin, asam, dan pahit yang dikandung makanan adalah parameter yang dikenal oleh mulut. Rasa-rasa makanan itu didefinisikan oleh mulut kedalam logika biner enak dan tidak enak. Sesederhana itu.

Sekali lagi, mulut tidak mengenal batasan ruang. Walaupun ketika makan, mulut hanya muat menampung sesuap atau dua suap makanan dalam satu waktu. Namun, durasi makanan ada di dalam mulut cukup singkat. Kecepatan makanan di dalam mulut hanya terdiri dari beberapa orde kunyahan saja.

Sebelum berbuka puasa, kita suka lapar mata yang juga disebabkan oleh mulut. Mulut menuntut rasa-rasa makanan yang enak untuk dia rasakan. Karena mulut tidak mengenal batasan ruang, maka mulut menuntut jenis makanan enak sebanyak-banyaknya untuk disiapkan untuk berbuka puasa. Namun ketika berbuka puasa yang terjadi malah hal sebaliknya. Ketika berbuka, hanya dengan memangsa satu dua jenis sajian takjil, mulut sudah merasa cukup.

Rasa cukup ini juga dipengaruhi oleh jalur komunikasi antara perut dan mulut yang mulai lancar. Sedikit demi sedikit miskomunikasi antara keduanya direduksi. Jika mulut kalap mengunyah terlalu banyak makanan, maka perut akan berdemonstrasi kebegahan ketika berbuka.

Maka puasa juga berfungsi mengkalibrasi parameter rasa enak yang dikenalinya. Karena ketika perut lapar setelah seharian berpuasa, makanan sederhana jenis apa pun biasanya terasa sangat nikmat. Walau ketika berpuasa seolah-olah mulut mampu mengunyah segala macam makanan nikmat yang tersedia, namun pada kenyataannya tidak demikian. Jadi puasa berfungsi untuk menyederhankan rasa enak yang dikenali oleh mulut.

Jadi puasa perut dan puasa mulut merupakan sebentuk kalibrasi terhadap parameter-paremeter yang dikenalinya agar bekerja sesuai nilai nominalnya. Agar perut dan mulut bekerja dalam batas kewajarannya. Kewajaran proses kerja perut dan mulut akan menuntun kepada kondisi ideal tubuh, yaitu sehat tak kunjung disapa sakit.

Kamu boleh percaya boleh tidak terhadap bualan yang saya sampaikan ini, senyampang ini hanyalah pendapat pribadi atas pengalaman empiris ketika berpuasa. Maka bukan kewenangan saya untuk menuntut hal yang sama ketika kamu berpuasa. Namun jangan terhenti pada batasan puasa mulut dan perut. Karena dawuh Kanjeng Nabi menyatakan bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa lapar dan haus.

Bahkan menurut hemat saya, puasa yang hanya mendapatkan rasa lapar dan haus itu tidak sampai kepada tahap mengkalibrasi ulang parameter perut dan mulut. Lantas apa kira-kira penyebabnya? Hmm harap bersabar yaa, insyaa Allah saya sampaikan pada tulisan berikutnya. Mengingat pagi ini organ pencernaan saya mulai memberikan alarm untuk segera mengeluarkan muatan sisa konsumsi buka puasa kemarin sore.

Demikan uraian yang agak sedikit berbau bualan dari saya terkait puasa perut, puasa mulut. Selamat melaksanakan ibadah puasa hari ke enam. Semoga berkah puasanya hingga akhir Ramadhan.

Salam..
dia si tukang bual sok ilmiah

Renungan Ba’da Shubuh

IMG_5673

Dari percakapan sebuah grup whatsapp, ada pesan singkat yang cukup menohok hati dan pikiran dari salah satu teman anggota grup. Renungan tentang kedekatan umat Islam terhadap Al-Qur’an. Renungan singkat yang dilakukan ba’da Shubuh. Pesan singkat dari teman tersebut seperti tulisan di bawah ini dengan redaksi yang sudah sedikit saya modifikasi.

Ada salah seorang jama’ah bertanya kepada seoarang ustadz mengenai kedekatan umat terdahulu terhadap Al-Qur’an. Kemudian ustadz tersebut menjawab bahwa kedekatan umat terdahulu terhadap Al-Qur’an seperti halnya kedekatan umat jaman sekarang dengan handphone.

Jedddueeng nasihat ini kontan saja menyentil kesadaran saya dan membuat malu semalu-malunya karena benar adanya. Interaksi saya terhadap Al-Qur’an kalah jauh jika dibandingkan interaksi saya terhadap handphone. Padahal ada aplikasi Al-Qur’an di handphone saya, namun saya lebih sering membuka Whatsapp atau aplikasi lainnya.

Benarlah nasihat yang dituliskan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Latha’iful Minan, bahwa,

Dunia yang sedikit ini membuat kita lupa terhadap akhirat yang banyak.

Salam..
DiPtra

Metafora Cahaya

IMG_5670

Ketika membaca Al-Qur’an saya suka sekali ketika mendapati penggunaan metafora cahaya. Seperti metafora cahaya di atas cahaya. Tentu ada beragam tafsir mengenai metafora cahaya ini.

Metafora cahaya bisa bermakna ilmu, hidayah, pencerahan pikiran dan sebagainya. Lantas metafora cahaya di atas cahaya itu seperti apa kira-kira maknanya? Hmm entahlah, saya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menafsirkannya.

Ilmu fisika modern menemukan bahwa cahaya memiliki sifat dualitas1. Teori Dualitas Partikel-Gelombang, di mana cahaya dianggap sebagai partikel sekaligus sebagai gelombang.

Lalu kembali kepada metafora cahaya di atas cahaya, jika cahaya tampak yang kita lihat memiliki sifat dualitas, maka bisa jadi cahaya di atas cahaya bukan termasuk dalam partikel ataupun gelombang. Cahaya yang melewati ruang-ruang dimensi materialisme. Pencerahan-pencerahan.

Salam..
DiPtra